"Belajar itu bukan untuk sekolah, tapi untuk hidup," begitu bunyi pepatah Latin kuno. Namun, jika kita memandang potret pendidikan di Indonesia hari ini, rasanya pepatah itu berbanding terbalik. Pendidikan kita seolah sedang "mati suri" di tengah hingar bingar semboyan teknologi dan pergantian nama kurikulum. Sebagai mahasiswa nan berada di dalam sistem, susah untuk tidak merasa resah memandang kualitas sumber daya manusia (SDM) kita nan terus merosot.
Data PISA ( Programme for International Student Assessment ) terbaru nan menempatkan keahlian literasi dan numerasi siswa Indonesia di ranking bawah bumi bukan sekadar nomor statistik. Itu adalah sirine keras. Kita sedang menghadapi krisis logika nan nyata, di mana gelar sarjana semakin banyak, tapi keahlian memecahkan masalah ( problem solving ) justru semakin langka.
Penjara Administrasi dan Hilangnya Ruh Mendidik
Akar masalah pertama nan sangat terasa adalah gimana birokrasi telah "menjajah" ruang kelas. Guru dan dosen, nan semestinya menjadi katalisator pikiran, sekarang justru lebih mirip pekerja administrasi. Fokus mereka terpecah untuk mengisi aplikasi kinerja, mengejar centang hijau di sistem, dan memenuhi laporan berkas nan tak kunjung usai.
Ketika pendidik lebih takut pada pemimpin alias aplikasi daripada kegagalan siswa dalam memahami konsep, di situlah pendidikan kita kehilangan ruhnya. Kita tidak bisa mengharapkan lahirnya generasi kritis jika para pengajarnya saja sudah kehabisan daya hanya untuk urusan administratif. Transformasi digital semestinya memudahkan, bukan malah menambah beban kerja nan sifatnya hanya formalitas.
Jebakan IPK dan Mentalitas Jalan Pintas
Sebagai mahasiswa, saya memandang adanya pergeseran orientasi nan mengkhawatirkan. Kita terjebak dalam budaya "pemujaan nilai". Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi menjadi tujuan utama, tak peduli apakah proses mendapatkannya dilakukan dengan jujur alias sekadar mengandalkan support AI tanpa filtrasi logika.
Sistem kita tetap sangat mendewakan hafalan. Kita dipaksa tahu "apa" (what), tapi jarang diajak membedah "mengapa" (why) dan "bagaimana" (how). Akibatnya, kita melahirkan lulusan nan mahir menjawab soal pilihan ganda, namun gagap saat dihadapkan pada realitas sosial nan kompleks. Pendidikan kita condong mencetak "robot hafalan" nan siap kerja, bukan "manusia pemikir" nan siap mengubah keadaan.
Solusi: Kembali ke Esensi, Bukan Sekadar Selebrasi
Memperbaiki pendidikan tidak cukup hanya dengan membagikan ribuan laptop alias mengganti istilah-istilah dalam kurikulum setiap lima tahun sekali. Kita butuh langkah radikal nan menyentuh substansi:
1. Dekonstruksi Birokrasi: Merdekakan pembimbing dan pengajar dari beban administratif nan berlebihan. Berikan mereka ruang untuk berinovasi dan kembali ke khitahnya sebagai pendidik, bukan operator data.
2. Kurikulum Berbasis Nalar: Fokus pada penguatan literasi dasar dan logika. Lebih baik memahami sedikit konsep namun mendalam dan aplikatif, daripada tahu banyak perihal tapi hanya di permukaan.
3. Pemerataan Akses Kualitas: Berhenti berfokus hanya pada sekolah-sekolah di kota besar. Indonesia Emas tidak bakal tercapai selama akomodasi pendidikan di pelosok tetap dianggap sebagai "anak tiri".
Penutup
Kita tidak mau "Indonesia Emas 2045" hanya berhujung sebagai semboyan politik nan tawar di atas poster-poster pejabat. Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung sekolahnya, melainkan oleh seberapa tajam logika manusia di dalamnya.
Pendidikan kudu dikembalikan fungsinya sebagai instrumen pembebasan pikiran, bukan sekadar jalur sigap mendapatkan sertifikat alias ijazah. Saatnya kita jujur pada diri sendiri: jika kita terus membiarkan pendidikan kita merosot lantaran formalitas administratif, maka kita sedang melangkah menuju kegelapan masa depan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·