Wonosobo -
Sektor pariwisata di Indonesia mempunyai segudang daya tarik bagi visitor domestik dan mancanegara. Salah satunya adalah Desa Patakbanteng, nan menjadi bagian dari dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.
Desa ini merupakan salah satu opsi jalur favorit bagi para pendaki nan mau menjajal keelokan alam nan mengarah ke Gunung Prau. Tak ayal, tetap ada begitu banyak pilihan nan bisa dilakukan di Dieng, termasuk pula di Desa Patakbanteng.
Salah satu penduduk desa nan turut andil dalam pengembangan Desa Patakbanteng, Solikin, mengatakan desa ini pernah mewakili Kabupaten Wonosobo untuk ikut dalam lomba desa wisata pada 2004. Hasilnya pun membanggakan, Desa Patakbanteng mendapuk gelar juara satu untuk bagian resiliensi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kategori resiliensi itu berangkaian dengan teman-teman nan menjadi pengelola (tempat wisata) itu semua sudah bersertifikat rescue dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dari situ dilihat nilai ekonomi dengan aktivitas pariwisata itu memang sudah sangat membantu," ujar Solikin kepada wartawan, dikutip Kamis (11/6/2026).
Ia mencontohkan, kebutuhan jasa ojek untuk menuju sejumlah puncak gunung alias bukit juga menjadi potensi ekonomi di desa ini. Dari satu sektor transportasi ini saja, sudah ada sebanyak kurang lebih 100 penduduk desa nan terlibat di pendakian.
"Kalau di akhir pekan, itu (supir ojek) kadang ada nan sampai 50 kali untuk membawa teman-teman pengunjung. Itu di ekonomi ya sudah lumayan. Selain itu ada di UMKM, warung-warung nan ada di depan basecamp itu nan buka 24 jam juga sudah banyak," dia mengelaborasi.
Tak berakhir di sektor pariwisata, Desa Patakbanteng juga terkenal dengan hasil buminya seperti kentang dan tanaman purwoceng. Ada pula industri rumahan nan memproduksi makanan khas, ialah manisan carica dan keripik kentang.
Di sisi lain, meskipun ekonomi di desa ini juga terdorong dari sektor pariwisata, tetapi generasi mudanya tetap kurang meletakkan minat pada sektor pertaniannya. Itulah nan memantik Solikin untuk bisa mempertahankan kekhasan hasil bumi Desa Patakbanteng untuk generasi selanjutnya.
"Karena petani itu kebutuhan pokok di negara kita. Jadi, kita mau mengembangkan agrowisata. Bagaimana caranya agar tamu-tamu nan datang ke Patakbanteng itu bisa belajar menanam, memandang proses panen secara langsung dengan pemandangan alam nan seperti ini," ujar Solikin optimistis.
Dukungan BCA untuk Desa Patakbanteng
Dengan adanya potensi-potensi itulah PT Bank Central Asia (BCA) melalui Bakti BCA juga mau mengambil peran. BCA mau terlibat dalam memajukan potensi ekonomi nan ada di Desa Patakbanteng.
"Bakti BCA datang di Desa Patakbanteng relatif baru. Kita sedang dalam tahap menyelesaikan rancangan program. Akan ada tiga fase nan kita siapkan berbareng dengan teman-teman dari Desa Patakbanteng," ujar VP Corporate Social Responsibility BCA, Nona Faletta, pada kesempatan nan sama.
Nona menyampaikan, tahap pertama nan dilakukan adalah membikin kreasi program nan bakal dijalankan. Hal ini lantaran penduduk desa itu sudah lebih dulu mengidentifikasi potensi dan kesempatan upaya nan bisa digali.
"Menggali gap potensi dan kompetensi nan tetap ada. Nanti kita bakal isi dengan penguatan kapabilitas sumber daya manusia seperti apa nan bakal cocok," ujar Nona melanjutkan.
Tahap kedua, ialah fase enabler. Tahapan ini mencakup perihal penguatan kelembagaan dan penguatan sumber daya manusia nan mungkin tetap mempunyai kekurangan. Fase enabler bakal dilakukan selama setahun ke depan.
"Yang terakhir adalah ekspansi akses pasar. Mungkin tetap banyak tempat-tempat lain nan belum mengetahui bahwa Patakbanteng bisa menjadi salah satu pengganti solusi untuk mereka bisa berwisata. Atau mungkin belajar sesuatu tentang nilai-nilai kehidupan nan ada di masyarakat," tambah dia.
Sementara itu, VP Corporate Communication BCA, Mas Wendiyanto Saputro, mengatakan program ini juga bakal dilakukan secara partisipatif berbareng penduduk masyarakat melalui porgram Generasi Berbakti. Dengan demikian, BCA bakal menggandeng mahasiswa untuk mengusulkan proposal pengabdian masyarakat.
"Salah satu konsentrasi letak pengabdiannya adalah Desa Patakbanteng. Jadi, kelak di bulan Juli bakal ada nan live-in selama satu bulan dari teman-teman mahasiswa. Setelah melalui proses penjurian, penilaian dan segala macam, mereka menawarkan proposal ke Bakti BCA," kata Wendi.
"Kita kurasi, kita verifikasi, dan kita support dari sisi pendanaan programnya para mahasiswa itu juga. Selama satu bulan itu bakal membersamai penduduk desa ini untuk mencoba bersama-sama mencarikan solusi atas beragam isu," tandas Wendi.
(kil/kil)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·