Menjemput Si Cantik Thumbelina di Pasar Rawa Belong

Sedang Trending 33 menit yang lalu
Hasil berburu kembang di Pasar Rawa Belong, ciptakan buket thumbelina nan penuh puspa warna. Foto: kumparan/Selfy Momongan

Aroma daun dan kelopak kembang segar langsung menyeruak sopan ke hidung begitu saya memasuki area Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat. Deretan gerai berderet rapat, dipenuhi warna-warni kembang nan seolah tak ada habisnya.

Siang itu, pasar tersebut tak terlalu riuh. Namun sejak melangkah masuk, ada saja orang nan berlalu-lalang di depan saya sembari membawa kembang di genggaman. Ada nan menenteng buket kecil, ada pula nan membeli bunga dalam bundle besar hingga penuh di pelukan.

Pasar Rawa Belong sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat kembang pangkas segar terbesar di Jakarta. Banyak florist hingga dekorator aktivitas berburu kembang pangkas segar di sini karena–katanya–pilihannya komplit dan harganya relatif lebih terjangkau dibanding toko kembang di pusat kota. Alasan itu jugalah nan membawa saya ke sini.

Hari itu, tujuan saya sudah jelas: mau merakit buket thumbelina berwarna-warni dengan tangan sendiri. Saya sebenarnya bisa saja membeli ‘buket jadi’ di florist, tetapi kali ini saya mau merasakan pengalaman memilih setiap tangkai kembang satu per satu. Kayaknya, bakal ada rasa puas ketika menentukan sendiri warna, jenis, hingga komposisi kembang nan diinginkan.

Langkah saya berakhir di gerai kembang matahari. Kelopak kuningnya terlihat segar dan mencolok di antara kembang lain. Penjual menawarkan satu bundle berisi 10 tangkai seharga Rp75 ribu. Dari transaksi itu saya baru mengerti bahwa kembang di Pasar Rawa Belong dijual per bundle, bukan per tangkai.

Bunga mentari lokal di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan

“Di sini semua dijual per bundle, Kak,” jelas sang pemilik kios. “Kalau kembang mentari lokal Rp 75 ribu isi 10 tangkai. Kalau kayak mawar gitu ada nan isi 20 tangkai per bundle,” jelasnya panjang lebar.

Saya manggut-manggut setuju. Ini toh alasannya kembang di sini lebih murah, pikir saya.

Tak jauh dari sana, saya menemukan kembang peacock berwarna ungu dan putih nan dijual Rp 15 ribu per bundle. Hati mini saya menjerit senang. Sebab peacock ungu sedang tak mudah ditemukan. Apalagi, kembang mini ini menjadi salah satu komponen krusial untuk menciptakan kesan penuh dan manis pada buket thumbelina.

Bunga peacock warna ungu dan putih. Foto: kumparan/Naela Marcelina

Geser ke gerai lain, perhatian saya tertuju pada tangkai-tangkai hijau dengan aksen kembang kuning kecil. Sekilas bentuknya menyerupai rumput liar. Tetapi di gambaran saya, kembang ini pasti bakal terlihat elok sebagai pelengkap thumbelina.

Bunga unik berjulukan solidago nan ada di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Naela Marcelina

“Ini solidago, Mbak,” ujar si pemilik gerai memecah lamunan saya. Sepertinya abang itu mengerti betul saya tak tahu jenis tanaman apa ini.

“Oh namanya Solidago. Berapaan, Bang?” tanya saya antusias. Si abang menjawab cepat, Rp 20 ribu katanya. “Bungkus satu, Bang,” jawab saya tanpa pikir panjang.

Perburuan saya berlanjut. Kini saya konsentrasi untuk mencari puspa warna biru. Pilihannya cukup banyak, mulai dari aster, gompi, hingga mawar biru. Saya sempat ragu lantaran mawar biru terlihat cukup mencolok, tetapi akhirnya tetap memilihnya.

Ada pesona nan susah ditolak dari warna biru lembutnya. Satu bundle mawar biru dibanderol Rp 50 ribu untuk 40 tangkai, sementara mawar merah dijual lebih tinggi, sekitar Rp 70 ribu untuk jumlah nan sama.

Bunga mawar biru di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan.

Di tengah perjalanan berkeliling pasar, saya baru menyadari satu warna nan belum ada: pink. Padahal, buket thumbelina identik dengan nuansa cerah dan manis. Pilihan saya jatuh pada kembang gerbera pink nan dijual Rp 25 ribu untuk 10 tangkai.

Bunga gerbera di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan.

Setelah semua kembang terkumpul, tantangan berikutnya dimulai: merangkai buket. Untungnya, banyak gerai di Pasar Rawa Belong nan menyediakan jasa perakitan bunga. Harganya pun beragam, tergantung ukuran buket dan jenis kembang nan digunakan.

Saya sempat berkeliling beberapa kali sebelum akhirnya berakhir di Adara Florist nan berada di bagian tengah pasar. Pemiliknya menawarkan nilai Rp 100 ribu untuk dua buket sekaligus. Tanpa banyak berpikir, saya langsung menyetujuinya lantaran sejak awal memang mau membagi bunga-bunga ini menjadi dua rangkaian.

Proses merangkai buket menyantap waktu sekitar 30 menit. Namun waktu terasa sigap lantaran saya mengobrol dengan perakit kembang sembari memandang satu per satu tangkai mulai disusun.

Dia juga menawarkan pada saya untuk memilih warna wrapping paper. Pilihannya cukup banyak, mulai dari warna pastel hingga warna-warna bold. Setelah cukup lama menimbang, saya memilih warna cokelat muda agar keseluruhan buket terlihat lebih hangat dan netral.

Satu per satu kembang dirangkai, kelihatannya mudah tapi bakal susah bagi tangan saya nan tidak lihai ini. Detik demi detik berlalu, buket thumbelina nan saya idamkan mulai terbentuk dan menampakkan pesonanya. Hasilnya betul-betul di luar ekspektasi saya. Buket itu terlihat besar dan terasa berat, tapi begitu bagus nan membangkitkan suasana hati saya. Ini hasilnya:

Kombinasi kembang matahari, gerbera pink, peacock ungu, mawar biru, hingga solidago kuning menciptakan tampilan nan ramai tetapi tetap harmonis. Rasanya susah berakhir memandangnya.

Buket thumbelina hasil rancangan tim kumparanWOMAN saat hunting di Pasar Rawa Belong. Foto: kumparan/Selfy Momongan.

Perjalanan dari Depok menuju Jakarta Barat, ditambah cuaca panas dan langkah kaki nan tak berakhir berkeliling pasar, mendadak terasa terbayarkan begitu buket itu selesai dirangkai.

Total, saya menghabiskan sekitar Rp 250 ribu untuk seluruh kembang dan biaya perakitan. Dari jumlah tersebut, saya mendapatkan dua buket: satu buket thumbelina ukuran besar dan satu buket ukuran sedang.

Bagi saya, pengalaman berburu kembang di Pasar Rawa Belong rupanya bukan hanya tentang membeli kembang dengan nilai murah. Ada kesenangan tersendiri ketika memilih kembang langsung dari pasar, berbincang dengan penjual, hingga memandang buket angan dirangkai perlahan di depan mata.

Pasar ini buka 24 jam setiap hari. Namun jika mau suasana nan lebih nyaman dan tidak terlalu ramai, datanglah pada siang hari di hari kerja.

Dan satu perihal nan saya pelajari setelah pulang dari sini: membeli kembang untuk diri sendiri rupanya bisa menjadi corak mini dari merayakan diri. Jadi, tak perlu menunggu diberi kembang oleh orang lain. Kadang, kita juga bisa menghadiahkan kebahagiaan itu untuk diri sendiri.

Jadi, kapan Anda bakal berjamu ke Pasar Rawa Belong, Ladies?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan