Mengapa Memuliakan Anak Yatim Begitu Istimewa? Simak 7 Keutamaannya(Dompet Dhuafa)
DALAM aliran Islam, memuliakan, mengasihi, dan mengasuh anak yatim dengan penuh keikhlasan merupakan salah satu ibadah paling agung. Amalan ini bukan sekadar tindakan sosial kemanusiaan, melainkan investasi alambaka nan mendatangkan keberkahan luar biasa bagi siapa saja nan menjalankannya.
Berikut adalah tujuh keistimewaan memuliakan anak yatim berasas Al-Qur'an dan Hadis:
1. Jaminan Surga dari Allah Swt
Bagi mereka nan mengemban amanah memelihara anak yatim, Allah telah menjanjikan ganjaran tertinggi, ialah surga. Kasih sayang nan diberikan kepada anak yatim adalah ibadah terpuji nan sangat dicintai oleh Allah. Rasulullah Saw berfirman dalam sebuah sabda nan diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Abbas:
“Orang nan memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah bakal memasukkan ke dalam surga, selain dia melakukan dosa nan tidak bisa diampuni.”
Perlu diingat, dosa nan tidak diampuni di sini adalah perbuatan syirik alias menyekutukan Allah. Oleh lantaran itu, integritas ketaatan tetap menjadi pondasi utama dalam meraih janji surga ini.
2. Kedekatan nan Sangat Istimewa dengan Rasulullah Saw
Sebagai umat nan mencintai Rasulullah, tentu menjadi angan terbesar untuk bisa berdampingan dengan beliau di surga kelak. Peluang ini terbuka lebar bagi siapa saja nan mengasuh anak yatim di dunia. Rasulullah Saw mengisyaratkan kedekatan tersebut melalui sabda riwayat Bukhari:
“Saya dan orang nan mengasuh alias memelihara anak yatim bakal berada di surga begini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit.
Jarak jari telunjuk dan jari tengah melambangkan kedekatan nan luar biasa, seolah-olah tidak ada sekat antara pengasuh anak yatim dan Rasulullah di tempat peristirahatan terakhir nan kekal nanti.
3. Jaminan Pertolongan Allah di Dunia dan Akhirat
Menolong anak yatim adalah kunci untuk membuka pintu pertolongan Allah. Ketika kita meringankan beban, memberikan ilmu, alias menyantuni anak yatim, kita sejatinya sedang menolong sesama mukmin. Rasulullah Saw dalam sabda riwayat Muslim dari Abu Hurairah menegaskan:
“Barangsiapa nan menghilangkan kesusahan orang mukmin di bumi maka Allah bakal menghilangkan kesusahannya di bumi dan akhirat, Allah bakal menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”
Bagi setiap muslim nan mendambakan kemudahan hidup, baik di bumi maupun saat menghadapi hari kalkulasi di akhirat, maka bantulah anak yatim dengan keikhlasan.
4. Dapat Gelar “Abror” bagi Orang nan Berbuat Kebajikan
Allah Swt memberikan gelar kehormatan Abror (orang-orang nan melakukan kebajikan/saleh) kepada mereka nan menyantuni anak yatim. Hal ini tertuang dalam firman Allah nan menunjukkan sungguh mulianya orang nan memberi lantaran Allah:
“Dan mereka memberikan makanan nan disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang nan ditawan.”(QS Al-Insan: 8 Sebagai balasannya, Allah menjanjikan kemuliaan bagi mereka:
“Sungguh, orang-orang nan melakukan amal (abrar) bakal minum dari gelas (berisi minuman) nan campurannya adalah air kafur.”(QS Al-Insan: 5)
Ayat ini merupakan janji nyata bagi mereka nan memuliakan anak yatim, bahwa kelak mereka bakal menikmati jawaban surga nan penuh kenikmatan.
5. Meraih Pahala Berlipat melalui Amar Ma’ruf
Memuliakan anak yatim adalah corak nyata dari amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan menyantuni anak yatim, kita sedang membujuk diri sendiri dan orang lain untuk mengerjakan kebaikan. Rasulullah Saw berfirman (HR Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud):
“Siapa saja nan menyeru kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang nan mengerjakannya itu.”
Setiap kebaikan nan kita tanam melalui pengurusan anak yatim bakal kembali kepada kita dalam corak pahala nan berlipat ganda.
6. Ladang Amal Jariah nan Tidak Terputus
Salah satu dari tiga perkara nan pahalanya tidak terputus setelah manusia meninggal bumi adalah angan dari anak saleh. Ketika seseorang memelihara dan mengasuh anak yatim, dia berkedudukan layaknya orang tua. Rasulullah SAW berfirman (HR Muslim dari Abu Hurairah):
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya, selain tiga perkara: infak jariah, pengetahuan nan bermanfaat, dan anak saleh nan selalu mendoakannya.”
Menjadi “orang tua” bagi anak yatim berfaedah membuka pintu aliran pahala nan bakal terus mengalir melalui doa-doa mereka hingga akhir hayat.
7. Perisai dari Siksa Neraka nan Pedih
Siksaan neraka adalah sesuatu nan sangat ditakuti oleh setiap mukmin. Memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang dan kelembutan adalah pelindung nan handal di hari kiamat. Rasulullah Saw berjanji (HR Thabrani dari Abu Hurairah):
“Demi nan mengutusku dengan hak, Allah tidak bakal menyiksa pada hari hariakhir kelak orang nan menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.”
Sering kali kita berpikir bahwa menyantuni anak yatim hanya soal materi alias uang. Namun, tujuh kemuliaan tersebut mengingatkan bahwa menyantuni bisa dilakukan dengan memberikan ilmu, mencurahkan tenaga, hingga sekadar memberikan perhatian dan kasih sayang nan tulus. Mari ulurkan tangan dan sisihkan rezeki kita untuk anak yatim melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim.
(RO/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·