Menperin Fokus Industrialisasi untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi 2027

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan keynote speech pada aktivitas kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi industrialisasi nasional sebagai salah satu instrumen utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi nan berkualitas, menciptakan lapangan kerja, memperkuat kemandirian ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan pengarahan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026, Jumat (14/8).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pesan Presiden mengenai pentingnya pertumbuhan ekonomi dan investasi nan memberikan faedah nyata bagi masyarakat semakin mempertegas posisi sektor industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

“Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Setiap investasi kudu bisa menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan kudu memperbaiki kehidupan masyarakat. Bagi Kementerian Perindustrian, pengarahan ini semakin memperkuat tekad kami untuk menjalankan industrialisasi nan inklusif, berkekuatan saing, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri,” kata Agus dalam keterangannya, Minggu (16/8).

Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa di tengah bentrok geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, serta tekanan ekonomi global, Indonesia kudu semakin bisa berdiri di atas kaki sendiri. Presiden juga menyampaikan bahwa realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Sementara pada semester I 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp 1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

Menurut Menperin, pesan mengenai kemandirian tersebut sangat relevan dengan agenda pembangunan industri nasional. Sebab, industri nan kuat bakal mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, memperdalam struktur industri, meningkatkan penguasaan teknologi, memperkuat rantai pasok domestik, serta menghasilkan produk berbobot tambah tinggi.

“Dalam situasi dunia nan penuh ketidakpastian, kita tidak boleh terlalu berjuntai kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional. Karena itu, kita kudu membangun struktur industri nan semakin dalam dan terintegrasi dari hulu sampai hilir. Indonesia kudu bisa mengolah sumber daya nan kita miliki menjadi produk industri berbobot tambah tinggi di dalam negeri,” ujar Agus.

instagram embed

Menperin menilai, arah kebijakan tersebut telah menunjukkan hasil positif. Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II-2026 industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 5,32 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode nan sama sebesar 5,29 persen.

Selain tumbuh lebih tinggi dari ekonomi nasional, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga tetap menjadi kontributor terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia. Industri pengolahan juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

“Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden nan memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan akibat nan konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya bisa melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menjadi modal nan sangat krusial untuk terus memperbesar peranan industri sebagai motor penggerak ekonomi,” tutur Menperin.

SBIN Perkuat Arah Industrialisasi

Agus menjelaskan, pengarahan Presiden tersebut diterjemahkan Kementerian Perindustrian melalui penerapan Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi ini diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional, mempercepat hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, meningkatkan produktivitas dan daya saing, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Menurut Menperin, industrialisasi nan dijalankan pemerintah tidak hanya berorientasi pada peningkatan nomor pertumbuhan, tetapi juga memastikan semakin banyak nilai tambah ekonomi nan tercipta dan dinikmati di dalam negeri.

“Industrialisasi kudu menghasilkan multiplier effect nan luas. Ketika sebuah industri tumbuh, nan berkembang bukan hanya pabriknya. Ada tenaga kerja nan terserap, pemasok bahan baku dan komponen nan tumbuh, IKM nan masuk ke rantai pasok, aktivitas logistik nan meningkat, teknologi nan berkembang, hingga ekspor nan semakin kuat,” jelasnya.

video story embed

Kinerja positif industri nasional saat ini juga tercermin dari sejumlah parameter aktivitas manufaktur. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada pada level 52,31, nan menunjukkan kondisi ekspansi. Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2, sedangkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 mencapai 53,10. Ketiga parameter tersebut menunjukkan aktivitas industri nasional tetap berada pada area ekspansif.

“Ini memperlihatkan bahwa pelaku industri tetap mempunyai optimisme terhadap prospek usaha. Pemerintah kudu menjaga momentum tersebut melalui kebijakan nan memberikan kepastian usaha, memperkuat pasar domestik, meningkatkan investasi, serta menciptakan suasana industri nan semakin kompetitif,” ungkap Agus.

Pertumbuhan IPNM pada triwulan II-2026 juga ditopang oleh sejumlah subsektor strategis. Industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,51 persen, sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik dan ekspor.

Sementara itu, industri peralatan logam, komputer, peralatan elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan sebesar 8,04 persen, didukung peningkatan permintaan dunia terhadap komponen elektronik, baterai, serta beragam peralatan listrik. Adapun industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh sebesar 4,99 persen, antara lain lantaran meningkatnya permintaan domestik terhadap bahan kimia dan produk turunannya.

Hilirisasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Menperin juga menyambut pengarahan Presiden untuk terus mempercepat hilirisasi sumber daya alam. Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa untung BUMN digunakan untuk mempercepat hilirisasi, termasuk melalui peletakan batu pertama 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026 dan 13 proyek lainnya pada 29 April 2026.

Proyek tersebut antara lain mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, serta pengolahan alumina menjadi aluminium. Presiden menekankan proyek-proyek tersebut menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja baru.

Menurut Agus, hilirisasi kudu terus diperluas sehingga tidak berakhir pada pengolahan komoditas menjadi produk antara. Hilirisasi perlu diarahkan hingga menghasilkan produk akhir berbobot tambah tinggi dan memperkuat ekosistem industri nasional.

“Hilirisasi kudu kita bawa semakin dalam. Semakin panjang rantai nilai nan dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah nan tinggal di dalam negeri dan semakin banyak pula kesempatan kerja nan dapat kita ciptakan. Inilah prinsip industrialisasi nan sedang kita bangun,” tegas Menperin.

Hal tersebut sekaligus sejalan dengan penegasan Presiden bahwa setiap rupiah investasi kudu bisa menciptakan pekerjaan. Kemenperin mencatat, berasas info Mei 2026, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 13,53 persen terhadap penyerapan tenaga kerja nasional, dari total masyarakat bekerja sebanyak 148,19 juta orang.

Agus menekankan, pembuatan lapangan kerja menjadi salah satu pertimbangan krusial dalam pengembangan sektor industri. Oleh lantaran itu, Indonesia memerlukan investasi nan tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi, memperkuat rantai pasok domestik, menggunakan produk dalam negeri, mengembangkan sumber daya manusia, serta membuka kesempatan kerja.

“Kami mau investasi nan masuk memberikan akibat ekonomi seluas-luasnya. Investasi kudu menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri nasional, bukan berdiri sebagai enclave nan tidak terkoneksi dengan industri dalam negeri,” katanya.

Menperin menambahkan, kemandirian ekonomi sebagaimana ditekankan Presiden juga memerlukan penguatan pasar domestik. Dengan jumlah masyarakat nan besar, Indonesia mempunyai pasar nan sangat potensial dan kudu dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh industri nasional.

Data menunjukkan konsumsi masyarakat tetap tumbuh, salah satunya tercermin dari nilai impor peralatan konsumsi nan meningkat sebesar 27,15 persen secara tahunan. Menurut Agus, kondisi tersebut di satu sisi menunjukkan permintaan domestik tetap kuat, tetapi di sisi lain menjadi sinyal bahwa keahlian industri nasional dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri tetap perlu diperkuat.

“Kita mempunyai pasar domestik nan sangat besar. Jangan sampai peningkatan konsumsi masyarakat justru lebih banyak dinikmati oleh produk impor. Momentum pertumbuhan permintaan kudu kita manfaatkan untuk memperbesar produksi industri nasional,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah perlu semakin memperkuat kebijakan perlindungan terhadap industri dalam negeri, termasuk industri penyedia bahan baku dan komponen. Penguatan struktur industri diperlukan agar kebutuhan pasar domestik dapat semakin banyak dipenuhi dari produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Menperin juga mencermati bahwa pada triwulan II-2026, komponen net ekspor tetap memberikan andil negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut menjadi pengingat krusial untuk terus meningkatkan daya saing produk industri nasional, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat substitusi impor.

“Karena itu, agenda penguatan industri dalam negeri kudu melangkah dari dua sisi sekaligus. Pertama, memperbesar keahlian industri nasional memenuhi pasar domestik. Kedua, meningkatkan daya saing agar produk manufaktur Indonesia semakin kuat menembus pasar global,” jelas Agus.

Perluas Rantai Pasok Global

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengunjungi salah satu booth pameran kendaraan saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (30/7/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Menperin juga menyoroti pernyataan Presiden mengenai pentingnya diplomasi ekonomi nan dapat membuka pasar bagi produk Indonesia, membawa investasi dan teknologi, serta menciptakan lapangan pekerjaan.

Presiden menyampaikan bahwa saat ini sebanyak 25 perjanjian perdagangan telah diimplementasikan, termasuk lima perjanjian perdagangan baru nan mulai diimplementasikan dalam satu tahun terakhir. Selain itu, terdapat dua perjanjian dalam proses ratifikasi, 13 perjanjian dalam proses perundingan, dan dua lainnya menunggu agenda penandatanganan.

Menurut Agus, ekspansi akses pasar tersebut kudu dimanfaatkan secara optimal oleh sektor manufaktur nasional. “Perjanjian perdagangan kudu kita manfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur berbobot tambah, bukan sekadar memperbesar perdagangan komoditas mentah. Industri nasional kudu semakin dalam masuk ke rantai pasok global,” ujarnya.

Kemenperin juga memandang krusial pesan Presiden mengenai upaya memperoleh teknologi, manajemen, dan akses pasar internasional sehingga Indonesia dapat semakin terintegrasi dalam rantai pasok dunia.

Menurut Menperin, transformasi teknologi menjadi salah satu prasyarat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional. Karena itu, investasi nan membawa transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, serta keterlibatan industri domestik bakal menjadi semakin strategis.

“Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia kudu menjadi pedoman produksi, pedoman inovasi, dan bagian krusial dari rantai pasok dunia. Untuk mencapainya, kita memerlukan industri nan produktif, efisien, inovatif, hijau, dan didukung SDM industri nan kompeten,” katanya.

Menperin menegaskan, Kementerian Perindustrian bakal terus mengawal pengarahan Presiden melalui kebijakan pro-industri nan bisa memperkuat manufaktur nasional. Implementasi SBIN bakal terus dipercepat dengan mengedepankan penguatan struktur industri, hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, pengembangan industri hijau, peningkatan kualitas SDM, serta ekspansi pasar domestik dan ekspor.

“Pesan Bapak Presiden sangat jelas bahwa Indonesia kudu semakin bisa berdiri di atas kaki sendiri. Bagi kami, salah satu fondasi utama untuk mewujudkannya adalah industri nasional nan kuat dan berdaulat. Karena itu, momentum pertumbuhan manufaktur nan saat ini sudah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional kudu terus kita jaga dan tingkatkan,” tegas Agus.

“Industrialisasi bukan semata-mata tentang membangun pabrik. Industrialisasi adalah tentang menciptakan nilai tambah, membangun kemandirian, menguasai teknologi, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan Indonesia memberikan faedah sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” pungkas Menperin.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan