Namun, upaya penanganan korban tetap menghadapi sejumlah hambatan di lapangan. Salah satunya keterbatasan akses dan sumber daya manusia tenaga kesehatan.
“Beberapa akomodasi kesehatan betul-betul enggak bisa operasional lantaran SDM-nya nggak ada untuk masuk ke desa-desa. Sehingga ada banyak pasien-pasien nan sebenarnya kategori merah tetapi dirawat berdikari di rumah-rumahnya,” jelas Budi.
Selain keterbatasan tenaga kesehatan, Budi menyebut aspek budaya juga menjadi tantangan dalam penanganan korban.
Sebagian masyarakat di NTT, kata dia, tetap lebih percaya pada pengobatan tradisional dibandingkan jasa medis.
“Ada juga rumor kedua, budaya di NTT itu mereka tetap percaya ke tradisional. Jadi banyak sekali nan sudah patah itu ya mereka lebih percaya ke perawatan tradisional dibandingkan dengan perawatan medis nan profesional. Ini mirip mungkin dengan saya, orang Jawa Barat,” ungkapnya.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·