Sekelompok laki-laki berbaju oranye di Pulau Nusakambangan, Cilacap saling berjibaku menjaring udang vaname nan telah panen dari sebuah kolam. Di tepinya, terdapat keranjang besar bertumpuk-tumpuk berisi hasil tangkapan udang vaname nan jumlahnya tak terhitung.
Ditaksir, dalam setiap satu keranjangnya, terkumpul udang vaname seberat 50 kilogram. Dalam dua bulan terakhir, ada 70 ton udang vaname nan sukses dipanen. Itu semua adalah hasil budidaya nan diurus setiap hari oleh para narapidana Lapas Permisan Nusakambangan.
“Ya kita sehari-harinya kasih pakan, kasih vitamin gitu. Kasih pakan sehari lima kali. Jam 6 pagi, jam 10 pagi, jam 2 siang, jam 6 sore, sama jam 10 malam,” tutur salah satu narapidana Lapas Permisan, Rafik (28), Sabtu (20/6).
“Vitamin kadang pagi sama sore, dua kali,” sambungnya.
Ada sebanyak 20 kolam udang vaname dalam lahan 7,5 hektar di Nusakambangan, serta 15 narapidana nan dikerahkan untuk mengurusnya. Setiap satu narapidana kudu merawat satu kolam dengan luas 3.000 meter persegi, salah satunya Rafik.
Rafik, seperti halnya narapidana lain, dipercaya untuk merawat kolam ini lantaran masa tahanannya bakal usai. Oleh lantaran itu, pihak lapas memberikan ruang kepada narapidana untuk menjalani asimilasi.
“Ya dua tahun lah (akan keluar dari tahanan),” ungkap Rafik.
Narapidana lain nan juga merawat kolam udang vaname ini, Aldi (29) mempunyai sisa lama masa tahanan nan lebih singkat dari Rafik.
“Kalau saya 5 Agustus kelak (keluar),” kata Aldi.
Sebelum dikerahkan, mereka pun hanya dibekali pengarahan secara umum dalam merawat udang vaname. Selebihnya, mereka pelajari sendiri dengan praktik langsung.
“Otodidak semua. Ya dari vendor kan hanya ngasih pengarahan aja. Anak-anak nan langsung eksekusi aja,” ungkap Aldi.
Dengan dilibatkannya dalam tambak udang ini, mereka mengaku senang karena dapat mempunyai kesibukan di tengah kejemuan dalam tahanan. Terlebih, keahlian mereka pun bertambah.
“Yang jelas itu senang, lebih produktif, lebih pengalaman, dan tambah relasi. Tambah skill juga,” ujar Aldi.
Selain itu, mereka juga mendapatkan premi. Tiap bulan, setiap narapidana di tambak udang vaname memperoleh Rp 1.500.000 per bulan.
Rafik menyimpan sebagian besar premi nan diperolehnya. Hal itu untuk ditabungnya dalam menyambut kebebasan nan bakal datang.
“Ada tabungannya. Untuk bekal kelak setelah dari sini,” sebut Rafik.
Sementara itu, Aldi meletakkan angan besar atas keahlian nan telah dibentuknya di tambak udang vaname. Ia berharap, saat bebas, dapat bekerja di vendor udang.
“Ya semoga jika keluar ini bisa mendapatkan pekerjaan nan lebih baik, contoh masuk di pihak vendor udang,” tutur Aldi.
Selain itu, tepat di seberang Lapas Kembangkuning, terdapat kebun anggur nan telah berbuah. Secara telaten, kebun itu dirawat oleh dua narapidana. Salah satunya adalah Soiri (47) nan lebih piawai.
“Saya di sini satu tahun setengah,” sebut Sohiri.
Selama mengurus kebun anggur, Sohiri tidak lagi mencemaskan soal statusnya sebagai tahanan. Kejenuhannya pun hilang.
“Dalam jalani balasan di sini ya lupalah maksudnya enggak terlalu dipikir gitu lho. Daripada di dalam, jenuh,” ujar Soiri.
Seperti narapidana sebelumnya, Sohiri berambisi kemampuannya ini dapat berfaedah kelak jika sudah bebas dalam satu tahun mendatang. Namun harapannya sederhana, kemampuannya dapat berfaedah untuk lingkungan sekitarnya.
“Insyaallah jika ada lahan nan kosong, jika kerabat punya, jika tetangga punya, bisa lah kerja di sana,” tutur Soiri.
Jauh lebih unik, terdapat narapidana nan dijuluki sebagai ‘dokter hewan’ oleh rekan-rekannya. Hal itu lantaran wawasannya sangat kuat mengenai kesehatan kambing nan berada di peternakan nan letaknya tak jauh dari kebun anggur.
Ia adalah Asnawi (31), narapidana nan bakal bebas dalam sembilan bulan mendatang. Wawasannya mengenai kesehatan kambing tersebut diperoleh dari training nan sempat diberikan kepada narapidana selama lima bulan pertama peternakan tersebut pada tahun 2025.
“Jadi saya pelajari, saya tanya ini gimana langkah ngatasinya dan ciri-ciri dia mau sakit ataupun dia sehat bagaimana, gimana ciri-ciri dan tanda-tandanya. Jadi dikasih tahu,” tutur Asnawi.
Ada 620 kambing di peternakan tersebut nan dikelola oleh 12 narapidana, namun kesehatan kambing hanya diawasi oleh Asnawi karena hanya dia nan mampu. Asnawi pun menjelaskan kesehatan kambing itu dapat terlihat dari posisi kepalanya.
“Kalau nan sehat nan pertama dia kepalanya nggak selalu nunduk. Nih semisal ini kan nggak nunduk kepalanya. Ini tanda-tanda kambing sehat,” ujar Asnawi sembari menunjukkan sejumlah kambing.
“Tetapi jika kepalanya sudah nunduk tapi dia diam, itu nggak sehat. Nunduk dan diam, itu nggak sehat. Nah itu ciri-ciri dia mau sakit,” imbuhnya.
Meski demikian, Asnawi belum merasa puas dengan wawasannya. Ia mau mempelajari soal vaksin terhadap kambing.
“Kebetulan kemarin itu nan belum saya pelajarin kan kayak vaksin. Untuk vaksin semisal nih untuk sekaligus dua penyakit hilang, kayak kutu sama cacingan,” sebutnya.
Adapun dengan merawat kambing-kambing tersebut, Asnawi menerima premi sebesar Rp 300 ribu per bulan.
“Lumayan untuk tabungan. Walaupun tidak semua, setidaknya kayak sebulan 300, 100 lah untuk tabungan, nan 200 kita pakai buat jajan kan gitu,” jelasnya.
Asnawi mengharapkan kemampuannya ini dapat menjadi bekalnya saat bebas. Khususnya untuk membuka peternakan sendiri.
“Ya insyaallah jika semisal kelak kita bebas, setidaknya sudah ada bekal. Ya siapa tahu kita berkeinginan untuk buka upaya kayak gini juga,” harapnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·