Mengapa Mitigasi Selalu Terlambat?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Mengapa Mitigasi Selalu Terlambat?

Setiap kali musibah terjadi, satu pertanyaan nyaris selalu muncul: kenapa tidak dicegah sejak awal? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih kompleks daripada nan dibayangkan.

Ironisnya, kita sering kali baru betul-betul peduli ketika banjir sudah menggenangi rumah, kebakaran rimba meluas, alias tanah longsor menutup akses jalan. Pada saat itu, perhatian publik, media, hingga pemerintah biasanya terfokus pada upaya pengamanan dan pemulihan. Setelah keadaan kembali normal, perhatian itu perlahan memudar. Siklus nan sama pun kembali terulang.

Inilah argumen kenapa mitigasi sering terasa datang terlambat.

Mitigasi bukan sekadar memasang rambu pemindahan alias mengadakan simulasi bencana. Mitigasi adalah proses panjang nan dimulai dari langkah kita merencanakan pembangunan, mengelola lingkungan, menyusun kebijakan, hingga membangun kesadaran masyarakat. Sayangnya, hasil mitigasi tidak langsung terlihat. Ketika sebuah wilayah sukses terhindar dari musibah lantaran perencanaan nan baik, keberhasilan itu jarang mendapat perhatian. Sebaliknya, penanganan darurat nan berjalan di tengah musibah lebih mudah menjadi sorotan.

Di sisi lain, pembangunan sering kali melangkah lebih sigap daripada upaya mengurangi risiko. Permukiman berkembang ke area rawan banjir, pembukaan lahan mengurangi daya dukung lingkungan, dan ruang terbuka hijau semakin menyusut. Risiko meningkat secara perlahan, tetapi dampaknya baru terasa ketika alam memberikan “peringatan”.

Perubahan suasana semakin memperumit keadaan. Curah hujan nan lebih ekstrem, musim tandus nan lebih panjang, hingga peningkatan gelombang cuaca ekstrem membikin pola musibah menjadi semakin susah diprediksi. Kondisi ini menuntut pendekatan mitigasi nan lebih adaptif dan berbasis data, bukan sekadar mengandalkan pengalaman masa lalu.

Mitigasi juga bukan semata tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, akademisi, media, komunitas, hingga masyarakat mempunyai peran nan sama pentingnya. Kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai, mematuhi tata ruang, menjaga area resapan air, alias memahami prosedur pemindahan merupakan bagian dari mitigasi nan sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar.

Sebagai seseorang nan bekerja di bagian kebencanaan, saya memandang bahwa keberhasilan mitigasi justru ditandai oleh sesuatu nan tidak terjadi. Tidak ada korban jiwa, tidak ada rumah nan hanyut, tidak ada kebakaran nan meluas, alias tidak ada kepanikan saat masyarakat menghadapi ancaman. Sayangnya, keberhasilan seperti ini jarang menjadi buletin utama lantaran tidak menghadirkan drama.

Padahal, ukuran keberhasilan penanggulangan musibah semestinya bukan hanya seberapa sigap kita merespons saat musibah terjadi, tetapi juga seberapa baik kita mencegah agar dampaknya dapat diminimalkan sebelum musibah datang.

Mungkin sudah saatnya langkah pandang kita berubah. Anggaran mitigasi bukanlah biaya nan mengurangi pembangunan, melainkan investasi untuk melindungi hasil pembangunan itu sendiri. Edukasi kebencanaan bukan aktivitas seremonial, tetapi bekal nan dapat menyelamatkan nyawa. Tata ruang bukan sekadar arsip administratif, melainkan fondasi bagi keselamatan masyarakat.

Bencana memang tidak selalu dapat dicegah. Namun, besarnya akibat nan ditimbulkan sangat dipengaruhi oleh keputusan-keputusan nan kita ambil jauh sebelum sirene peringatan berbunyi.

Karena pada akhirnya, mitigasi nan baik bukanlah tindakan nan dilakukan setelah musibah datang. Mitigasi adalah keputusan nan kita ambil hari ini untuk melindungi kehidupan di masa depan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan