Fenomena 'salju' alias embun upas muncul di area Gunung Bromo, saat cuaca dingin melanda Malang. Suhu udara hingga mendekati nol derajat di area Gunung Bromo membikin kejadian 'salju' alias nan disebut embun upas (frost).
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha menuturkan, kejadian ini biasanya muncul menandai masuknya musim tandus di Gunung Bromo dan sekitarnya.
"Mengingatkan kita bahwa kejadian ini memasuki musim tandus di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru," kata Rudijanta, Rabu (10/6).
Menurutnya, kejadian ini terjadi pada musim tandus ketika tutupan awan berkurang sehingga panas nan tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Hal ini membikin suhu udara di malam hari bakal lebih terasa dingin dibandingkan dengan siang hari.
"Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara, terutama pada malam hingga awal hari, menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya. Di area pegunungan tinggi seperti Bromo dan Semeru, penurunan suhu udara dapat berjalan lebih ekstrem," bebernya.
Dari pantauan dan laporan petugas di lapangan, saat ini suhu udara di beberapa area Gunung Bromo sudah mendekati nol derajat celsius.
Suhu di permukaan tanah lebih rendah, sehingga memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis nan dikenal sebagai embun upas nan menyerupai salju.
"Fenomena embun upas umumnya dapat dijumpai pada area-area terbuka nan mengalami pendinginan udara secara intensif pada malam hari. Di area Bromo, embun upas berpotensi muncul di Laut Pasir, Pusung Gedhe, serta Savana Lembah Watangan. Sementara di area Semeru, kejadian ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo," jelasnya.
Embun upas terbentuk ketika uap air nan berada di permukaan rumput, daun, pasir, maupun tanah membeku akibat suhu nan sangat rendah.
Lapisan kristal es nan terbentuk sering kali membikin permukaan area tampak berwarna putih sehingga kerap disalahartikan sebagai salju. Hal ini nan buat area Gunung Bromo kerap ramai dikunjungi saat 'salju' bermunculan.
"Embun upas berbeda dengan salju, lantaran terbentuk langsung di permukaan tanah dan bukan berasal dari presipitasi di atmosfer. Saat mentari mulai meninggi juga bakal hilang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika alam nan lazim terjadi di area pegunungan tropis Indonesia pada musim tandus dan menjadi salah satu daya tarik wisata alam nan dinantikan pengunjung," paparnya.
Ia pun mengingatkan visitor nan memang datang untuk mempersiapkan diri dengan membawa busana nan hangat. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya hipotermia alias kedinginan berlebihan nan membahayakan.
"Kami mengimbau agar mempersiapkan diri ketika bakal berjamu ke area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan mempersiapkan busana bahan nan dingin," tuturnya.
Penjelasan BMKG
Sementara itu, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang Linda Fitrotul Muzayanah mengatakan, suhu dingin nan terjadi merupakan kejadian nan wajar.
"Tidak adanya awan nan menyebabkan daya panas di permukaan bumi terlepas ke angkasa pada malam hari. Kondisi ini menyebabkan pada awal hari, udara menjadi lebih dingin," ucap dia.
Adanya kejadian suhu udara dingin itu disebutnya menjadi pertanda bahwa puncak musim tandus bakal tiba. Di mana periode puncak tandus sendiri sering ditandai dengan pergerakan angin dari arah Timur nan berasal dari Benua Australia.
"Setelah itu, musim tandus bakal berhujung dan berganti dengan musim penghujan. Beberapa wilayah, catatan suhunya juga lebih rendah dari 17 derajat," ungkapnya.
Jadi Daya Tarik Wisatawan
Sementara itu, kejadian embun upas alias frost membikin visitor banyak mengincar musim tandus untuk melakukan kunjungan ke Gunung Bromo.
Ahnaf Lentera Jagad, salah satu pemandu wisata Gunung Bromo menyatakan, kejadian salju di Gunung Bromo memang membikin visitor penasaran dan datang berkunjung. Beberapa visitor disebut mengaku sengaja mau datang lantaran mau memandang kejadian salju nan muncul setahun sekali.
"Rata-rata visitor itu memang penasaran melihat. Jumlahnya cukup banyak nan datang jika di musim-musim gini, penasaran sama salju di Bromo. Apalagi ini mau libur sekolah jadi ada peningkatan kunjungan," ungkap Ahnaf.
Sebagai informasi, area Wisata Gunung Bromo berada dalam satu kompleks Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Lokasi ini mempunyai akses pintu masuk dari empat kabupaten di Jawa Timur. Pintu masuk nan terfavorit dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, disusul dengan pintu masuk Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Dua pintu masuk lainnya ialah pintu masuk Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan pintu masuk Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, nan juga jadi pintu masuk ke Gunung Semeru.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·