Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap sejumlah aspek nan menyebabkan tetap adanya golongan masyarakat nan menolak vaksin alias imunisasi di Indonesia.
Di antaranya adalah kekhawatiran terhadap pengaruh samping seperti demam, hingga kurangnya pemahaman mengenai faedah vaksin.
Budi menyebut, penolakan vaksin banyak dipengaruhi oleh orang tua nan melarang anaknya imunisasi lantaran takut terjadi pengaruh samping.
“Kalau kita lihat dari survei, nan pertama orang tuanya nan melarang, ya. Melarangnya kenapa? Karena mereka takut ada akibat demam biasanya, alias sakit, alias demam,” ujar Budi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).
Selain itu, tetap ada masyarakat nan menganggap imunisasi tidak krusial lantaran tidak memahami manfaatnya secara utuh.
“Ada juga nan mereka bilang lantaran mereka tidak tahu manfaatnya apa. Mereka merasa ini tidak penting. Nah itu nan kudu kita edukasi bersama,” katanya.
Ia menegaskan, pengaruh demam ringan pasca imunisasi semestinya tidak menjadi argumen untuk menolak vaksin, lantaran manfaatnya jauh lebih besar dalam mencegah penyakit berbahaya.
“Kalau ada demam sedikit, saya ingat saya waktu mini juga di imunisasi demam, tapi akibat positifnya melindungi dari penyakit-penyakit nan bisa mengakibatkan lenyap nyawa itu jauh lebih positif dibandingkan jika kita imunisasi kemudian kita demam,” jelasnya.
Terkait rendahnya literasi vaksin, Budi menilai perihal itu juga dipengaruhi perubahan pola komunikasi di tengah masyarakat.
“Saya memandang ada pergeseran style komunikasi. Itu nan saya minta juga kepada para dokter-dokter ahli, teman-teman di Kemenkes, teman-teman di Dinas Kesehatan, langkah komunikasi dengan masyarakat sekarang berbeda kan?” tuturnya.
Menurutnya, golongan nan menyebarkan info negatif tentang vaksin justru lebih mudah diterima sebagian masyarakat.
“Sehingga ada kelompok-kelompok nan mensosialisasikan gimana jeleknya vaksin, itu lebih bisa diterima oleh masyarakat,” katanya.
Budi menekankan perlunya perubahan pendekatan komunikasi dari pemerintah dan tenaga kesehatan agar lebih dekat dengan masyarakat, seperti nan telah dilakukannya di media sosial.
“Itu sebabnya saya juga mulai juga kan, ‘Pak jika ngomong jangan seperti itu’ Bikin itu nan ‘Budi Gemar Sharing’, rebus-rebusan, pasang bantal, mudah-mudahan sukses apa nggak, oh rupanya berhasil. Jadi kita mesti mau ubah style komunikasi, style edukasi ke masyarakat kita,” ungkap dia.
“Selain digital, stylenya ya. Stylenya, gayanya beda ya. Kalau dulu kan pakai presentasi, chat, foto. Sekarang kayaknya kudu ngomong sendiri ya. Saya melihatnya, jika orang nan ngomong sendiri, saya ngomong sendiri bakal jauh lebih bisa diterima masyarakat, lebih menarik dibandingkan kayak press conference gitu, ada orang nan ahli bicaranya, itu bukan langkah komunikasi nan diterima masyarakat,” sambungnya.
Budi juga menyinggung strategi pemerintah dalam memperkuat cakupan imunisasi anak usia sekolah, termasuk integrasi dengan program pemeriksaan kesehatan gratis.
“Tadi ada kelompok-kelompoknya kan, golongan bayi, kemudian bayi itu di bawah 1 tahun, bayi di bawah 2 tahun, bayi di bawah 5 tahun, dan anak sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan imunisasi anak sekolah bakal dimulai pada Agustus dan bakal diintegrasikan dengan program pemeriksaan kesehatan cuma-cuma agar lebih efisien.
“Untuk nan anak sekolah, memang kelak Agustus baru bakal mulai. Dan jika kita lihat datanya 2025 turun dari 2024, lantaran ada apa, sedikit bentrok resources dengan cek kesehatan gratis,” jelas Budi.
“Jadi kita belajar di situ, kita bakal kombinasikan antara cek kesehatan cuma-cuma dengan imunisasi sekolah. Itu nan pertama ya, agar dilakukannya sekali saja, sekali datang, orangnya sama, kita lakukan cek kesehatan cuma-cuma dan imunisasi,” tambahnya.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program imunisasi kejar untuk memastikan cakupan vaksinasi anak tetap optimal.
“Yang kedua, kita bikin beberapa program kejar gitu. Jadi bulan imunisasi anak sekolah nan tadinya dibikinnya pas tahun aliran baru, kita bikin beberapa kali. Kalau nggak salah ada tiga kali jadinya ya, dua bias ditambah nan satu nan pas masuk sekolah,” jelasnya.
Budi kembali menegaskan pentingnya imunisasi dalam mencegah penyakit menular nan berpotensi fatal pada anak.
“Imunisasi itu krusial untuk menyehatkan dan menyelamatkan nyawa anak-anak kita. Jadi kenapa saya di sini betul-betul mengimbau seluruh masyarakat terutama orang tua agar mengirimkan anaknya imunisasi,” tutur Budi.
“Banyak sekali contoh kemarin polio outbreak, campak, anak-anak nan wafat, itu bisa kita hindari dengan imunisasi. Jadi minta ini disebarluaskan sehingga berita-berita hoaks nan bilang bahwa imunisasi itu tidak penting, imunisasi itu gimana, itu bisa kita (antisipasi),” pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·