Mengenal 2 Jenis Hantavirus: Andes Virus dan Seoul Virus, Mana Lebih Berbahaya?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

 Andes Virus dan Seoul Virus, Mana Lebih Berbahaya?

Mengenal 2 jenis Hantavirus. (Foto: Freepik)

KASUS Hantavirus kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya klaster jangkitan di sebuah kapal pesiar internasional, ialah MV Hondius, nan berangkat dari wilayah Amerika Selatan. Wabah ini memicu perhatian lantaran dikaitkan dengan Andes virus, salah satu jenis Hantavirus nan diketahui mempunyai tingkat keparahan tinggi dan potensi penularan antarmanusia secara terbatas.

Menarik sekarang mengetahui lebih jauh soal jenis dari Hantavirus. Dengan begitu, jenis nan lebih rawan pun bisa diketahui.

Asal Mula Hantavirus, Virus Lama nan Kini Kembali Merebak

1. Mengenal Varian Hantavirus

Dr Dicky Budiman PhD nan merupakan Epidemiologist and Expert in Global Health Security from Griffith and Yarsi University dalam aktivitas Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan jenis pada Hantavirus. Menurutnya, Hantavirus merupakan golongan virus nan ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus, dan mempunyai beberapa jenis dengan karakter nan berbeda.

Dua di antaranya nan paling sering dibahas adalah Andes Virus dan Seoul Virus, nan sama-sama berada dalam family Hantavirus. Namun, ada tingkat bahaya, pola penularan, serta wilayah sebaran nan berbeda dari dua jenis ini.

“Ada beberapa jenis (Hantavirus) nan saat ini di dunia, lebih dikenal ada 2. Kalau nan di kapal pesiar itu Andes Virus tetap keturunan Hantavirus,” ujar Dr. Dicky.

2. Apa Itu Andes Virus?

Andes Virus tergolong lebih rawan dibandingkan jenis lainnya lantaran mempunyai potensi penularan antarmanusia, meskipun tetap terbatas. Andes virus banyak ditemukan di Amerika Selatan, terutama di Chile dan Argentina.

Virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan. Termasuk dalam perihal ini, kerusakan paru-paru, hingga komplikasi pada jantung nan berujung pada kandas napas akut.

Kemampuan penularan antarmanusia inilah nan membikin Andes Virus dianggap lebih berisiko dalam situasi tertentu. Meskipun, kasusnya tidak sebanyak jenis lain.

“Kenapa Andes Virus ini dikenal? Karena punya karakter ditemukannya di Amerika Selatan, terutama di Chile dan Argentina, dia (Andes Virus) juga bisa menyebabkan gangguan di paru-paru, apalagi potensi ke jantung, kandas napas akut. Juga termasuk nomor kematiannya bisa 40-50 persen. Jadi dari 10 (kasus), 4 alias 5 orang bakal meninggal,” ujar Dr Dicky.

“Nah nan membikin Andes Virus ini unik lantaran ada bukti potensi penularan antar manusia, meskipun itu terbatas. Makanya, nan terjadi di kapal pesiar itu, jadi di dalam konteks ini, hanya Andes Virus ini nan punya perbedaan keahlian menularkan antarmanusia,” lanjutnya.

3. Seoul Virus Lebih Sering Ditemui

Apakah Hantavirus Bisa Jadi Pandemi Jilid 2 seperti Covid-19? Ini Penjelasan Dokter

Berbeda dengan Andes, Seoul Virus lebih banyak ditemukan di area Asia, termasuk China, Korea, hingga Indonesia. Virus ini umumnya dibawa oleh tikus perkotaan nan hidup di lingkungan padat, seperti saluran air, gudang, hingga area dengan sanitasi buruk.

“Ada satu lagi nan ini juga selain di China, di Korea, dan beberapa negara Asia lain, termasuk Indonesia, namanya Seoul Virus tetap family Hantavirus,” ujar Dr Dicky.

“Nah karakter dari Seoul Virus ini, dia umumnya di tikus-tikus perkotaan. Ini adanya di Lorong-lorong gelap, di rumah-rumah, nah makanya tidak boleh ada lubang-lubang. Makanya tikus-tikus itu suka tempat nan gelap-gelap,” lanjutnya.

Di Indonesia, Seoul Virus dianggap lebih relevan. Pasalnya, kondisi lingkungan perkotaan nan tetap mempunyai tantangan sanitasi. Meski demikian, tingkat kematian Seoul Virus disebut lebih rendah dibandingkan Andes Virus.

“Nah di Indonesia, jenis Seoul Virus lebih relevan lantaran urbanisasi. Kita sekarang sudah banyak orang, apalagi wilayah perkumuhan, sampah kurang tertata baik, padat penduduk, sanitasi buruk, nah ini populasi tikus perkotaan ini bakal meningkat. Nah ini nan berpotensi jika kita kontak secara langsung alias tidak langsung, itu bisa menyebabkan demam, potensi gangguan ginjal juga, dan juga nan disebut dengan hemorrhagic fever jadi gelaja seperti demam berdarah,” jelasnya.

“Tapi nomor kematiannya umumnya lebih rendah daripada Andes tadi. Ini umumnya di nomor belasan. Ini juga ditemukan oleh Kemenkes di nomor 13-an persen nomor kematiannya,” lanjut Dr Dicky.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari

Follow

Berita Terkait

Telusuri buletin women lainnya

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com