Risiko penularan Ebola di Indonesia rendah.(Dok. Magnific)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa risiko penularan virus ebola di Indonesia saat ini tergolong cukup rendah. Hal ini dikarenakan posisi Indonesia nan bukan merupakan negara pusat transit alias hub perjalanan internasional sepadat Singapura alias Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
"Kita bukan negara hub, seperti Dubai alias Singapura, itu negara-negara nan traffic-nya banyak dari dunia, itu lebih berisiko," ujar Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (2/6).
Budi menjelaskan, karakter penularan virus ebola berbeda dengan SARS-CoV-2 alias Covid-19. Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, sehingga tingkat penyebarannya tidak semudah virus nan menular melalui udara. Berdasarkan pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), akibat penyakit ini memang tinggi di wilayah terdampak, namun sangat rendah untuk negara-negara lain, termasuk Indonesia.
"Tapi untuk Indonesia sendiri, lantaran transmisinya itu melalui cairan, ini oleh WHO dibilang berisikonya rendah," ucap Menkes menambahkan.
Meski akibat dinilai rendah, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap mobilitas penduduk negara asing (WNA) maupun penduduk negara Indonesia (WNI) nan mempunyai riwayat perjalanan dari Republik Demokratik Kongo alias negara-negara dengan lonjakan kasus ebola nan signifikan.
Langkah antisipasi ini merespons kebijakan WHO nan telah menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat nan Meresahkan Dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) pada 17 Mei 2026. Status tersebut dikeluarkan menyusul pandemi ebola nan melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).
Penularan Ebola memerlukan kontak langsung dengan cairan tubuh (darah, air liur, keringat) dari orang nan terinfeksi alias barang nan telah terkontaminasi. Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada terhadap protokol kesehatan perjalanan internasional. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·