Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian menghadapi tantangan besar pada 2027. Di tengah sasaran pertumbuhan industri manufaktur nan ditetapkan pemerintah, pagu sugestif kementerian justru mengalami penurunan signifikan.
Padahal sektor industri tetap menjadi penggerak dalam pembangunan ekonomi nasional dan hilirisasi.
"Kami mendukung penyelenggaraan prioritas nasional melalui beragam agenda utama antara lain hilirisasi komoditas prioritas, pengembangan industri strategis, penguatan industri legal dan UMKM halal, transformasi industri digital, efisiensi sumber daya, serta program dekarbonisasi industri menuju industri hijau," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (10/6/2026).
Pemerintah telah menetapkan sejumlah sasaran bagi sektor manufaktur pada 2027, ialah mencakup pertumbuhan industri pengolahan, peningkatan investasi, ekspor manufaktur, hingga pembuatan lapangan kerja. Namun di anggaran nan ada justru semakin menyempit.
Rapat Kerja Kemenperin dengan Komisi VII di DPR RI, Rabu (10/6/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Rapat Kerja Kemenperin dengan Komisi VII di DPR RI, Rabu (10/6/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
"Pada tahun 2027 kami memperoleh pagu sugestif sebesar Rp 2,01 triliun alias turun sebesar Rp 488,16 miliar setara 19,5% dibandingkan pagu awal tahun 2026," ujar Agus.
Penurunan anggaran semakin berat lantaran porsi shopping pegawai dan operasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Akibatnya, alokasi nan dapat digunakan untuk program pengembangan industri menjadi semakin terbatas.
"Kalau kita lihat dari tahun 2023 hanya 25%, jika kita lihat dari anggaran sugestif 2027 meningkat ke 73,19%. Artinya shopping non-operasional nan sebelumnya 74,365 turun menjadi sekitar 26,81 persen," jelasnya.
Karena itu Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran kepada pemerintah dan DPR. Tambahan anggaran bakal digunakan untuk restrukturisasi mesin industri, penguatan IKM, hilirisasi sumber daya alam, pendidikan vokasi, hingga pengembangan sistem info industri.
"Oleh lantaran itu kami mengusulkan kebutuhan tambahan anggaran sebesar Rp 1,59 triliun untuk memperkuat penyelenggaraan program-program prioritas nan berakibat langsung bagi peningkatan produktivitas, daya saing, program hilirisasi, penguatan industri mini menengah, pengembangan sumber daya manusia industri, serta transformasi industri nasional," terang Agus.
(fys/wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·