Menag Sebut Indonesia Penuhi Syarat Jadi Pusat Peradaban Islam Dunia

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di MAN Insan Cendekia Serpong, Jumat (22/5/2026). Foto: Dok. Istimewa

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut Indonesia mempunyai kesempatan besar menjadi pusat alias episentrum peradaban Islam modern dunia.

Menurutnya, Indonesia memenuhi beragam syarat untuk mengemban peran tersebut, khususnya dari pertumbuhan ekonomi.

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 MUI di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (26/7).

Nasaruddin mengatakan, tema besar nan diusung dalam KUII ke depan perlu lebih berani mengarah pada cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam modern dunia.

“Dan ujungnya kelak insyaallah tentu kita berambisi apa nan kita lakukan baru-baru ini kongres nan ke-8, mungkin tema nan bakal datang, kita kudu lebih berani sedikit untuk mengangkat gimana menjadikan Indonesia sebagai episentrum peradaban bumi modern Islam nan bakal datang,” kata Nasaruddin.

Ia kemudian menilai, area Timur Tengah nan selama ini menjadi pusat lahirnya Islam sekarang menghadapi beragam tantangan.

“Karena satu sisi bisa kita mengatakan bahwa jangan-jangan memang sudah selesai tugasnya Timur Tengah melahirkan Islam, sekarang terbebani dengan begitu banyak beban, ya kita lihat pertumbuhan ekonomi di area itu sangat menurun. Saudara bisa lihat hanya pertumbuhannya sekitar 2,2 persen. Inflasinya sangat tinggi,” ujarnya.

Nasaruddin membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia. Ia mengatakan Indonesia menjadi negara kebanyakan Muslim dengan tingkat inflasi nan rendah sekaligus mempunyai pertumbuhan ekonomi nan tinggi.

“Negara Muslim nan paling rendah inflasinya adalah Indonesia, kita hanya satu, 1 sampai 2 persen. Dan negara Muslim nan paling tinggi pertumbuhan ekonominya, kita 5,2 persen per hari ini,” tuturnya.

“Berarti sangat memenuhi syarat untuk menjadi pengampu kejayaan peradaban bumi Islam nan bakal datang,” lanjut dia.

Situasi Damai jadi Modal Penting

Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri Kongres Umat Islam Indonesia VIII "Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat" oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) di area Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menurut Nasaruddin, situasi tenteram menjadi modal krusial dalam melahirkan sumber daya manusia nan berkualitas. Berbeda dengan area nan terus dilanda konflik.

“Di area nan sibuk dengan peperangan, tentu nan lahir adalah banyak jenderal. Tetapi di tengah masyarakat nan menikmati ketenangan, tentu nan bakal lahir adalah para profesor, para kiai,” kata Nasaruddin.

“Oleh lantaran itu, mari kita merawat ketenangan, kesejukan, kedamaian, ya. Dan inilah nan bakal menyajikan masa depan nan lebih baik,” sambungnya.

Nasaruddin mengingatkan tetap terdapat sejumlah pekerjaan rumah nan kudu diselesaikan Indonesia andaikan mau menjadi pusat peradaban Islam dunia. Salah satunya adalah meningkatkan kesadaran terhadap ekonomi syariah.

“Kolaborasi antara pemerintah dan pemimpin umat beragama. Antara lain ya unik untuk umat Islam, kita mesti memandang angka-angka nan belum simetris. Kita sebagai negara terbesar umat Islamnya, tetapi kesadaran syariahnya dilihat dari segi ukuran kesadaran ekonomi syariah kita itu baru terukur 7,5 persen. Padahal kita penduduknya 240 juta,” katanya.

Ia membandingkan capaian Indonesia dengan Malaysia nan menurutnya mempunyai tingkat kesadaran ekonomi syariah jauh lebih tinggi meski jumlah masyarakat Muslimnya lebih sedikit.

“Malaysia hanya 20 juta umat Islamnya, tapi kesadaran ekonomi syariahnya 27 persen. Ada nan perlu kita selesaikan di sini,” tutur Nasaruddin.

“Prestasi perbankan syariah kita itu belum bisa menggeser melampaui nomor 8 poin. Padahal ini kita sudah sekian lama, sudah dua dasawarsa kita memperkenalkan perbankan syariah tetapi tetap berkutat dengan nomor di bawah 10,” jelas Nasaruddin.

“Nah kita bandingkan dengan tetangga kita di Malaysia. Karena itu ada pendekatan non-ekonomi nan kudu kita lakukan dalam rangka meningkatkan kualitas perekonomian kita,” lanjutnya.

Selain itu, dia juga membujuk seluruh komponen umat Islam bersinergi mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto, khususnya mengenai penguatan penerapan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

“Jika itu dilakukan, nan bakal menjadi penikmat terhadap kebijakan ini adalah umat Islam,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan