Heboh kasus hantavirus diduga sedang mewabah di sebuah kapal pesiar mewah nan sedang berlabuh di Tanjung Verde, Afrika, menewaskan tiga orang dan tiga orang lainnya jatuh sakit. Lalu, apa itu hantavirus?
Virus ini bukan penyakit baru. Para intelektual pertama kali mengidentifikasinya pada 1970-an di wilayah Sungai Hantan, Korea Selatan. Hingga kini, hantavirus dikenal sebagai golongan virus nan menyebar terutama melalui tikus dan hewan pengerat lain.
Untuk kasus kapal pesiar di Tanjung Verde, otoritas setempat tetap menyelidiki sumber penularan, tapi indikasi awal mengarah pada virus nan ditularkan dari hewan pengerat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, hingga saat ini, satu kasus jangkitan hantavirus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, dan terdapat lima kasus tambahan nan tetap dugaan.
"Dari enam perseorangan nan terdampak, tiga orang telah meninggal bumi dan satu orang saat ini dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan,” kata WHO dalam pernyataan tertulis, Minggu (3/5).
Bagaimana Hantavirus Menular?
Reuters melaporkan penularan hantavirus terjadi ketika partikel virus dari urine, air liur, alias kotoran tikus mengering lampau terhirup manusia. Aktivitas sederhana seperti menyapu area nan pernah menjadi sarang tikus dapat memicu penyebaran virus ke udara.
Menurut WHO, penularan antar manusia sangat jarang terjadi. Mayoritas kasus berasal dari paparan lingkungan nan terkontaminasi.
Hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama. Pertama, sindrom paru alias hantavirus pulmonary syndrome nan menyerang sistem pernapasan. Kedua, penyakit nan menyerang ginjal.
Dari keduanya, jangkitan paru menjadi nan paling rawan dengan tingkat kematian mencapai sekitar 40 persen.
Kasus jangkitan ini relatif jarang. Data pemerintah Kanada mencatat sekitar 200 kasus sindrom paru akibat hantavirus terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Meski jumlahnya kecil, tingkat fatalitas nan tinggi membikin penyakit ini menjadi perhatian serius.
Gejala Hantavirus
Gejala awal sering menyerupai flu. Penderita biasanya mengalami demam, kelelahan, dan nyeri otot dalam satu hingga delapan minggu setelah terpapar. Beberapa hari kemudian, kondisi dapat memburuk dengan munculnya batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru.
Diagnosis pada tahap awal susah dilakukan lantaran gejalanya tidak spesifik. Dalam 72 jam pertama, jangkitan kerap disalahartikan sebagai flu biasa.
Belum ada obat unik untuk mengatasi hantavirus. Penanganan medis berfokus pada perawatan suportif, seperti pemberian cairan dan support pernapasan menggunakan ventilator jika diperlukan.
Upaya pencegahan menjadi kunci. Para mahir menyarankan untuk menghindari paparan tikus di lingkungan tempat tinggal alias kerja. Membersihkan area nan terkontaminasi kudu dilakukan dengan hati-hati, tanpa menyapu alias menggunakan vacuum pada kotoran kering nan dapat menyebarkan partikel virus ke udara.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·