Mengapa Refleksi Penting dalam Deep Learning?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Mengapa Refleksi Penting dalam Deep Learning? (MI/Seno)

DALAM banyak proses pembelajaran di kelas konvensional, pembelajaran itu dianggap selesai, berakhir, dan paripurna ketika tanda bel bersuara alias tugas siswa dikumpulkan guru. Siswa lampau beranjak menerima mata pelajaran berikutnya, sedangkan pembimbing segera menyiapkan materi berikutnya di kelas lain.

Padahal, di antara satu pengalaman belajar dan pengalaman berikutnya, ada ruang nan sangat penting: refleksi. Tanpa refleksi, belajar mudah berubah menjadi aktivitas menyelesaikan rangkaian tugas semata, bukan perjalanan memahami diri, bukan proses dan perjalanan pengetahuan, dan bukan langkah belajar gimana belajar.

Dalam konteks pembelajaran mendalam (PM), refleksi bukan aktivitas tambahan di penghujung pelajaran. Refleksi adalah bagian dari pengalaman belajar nan membikin siswa menyadari apa nan sudah dipahami, apa nan belum dikuasai, gimana dia belajar, dan langkah apa nan perlu ditempuh sesudahnya.

Pada saat nan sama, refleksi bagi pembimbing adalah cermin ahli untuk berkaca dan memandang apakah pembelajaran nan baru saja dilakukan betul-betul menghidupkan pikiran, melibatkan perasaan, dan menggerakkan jiwa dengan tindakan siswa.

DUA TUJUAN YANG BERBEDA

Bagi siswa, refleksi bermaksud membangun kesadaran sebagai pembelajar. Murid tidak hanya dituntut menjawab benar, tetapi juga bisa menjelaskan kenapa dia memahami sesuatu, bagian mana nan tetap membingungkan, strategi apa nan membantunya, serta support apa nan dia perlukan. Di situlah siswa belajar 'belajar gimana belajar'. Ia tidak menggantungkan seluruh penilaian pada guru, tetapi perlahan mempunyai keahlian metakognitif: bisa memantau proses berpikirnya sendiri.

Karena itu, pertanyaan refleksi untuk siswa tidak cukup berbunyi, “Apakah Anda senang belajar hari ini?” Pertanyaan itu berguna, tetapi terlalu dangkal jika berdiri sendiri.

Guru perlu membujuk siswa bertanya kepada dirinya: “Apa pendapat paling krusial nan saya pahami hari ini?”, “Bagian mana nan mula-mula sulit, tetapi kemudian menjadi lebih jelas?”, “Bagaimana saya menemukan jawabannya?”, “Kesalahan apa nan saya lakukan dan apa nan dapat saya pelajari dari kesalahan itu?”, “Di mana pengetahuan ini dapat saya gunakan dalam kehidupan?”, dan “Apa satu langkah nan bakal saya lakukan agar pemahaman saya lebih baik?”

Pertanyaan seperti itu menolong siswa tidak sekadar mengingat isi pelajaran, tetapi menyusun makna dari pengalaman belajarnya.

Sementara itu, refleksi pembimbing mempunyai tujuan nan berbeda. Guru tidak sedang meminta pujian atas pelajaran nan telah disampaikan, tetapi memeriksa mutu keputusan pedagogisnya. Guru perlu bertanya: “Apakah tujuan belajar hari ini dipahami siswa?”, “Apakah aktivitas nan saya rancang membikin siswa berpikir, berdialog, mencoba, dan merefleksi?”, “Siswa mana nan belum terlibat secara bermakna, dan mengapa?”, “Bukti apa nan menunjukkan bahwa mereka betul-betul memahami, bukan hanya menyalin alias menghafal?”, “Bagian mana dari penjelasan, tugas, alias asesmen saya nan perlu diperbaiki?”, dan “Apa nan kudu saya ubah pada pertemuan berikutnya?”

Refleksi semacam itu menjaga pembimbing agar dia tidak merasa selesai dan paripurna hanya lantaran materi dalam pokok pembahasan telah lenyap diajarkan.

BELAJAR TANPA CERMIN

Bahaya terbesar pembelajaran tanpa refleksi adalah terulangnya kesalahan. Siswa dapat terus mengerjakan tugas tanpa memahami kelemahannya; pembimbing dapat terus mengajar dengan langkah nan sama tanpa mengetahui bahwa sebagian siswa tertinggal, sebagian lain mengalami miskonsepsi.

Nilai mungkin tetap diberikan, tetapi nilai itu tidak selalu menjelaskan proses berpikir tingkat tinggi (HOTS), ketekunan siswa, apalagi kebingungan, maupun perkembangan nan sesungguhnya kudu terjadi sebagai capaian pembelajaran.

Itulah salah satu kelemahan pembelajaran konvensional nan terlalu berpusat pada penyampaian materi. nan krusial materi selesai, latihan dikerjakan, dan ujian ditempuh. Siswa nan keliru sering hanya menerima tanda salah; mereka tidak diajak membaca kenapa kekeliruan itu terjadi.

Guru pun mudah menilai kelas sukses lantaran suasana tertib, tenang, alias lantaran sebagian siswa bisa menjawab pertanyaan, tetapi rupanya pertanyaan itu tak disadari hanyalah pertanyaan nan hanya menghasilkan jawaban tingkat berfikir rendah (LOTS). Padahal, ketertiban belum tentu berarti dan jawaban beberapa anak belum tentu mencerminkan pemahaman seluruh kelas.

Pembelajaran mendalam menolak langkah pandang nan menjadikan belajar sebagai lintasan satu arah, tidak terjadi dialog, diskusi, dan tanya jawab nan mendorong siswa bisa berfikir reflektif, kreatif, dan inovatif. Belajar kudu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami, mengaplikasikan, lampau merefleksi.

Melalui refleksi, pengetahuan tidak berakhir sebagai informasi, tetapi menjadi bekal untuk mengambil keputusan nan lebih baik sehingga siswa bisa menjadi pembelajar sepanjang kehidupan nan semakin berdikari dan otonom. Di pihak lain, melalui refleksi pula, pembimbing bisa tumbuh sebagai pembelajar dan pendidik ahli nan berani dan bersedia memperbaiki praktiknya nan keliru.

Kelas nan baik bukan kelas nan tidak pernah melakukan kesalahan. Kelas nan baik adalah kelas nan berani memandang kesalahan, menemukan maknanya, dan menggunakannya untuk melangkah lebih jauh. Karena itu, refleksi bukan penutup pelajaran. Refleksi adalah pintu agar pembelajaran berikutnya menjadi lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih menggembirakan. Semoga begitu.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia