Menelisik Sejarah Gempa Teluk Moro Filipina

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Gempa Magnitudo 7,8 nan mengguncang Filipina, Senin (8/6/2026) lampau menyebabkan 35 orang negara tersebut meninggal dunia.  

Tak hanya menyantap korban jiwa, gempa nan sempat memicu peringatan tsunami di wilayah Indonesia, Jepang, dan Australia itu juga menyebabkan kerusakan gedung dan sejumlah fasilitas, termasuk sebuah gerai restoran sigap saji Jollibee, nan hancur menjadi puing-puing. Selain itu, tanah longsor juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah terdampak.

Selain korban jiwa, sedikitnya 134 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut. Otoritas juga melaporkan sekitar 10.000 family terpaksa mengungsi dari rumah mereka lantaran kerusakan gedung dan kekhawatiran bakal gempa susulan, dikutip dari laman BBC, Selasa (9/6/2026).

Pulau Mindanao merupakan pulau terbesar kedua di Filipina, baik dari sisi luas wilayah maupun jumlah penduduk. Kawasan ini dihuni sekitar 26 juta jiwa dan kerap mengalami aktivitas seismik lantaran berada di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

Sementara itu, Daryono Pengamat dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan, wilayah Teluk Moro, yg terletak di selatan Filipina, memang merupakan salah satu area dengan aktivitas tektonik paling kompleks di dunia. Secara pengetahuan bumi dan tektonik, area ini didominasi oleh Zona Subduksi Cotabato, sebuah sistem palung aktif di mana Lempeng Laut Sulawesi menunjam di bawah Lempeng Mikro Mindanao.

"Gempa 17 Agustus 1976 M8,0 merupakan manifestasi pelepasan daya deformasi elastis nan masif akibat hubungan konvergensi lempeng. Sebagai gempa jenis megathrust nan berasal pada sesar naik (thrust faulting), peristiwa ini menghasilkan dislokasi vertikal dasar laut yangg signifikan, yangg menjadi sistem pembangkit tsunami (tsunamigenik)," terangnya.

Karakteristik tsunami nan dihasilkan, kata Daryono, sangat destruktif lantaran lokasinya nan berada di perairan dangkal dan sempit di Teluk Moro. Kurangnya pemahaman mitigasi saat itu menyebabkan tingginya nomor mortalitas, ialah 90% korban jiwa disebabkan oleh tsunami, bukan guncangan gempa itu sendiri.

"Gelombang tsunami nan mencapai ketinggian hingga 9 meter di Lebak menunjukkan besarnya pergeseran vertikal kolom air akibat pergerakan thrusting tersebut," katanya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita