Menperin Sarmuji Apresiasi Petrokimia Gresik Kembangkan Teknologi CCU

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta -

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengapresiasi PT Petrokimia Gresik (Persero) nan mengembangkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) sebagai bagian upaya mendorong penerapan industri hijau di Indonesia. Teknologi itu memungkinkan karbon dioksida (CO₂) hasil proses industri ditangkap dan dimanfaatkan kembali menjadi produk berbobot ekonomi.

Sarmuji menilai proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik menjadi langkah krusial dalam pengembangan industri ramah lingkungan di Tanah Air. Ia berambisi pengembangan teknologi tersebut bisa membuka kesempatan penerapan nan lebih luas pada sektor industri lainnya.

"Ini bakal menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri nan menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini bakal kita sebarluaskan lantaran proyek percontohan ini menghasilkan faedah nan besar," ujar Sarmuji usai meninjau perkembangan proyek percontohan (pilot project) teknologi CCU di Gresik, Jawa Timur, dilansir detikJatim, Sabtu (17/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri nan tergabung dalam holding PT Pupuk Indonesia (Persero), berpotensi menjadi pelopor penerapan teknologi CCU di Indonesia. Proyek ini merupakan hasil kerjasama Kementerian Perindustrian, Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. Proyek itu menjadi bagian dari upaya pengembangan teknologi pengurangan emisi serta membuka kesempatan peningkatan nilai ekonomi melalui pemanfaatan karbon hasil proses industri.

Sarmuji mengatakan teknologi CCU memungkinkan karbon dioksida dari proses industri ditangkap dan dimanfaatkan kembali menjadi produk berbobot ekonomi, salah satunya soda ash alias natrium karbonat. Dari hasil pertimbangan proyek percontohan, teknologi tersebut mencatat efisiensi penangkapan CO₂ sebesar 91,48 hingga 97,79 persen. Sedangkan, pada pengetesan kedua Mei 2026 menghasilkan soda ash dengan kadar natrium karbonat (Na₂CO₃) mencapai 99,12 hingga 99,73 persen, nan berasas pertimbangan teknis dinyatakan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989.

Ia mengatakan teknologi CCU punya potensi memberikan faedah dobel bagi industri, ialah mendukung penurunan emisi karbon serta menghasilkan produk berbobot ekonomi. Potensi itu menjadi kesempatan bagi industri untuk menjalankan dekarbonisasi tanpa semata-mata memandang penerapan teknologi ramah lingkungan sebagai tambahan biaya. Namun, pengembangan menuju skala industri tetap memerlukan pertimbangan lebih lanjut.

"Tentu kudu kita pertimbangan terus-menerus agar ini bisa bertindak sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita bakal punya roadmap ke sana," jelasnya.

Baca selengkapnya di sini.

(amw/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑