Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan (Menko Zulhas) meninjau langsung penyaluran pupuk bersubsidi di Banyuwangi, Jawa Timur nan telah melangkah lancar. Pemantauan tersebut dilakukan melalui aktivitas "Rembuk Tani" di Desa Karangbendo, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi, pada Kamis (14/5/2026) lalu.
Zulhas mengaku telah mendapat pengarahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan pengedaran pupuk bersubsidi melangkah baik di lapangan. Berdasarkan hasil pengecekan, pengedaran pupuk dinilai lancar dan memberikan faedah nyata bagi petani.
"Saya diminta Presiden untuk mengecek pupuk. Alhamdulillah pupuk lancar, nilai juga mendapat potongan nilai 20 persen," ujar Zulhas dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Tinjauan lapangan ini ditujukan untuk memandang langsung penerapan dari kebijakan baru pemerintah dalam tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi. Di antaranya adalah penyederhanaan izin dari 145 patokan menjadi satu peraturan induk, ialah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, kemudian disempurnakan dengan Perpres 113/2025. Selain itu, terdapat juga Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 15 Tahun 2025 sebagian peraturan pelaksanaannya.
Melalui upaya penyederhanaan ini, pupuk bersubsidi sudah bisa ditebus sejak awal tahun, alias sudah bisa didapatkan sebelum petani memulai tanam. Alhasil, produktivitas pertanian meningkat.
Melalui penyederhanaan ini, pupuk bersubsidi sudah bisa ditebus sejak awal tahun. Dengan kata lain, sudah bisa didapatkan sebelum petani memulai tanam, sehingga produktivitas pertanian meningkat.
Perubahan lain nan telah dilakukan pemerintah ialah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sejak Oktober 2025 sebesar 20 persen. Penurunan pertama HET dalam sejarah subsidi pupuk ini bertindak untuk semua jenis pupuk bersubsidi.
Menurut Zulhas, kelancaran pengedaran pupuk dan kebijakan nilai nan lebih terjangkau berakibat positif terhadap kesejahteraan petani. Hal itu tercermin dari meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional.
"Nilai tukar petani naik. Tahun lampau berada di nomor 116, sekarang menjadi 125. Artinya petani kita lebih makmur," lanjutnya.
Zulhas menegaskan, pemerintah terus berkomitmen menjaga kesiapan pupuk bersubsidi, memperkuat sektor pangan nasional, serta memastikan petani memperoleh akses sarana produksi dengan mudah dan terjangkau. Kegiatan Rembuk Tani di Banyuwangi juga menjadi ruang perbincangan antara pemerintah dan petani guna menyerap aspirasi serta memastikan beragam program pangan melangkah efektif di daerah.
Sementara itu, Direktur Utama Petrokimia Gresik, personil holding Pupuk Indonesia, Daconi Khotob menyampaikan terima kasih atas support pemerintah terhadap keahlian Pupuk Indonesia berbareng grup dalam menyalurkan pupuk bersubsidi lebih efisien. Kemudahan-kemudahan nan diberikan pemerintah untuk petani, ungkapnya, menjadikan penyerapan pupuk bersubsidi lebih optimal.
Khusus untuk Provinsi Jawa Timur, tambahnya, Pemerintah tahun 2026 mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 2.038.387 ton. Angka ini terdiri dari Urea 1.005.145 ton, NPK Phonska 884.868 ton, NPK Khusus Kakao 255 ton, pupuk organik Petroganik 114.309 ton, ZA 10.987 ton, dan SP-36 sebanyak 22.823 ton.
Sedangkan untuk Banyuwangi, alokasi pupuk bersubsidi nan ditetapkan pemerintah tahun 2026 sebesar 90.096 ton. Angka ini terdiri Urea 47.401 ton, NPK Phonska 42.035 ton, dan pupuk organik Petroganik 652 ton, serta pupuk ZA sebanyak 7 ton.
Adapun pelunasan nan telah dilakukan petani Jawa Timur pada awal tahun ini cukup tinggi, ialah 866.215 ton. Realisasi penyaluran hingga 12 Mei 2026 ini sekitar 42,5 persen dari alokasi.
Persentase pelunasan lebih tinggi terjadi di Banyuwangi. Petani Banyuwangi di periode nan sama telah menyerap pupuk bersubsidi sebesar 51,8 persen. Atau sekitar 46.685 ton.
"Serapan awal tahun ini cukup tinggi. Hal ini tidak lepas dari kemudahan-kemudahan nan diberikan Pemerintah melalui perubahan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi," ujar Daconi.
Untuk mendukung penyerapan lebih optimal, Pupuk Indonesia juga menyiapkan stok pupuk bersubsidi di Jawa Timur sebanyak 147.643 ton. Stok per tanggal 13 Mei 2026 ini terdiri dari Urea 88.273 ton, NPK Phonska 27.691 ton, NPK Khusus Kakao 318 ton, organik 11.609 ton, dan ZA 2.778 ton, serta SP-36 16.973 ton.
Di sisi lain, kesiapan pupuk bersubsidi di Banyuwangi saat ini sebanyak 3.357 ton, ialah Urea 2.224 ton, NPK Phonska 1.108 ton, NPK Khusus Kakao 22 ton, dan ZA 3 ton.
Kelancaran penyaluran bersubsidi dibenarkan langsung oleh petani Banyuwangi, Muhammad Saidi, nan datang dalam Rembuk Tani. Ia mengungkapkan saat ini tidak ada keluhan dari petani di Banyuwangi mengenai kesiapan pupuk bersubsidi.
"Semua lancar, dulu nan sering dikeluhkan lantaran pupuk tidak ada saat dibutuhkan, sekarang semua lancar," tandas Saidi.
(rah/rah)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·