Ilustrasi(Dok Istimewa)
BAGI sebagian orang, Jakarta adalah tempat mengejar pendidikan, membangun karier, dan meraih beragam peluang. Namun, bagi Nabilah Khansa Islam Arsyi dan Debora Angelica Pardede, jalan nan mereka pilih justru membawa mereka meninggalkan hiruk pikuk ibu kota menuju area transmigrasi di Tanah Papua.
Keduanya merupakan bagian dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, program Kementerian Transmigrasi nan melibatkan generasi muda dari beragam perguruan tinggi terbaik di Indonesia untuk belajar berbareng masyarakat, memetakan potensi wilayah, serta menyusun rekomendasi nan dapat mendukung pengembangan area transmigrasi.
Bagi Nabilah, mahasiswa Universitas Brawijaya asal Jakarta Selatan, mengikuti Tim Ekspedisi Patriot bukan sekadar kesempatan untuk mengabdi, tetapi juga ruang belajar nan tidak dapat diperoleh di dalam kelas. Ia bakal bekerja di area transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
"Bagi saya, TEP adalah kesempatan untuk belajar langsung berbareng masyarakat di Klamono–Segun nan mempunyai potensi besar untuk berkembang. Saya mau datang bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai pribadi nan siap mendengar, berkolaborasi, dan berkontribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujar Nabilah.
Keinginannya mengikuti TEP berasal dari dorongan untuk memandang secara langsung gimana masyarakat di area transmigrasi membangun kehidupan, menghadapi tantangan, sekaligus mengembangkan potensi nan dimiliki. Menurutnya, pengalaman di ruang kuliah maupun aktivitas lapangan belum cukup untuk memahami dinamika tersebut.
Nabilah menyadari kehidupan di area transmigrasi bakal berbeda dengan kesehariannya di Jakarta. Namun, perbedaan itu justru menjadi bagian dari proses belajar nan mau dia jalani. Baginya, keputusan mengikuti TEP berfaedah juga kesiapan menghadapi beragam tantangan selama penugasan.
"Kalau nantinya menghadapi kesulitan alias merasa lelah, saya bakal kembali mengingat tujuan awal mengikuti program ini. Saya percaya komunikasi nan baik dan saling mendukung dalam tim menjadi kunci untuk menghadapi beragam tantangan di lapangan," katanya.
Ia tidak memasang sasaran nan muluk. Nabilah berambisi kehadirannya dapat membantu masyarakat mengidentifikasi potensi nan dimiliki, mendukung aktivitas nan telah berjalan, alias menyusun info nan nantinya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan.
Semangat nan sama juga dimiliki Debora Angelica Pardede, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) asal Jakarta Timur nan bakal bekerja di Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.
Bagi Debora, mengikuti Tim Ekspedisi Patriot merupakan kesempatan untuk kembali terlibat dalam pengembangan area transmigrasi. Pengalaman sebelumnya membuatnya semakin percaya bahwa memahami potensi suatu wilayah tidak cukup dilakukan dari kembali meja, tetapi kudu melalui kehadiran dan pendampingan secara langsung berbareng masyarakat.
"Saya mau menjadi bagian dari generasi muda nan berani melangkah ke wilayah nan tetap memerlukan perhatian, menggali potensi nan dimiliki, dan meninggalkan faedah bagi masyarakat setempat," ujarnya.
Pada penugasan nanti, Debora berbareng timnya bakal melakukan pendampingan di bagian ekonomi imajinatif sekaligus mengidentifikasi beragam tantangan nan dihadapi masyarakat, mulai dari kondisi sarana dan prasarana, rantai pasok, hingga kesempatan pengembangan potensi lokal.
"Kami tidak hanya melakukan pendampingan, tetapi juga mau mengidentifikasi beragam halangan di lapangan, mulai dari kondisi sarana dan prasarana, rantai pasok, hingga aspek pemeliharaannya. Harapannya, hasil nan kami susun dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan area transmigrasi," jelas Debora.
Menurut Debora, hasil kerja Tim Ekspedisi Patriot tidak berakhir pada laporan akhir. Berbagai temuan lapangan, pemetaan sosial, hingga rekomendasi nan disusun diharapkan dapat menjadi dasar bagi penyusunan program pembangunan area transmigrasi nan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Di tengah banyaknya pilihan nan tersedia di ibu kota, Nabilah dan Debora justru memilih melangkah ke arah nan berbeda. Mereka mau mengenal Indonesia lebih dekat melalui kehidupan masyarakat di area transmigrasi. Bagi keduanya, pengabdian bukan sekadar tentang datang ke wilayah nan jauh, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, mendengar, belajar, dan tumbuh berbareng masyarakat.
Melalui Tim Ekspedisi Patriot 2026, keduanya tidak hanya membawa bekal pengetahuan dari bangku kuliah, tetapi juga semangat untuk menghadirkan pendapat nan lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Dari Tanah Papua, mereka berambisi dapat membawa pulang pembelajaran, perspektif baru, serta rekomendasi nan dapat mendukung pengembangan area transmigrasi sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Dari sanalah, langkah nan berasal dari meninggalkan hiruk pikuk Jakarta diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar membangun Indonesia, dimulai dari kawasan-kawasan transmigrasi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·