
Kapal Virgo Transport 8. (Foto: Instagram/@virgokaryashipping)
MENGAPA bangkai kapal Virgo Transport 8 nan tenggelam belum juga diangkat ke permukaan? Mungkin ini jadi pertanyaan nan paling banyak muncul di akal publik saat ini.
Pasalnya, buntang KMP Virgo Transport 8 nan tenggelam di Laut Jawa hingga sekarang belum juga sukses diangkat ke permukaan. Padahal, keberadaan kapal di dasar laut menjadi salah satu hambatan utama dalam pencarian dan pemindahan korban nan tetap belum ditemukan.

Kapal tersebut mengalami kecelakaan pada 13 September 2026 setelah berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal kemudian terbalik dan tenggelam di perairan sekitar Masalembo, Laut Jawa.
Proses pencarian korban terus dilakukan. Namun, kondisi buntang kapal nan miring, tidak stabil, serta berada di bawah permukaan laut membikin penyelam tidak dapat dengan mudah menjangkau seluruh bagian kapal.
Lantas, kenapa buntang Virgo Transport 8 belum juga diangkat? Dilansir dari Reuters, berikut sederet argumen kenapa buntang kapal Virgo Transport 8 nan tenggelam belum juga diangkat ke permukaan.
1. Kondisi Kapal Tidak Stabil
Salah satu hambatan utama adalah posisi kapal nan tidak stabil. Basarnas menyebut kondisi tersebut membikin penyelam menghadapi akibat ketika mencoba masuk ke sejumlah bagian kapal. Karena itu, penyelaman tidak bisa dilakukan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan keselamatan personel.
Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis roll-on/roll-off nan mempunyai struktur lambung relatif tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika kapal berada dalam posisi terbalik dan kemudian tenggelam. Penyelam kudu memasuki bagian kapal nan gelap, terendam air, dan mempunyai struktur nan tidak mudah diprediksi.
Dilansir dari Reuters, penyelam menghadapi beragam bahaya, termasuk struktur kapal nan tidak stabil, puing tajam, konsentrasi gas, serta bahan bakar nan bocor. Kondisi tersebut membikin akses ke sejumlah kompartemen menjadi sangat berisiko.
2. Arus dan Kondisi Laut Menjadi Tantangan
Lokasi buntang kapal berada di Laut Jawa dengan kedalaman puluhan meter. Pada tahap awal operasi, arus di sekitar letak sempat sangat kuat.
Dilansir dari Reuters, kecepatan arus pernah mendekati 7 knot, jauh di atas pemisah nan dianggap kondusif untuk penyelaman. Kondisi tersebut kemudian membaik, tetapi tetap menjadi salah satu aspek nan kudu diperhitungkan dalam operasi bawah air. Gelombang dan angin juga dapat memengaruhi proses penyelaman maupun operasi salvage.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·