Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menganjurkan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi sekolah di wilayah nan terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Jadi, daerah-daerah nan memang tidak kondusif maka sangat dianjurkan untuk tidak melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah," kata Mu'ti dalam bertemu pers daring, Minggu (6/9).
Namun, dia mengimbau agar proses tersebut tetap mengikuti patokan nan dikeluarkan resmi pemerintah wilayah terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, dia bilang pihaknya tak bisa menetapkan wilayah terdampak langsung letusan. Hingga saat ini, info BNPB menyebut abu vulkanik tetap bergerak bergerak pergerakan arah angin.
Tapi, Kemendikdasmen, kata Mu'ti, keselamatan siswa dan pendidik menjadi prioritas. Sehingga, jika wilayah dianggap berbahaya, pembelajaran tak boleh dilakukan secara langsung.
Pertama, tidak melakukan aktivitas di luar kelas seperti olahraga. Kedua, aktivitas dalam kelas dilakukan dengan ketat agar debu tak sampai masuk.
"Kalau misalnya oleh otoritas tetap memungkinkan, itu pun tetap dilakukan dengan protokol kesehatan nan tetap," kata dia.
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi cukup besar sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9), menyebabkan sejumlah wilayah terutama di Lampung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta terdampak abu vulkanik.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, berasas info dari PVMBG dan VAAC Darwin dan hasil kajian RGB Citra Himawari-9, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua sebaran.
Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut-selatan nan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya.
Sebaran kedua bergerak ke arah barat daya - barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian Selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten.
(thr/isn)
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·