Mendikdasmen Soroti Literasi Siswa RI Rendah, Beberkan 3 Solusi Utama

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Mendikdasmen Abdul Mu'ti saat aktivitas Pencanangan Kolaborasi Penguatan Literasi dan Numerasi di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan, diperlukan langkah konkret untuk meningkatkan keahlian literasi dan numerasi peserta didik di Indonesia.

Hal ini disampaikan Mu'ti dalam Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional berbareng UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4).

Mu’ti merujuk capaian siswa pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) nan belum terlalu maksimal dalam membaca dan menulis.

“Tes keahlian akademik pada tahun ini nan pertama kali kita selenggarakan, tahun lampau untuk tingkat SMA alias tingkat SLTA. Alhamdulillah melangkah dengan baik, dan pekan ini diselenggarakan TKA untuk jenjang SMP, dan pekan depan untuk jenjang SD. Hasilnya sudah kita ketahui juga. Kira-kira hasilnya juga tidak jauh berbeda dengan hasil tes PISA,” ujar Mu’ti.

“Dan itu menunjukkan bahwa we are not yet recovered from our problems with regard to the low achievement of literacy and numeracy. Kita belum sepenuhnya bisa mengatasi persoalan nan sangat esensial mengenai dengan keahlian dasar ialah membaca dan menulis,” lanjutnya.

Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira (kedua kiri) berbincang dengan siswa saat meninjau penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TPA) di SMPN 1 Cimahi, Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (6/4/2026). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

Menurutnya, keahlian dasar membaca, menulis, dan berbilang menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran. Kemampuan ini tidak hanya krusial untuk penguasaan ilmu, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa.

“Dan oleh lantaran itu maka program ini menjadi sangat penting. Program ini difokuskan pada anak-anak sekolah dasar pada tahun-tahun awal. Dan itu memang menjadi fondasi penting, dulu ada istilah namanya calistung, membaca, menulis, dan berhitung,” katanya.

video from internal kumparan

Tiga Strategi Utama

Dalam upaya meningkatkan keahlian tersebut, Mu’ti menekankan ada tiga perihal utama nan perlu dilakukan.

  • Pertama, membangun kompetensi siswa melalui proses pembelajaran nan sesuai usia dan menggunakan strategi nan mendorong keahlian berpikir dasar.

“Yang pertama tentu membangun kompetensi. Dan membangun kompetensi itu bisa kita lakukan jika nan pertama proses pembelajaran itu diselenggarakan sesuai dengan tidak hanya tingkat usia, tetapi juga dengan strategi-strategi baru nan mendorong kemampuan-kemampuan terutama juga keahlian berpikir tingkat dasar,” jelasnya.

Ia menekankan literasi dan numerasi tidak dapat dipisahkan dari keahlian berpikir. Kemampuan memahami teks dan mengolah logika menjadi parameter krusial dalam menilai kecakapan siswa.

“Kita memandang di lapangan belum seluruhnya proses belajar terutama mendasarkan keahlian untuk membaca dan menulis itu diberikan secara tepat. Sering sekali perihal ini dilupakan lantaran membaca bukan sekadar mengeja huruf, tetapi membaca itu adalah keahlian untuk menalar, keahlian memahami apa nan dibaca dan itu bisa dimulai dari perihal nan sangat sederhana, sangat basic,” tambahnya.

  • Kedua, membangun kebiasaan membaca alias reading habit di kalangan siswa. Menurut Mu’ti, kebiasaan membaca dan kompetensi membaca kudu melangkah beriringan.

“Kemudian nan kedua adalah gimana membangun kebiasaan reading engagement. Bagaimana anak-anak itu mempunyai reading habit, kebiasaan membaca. nan kebiasaan membaca dengan kompetensi membaca ini bisa dua-duanya saling melengkapi,” ujarnya.

Ia menyebut, kebiasaan membaca dapat dibentuk melalui penyediaan bahan referensi nan menarik dan sesuai dengan kebutuhan anak.

  • Ketiga, membentuk budaya membaca alias reading culture dengan memastikan kesiapan bahan referensi di beragam lingkungan.

“Dan baru kemudian kita membentuk namanya reading culture alias budaya membaca. nan ini memang sangat berkait dengan gimana kita membikin bahan referensi itu tersedia, availability of reading materials. Di mana-mana mereka ketemu buku, di mana-mana mereka bisa menemukan bahan bacaan,” kata Mu’ti.

“Tentu bahan referensi tidak kudu selalu berupa buku, bisa berupa koran, bisa berupa majalah alias apa pun bahan referensi nan mendorong menstimulasi anak kita ini untuk senantiasa lekat dekat dan membiasakan diri membaca,” tambah dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan