Fogging untuk antisipasi DBD.(Dok. Antara)
DEMAM berdarah dengue alias DBD sering dikaitkan dengan musim hujan. Namun, kasus DBD juga dapat meningkat saat musim kemarau. Kondisi ini kerap membingungkan lantaran banyak orang mengira nyamuk hanya berkembang biak ketika hujan deras turun terus-menerus. Padahal, pada musim kemarau, lingkungan rumah dan permukiman justru bisa menyediakan banyak tempat ideal bagi nyamuk penular dengue untuk bertelur dan berkembang.
Penyebab utamanya bukan semata-mata banyak alias sedikitnya hujan, melainkan keberadaan air bersih nan tergenang, perilaku penyimpanan air, suhu lingkungan, serta kebiasaan membersihkan tempat penampungan air. Karena itu, DBD tetap perlu diwaspadai sepanjang tahun, termasuk ketika cuaca terasa panas dan kering.
Mengapa DBD Bisa Meningkat saat Musim Kemarau?
DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti nan membawa virus dengue. Nyamuk ini menyukai tempat berisi air bersih nan tergenang, terutama di sekitar rumah, sekolah, kantor, dan permukiman padat. Saat musim kemarau, tempat-tempat seperti bak mandi, ember, drum, toren, vas bunga, tatakan pot, dispenser, hingga peralatan jejak nan dapat menampung air bisa menjadi letak perkembangbiakan nyamuk.
Pada musim kemarau, sebagian masyarakat juga condong menyimpan air lebih banyak untuk mengantisipasi pasokan air nan tidak lancar. Jika tempat penampungan air tidak ditutup rapat alias jarang dikuras, jentik nyamuk dapat berkembang. Inilah salah satu argumen kenapa akibat DBD tidak otomatis turun ketika hujan berkurang.
Apakah Nyamuk DBD Tetap Berkembang saat Tidak Hujan?
Ya, nyamuk penular dengue tetap dapat berkembang selama ada air tergenang. Genangan tidak kudu berasal dari hujan deras. Air sisa penyiraman tanaman, rembesan AC, air di wadah minum hewan, talang nan tersumbat, hingga penampungan air rumah tangga bisa menjadi tempat jentik.
Musim tandus juga sering diselingi hujan singkat. Hujan sejenak dapat mengisi wadah-wadah mini di luar rumah. Setelah itu, cuaca panas membikin air tampak sigap berkurang, tetapi tetap cukup untuk menjadi tempat berkembangnya jentik jika wadah tersebut tidak dibersihkan.
Faktor nan Membuat DBD Naik saat Kemarau
- Penyimpanan air lebih banyak: ember, drum, bak, dan toren nan tidak tertutup menjadi tempat potensial jentik.
- Genangan mini tidak terlihat: tutup botol, kaleng, ban bekas, pot tanaman, dan talang dapat menampung air.
- Cuaca panas: suhu hangat dapat mendukung aktivitas nyamuk di lingkungan tertentu.
- Kebiasaan menguras berkurang: tempat air nan terlihat bersih sering dianggap aman, padahal bisa menjadi sarang jentik.
- Permukiman padat: jarak rumah nan berdekatan memudahkan nyamuk beranjak dan menggigit lebih banyak orang.
Benarkah Air Bersih Bisa Menjadi Sarang Nyamuk DBD?
Benar. Salah satu kesalahpahaman umum adalah mengira nyamuk DBD hanya berkembang di air kotor. Nyamuk Aedes aegypti justru sering ditemukan di air relatif bersih nan tergenang, terutama di wadah buatan manusia. Karena itu, bak mandi nan tampak bersih, vas bunga, alias wadah penampung air tetap perlu diperiksa secara rutin.
Membersihkan rumah dari sampah saja belum cukup. Pencegahan DBD kudu menyasar semua tempat nan dapat menampung air, baik di dalam maupun luar rumah.
Gejala DBD nan Perlu Diwaspadai
DBD dapat diawali dengan demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, nyeri di belakang mata, ruam, alias lemas. Pada sebagian kasus, kondisi dapat memburuk ketika demam mulai turun. Tanda ancaman nan perlu diperhatikan antara lain muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan, mimisan, gusi berdarah, lemas berat, gelisah, tangan dan kaki terasa dingin, alias susah minum.
Jika muncul indikasi nan mengarah ke DBD, terutama disertai tanda bahaya, segera cari pertolongan tenaga kesehatan. Hindari menunda pemeriksaan lantaran DBD memerlukan pemantauan kondisi tubuh dan cairan secara cermat.
Cara Mencegah DBD saat Musim Kemarau
Pencegahan DBD paling efektif dimulai dari lingkungan terdekat. Fokus utamanya adalah memutus siklus hidup nyamuk dengan menghilangkan tempat berkembang biak. Langkah nan dikenal luas adalah 3M Plus, ialah menguras, menutup, dan mendaur ulang alias menyingkirkan peralatan nan dapat menampung air, ditambah langkah perlindungan lain.
- Menguras bak mandi, ember, alias wadah penampungan air secara rutin.
- Menutup rapat toren, drum, tempayan, dan wadah air lainnya.
- Menyingkirkan peralatan jejak seperti kaleng, botol, ban, dan plastik nan dapat menampung air.
- Membersihkan talang air, tatakan pot, vas bunga, dan wadah minum hewan.
- Menggunakan kelambu, kasa ventilasi, alias repelan sesuai kebutuhan.
- Memantau jentik di rumah dan lingkungan sekitar secara berkala.
Kesalahan Umum dalam Mencegah DBD
Banyak orang baru membersihkan lingkungan setelah ada kasus DBD di sekitar rumah. Padahal, pencegahan kudu dilakukan sebelum nyamuk berkembang. Kesalahan lain adalah hanya mengandalkan pengasapan alias fogging. Fogging dapat membantu mengurangi nyamuk dewasa dalam situasi tertentu, tetapi tidak menghilangkan telur dan jentik di tempat penampungan air.
Jika sumber jentik tidak dibersihkan, nyamuk baru dapat muncul kembali. Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi kunci utama.
Hal Praktis Cegah DBD di Rumah
- Periksa bak mandi, toren, ember, dan drum air.
- Buang air nan menggenang di tatakan pot dan wadah kecil.
- Balikkan ember alias wadah kosong agar tidak menampung air.
- Tutup rapat semua tempat penyimpanan air.
- Bersihkan laman dari botol, kaleng, plastik, dan ban bekas.
- Periksa talang air dan perspektif rumah nan jarang terlihat.
- Ajak tetangga melakukan pemeriksaan jentik bersama.
Pertanyaan Seputar DBD saat Musim Kemarau
1. Mengapa DBD tetap muncul saat kemarau?
DBD tetap muncul lantaran nyamuk penular dengue dapat berkembang di air bersih nan tergenang, termasuk air nan disimpan di rumah saat pasokan air terbatas.
2. Apakah hujan singkat saat tandus berbahaya?
Hujan singkat dapat mengisi wadah mini di sekitar rumah. Jika tidak dibersihkan, wadah tersebut bisa menjadi tempat jentik nyamuk.
3. Apakah bak mandi bersih bisa menjadi sarang nyamuk?
Bisa. Nyamuk DBD menyukai air nan relatif bersih dan tergenang. Karena itu, bak mandi tetap perlu dikuras dan disikat.
4. Apakah fogging cukup untuk mencegah DBD?
Fogging tidak cukup jika sumber jentik tetap ada. Pencegahan utama tetap menghilangkan tempat berkembang biak nyamuk.
5. Kapan kudu ke akomodasi kesehatan?
Segera periksa jika demam tinggi disertai lemas berat, muntah terus-menerus, nyeri perut, perdarahan, alias kondisi memburuk saat demam mulai turun.
6. Apa langkah paling sederhana mencegah DBD?
Mulailah dengan memeriksa semua wadah nan dapat menampung air di rumah, menutup tempat penyimpanan air, dan membersihkan jentik secara rutin.
Kesimpulannya, peningkatan DBD saat musim tandus terjadi lantaran kombinasi genangan air kecil, penyimpanan air rumah tangga, cuaca panas, dan kurangnya pemeriksaan jentik. Dengan menjaga lingkungan tetap bebas dari tempat perkembangbiakan nyamuk, akibat penularan DBD dapat ditekan sejak dari rumah. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·