Membangun Literasi dari Rumah dan Pinggiran Negeri

Sedang Trending 1 jam yang lalu
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

PENDIDIKAN selalu menempati posisi krusial dalam beragam obrolan tentang masa depan bangsa. Ketika berbincang mengenai kualitas pendidikan, perhatian publik umumnya tertuju pada sekolah sebagai pusat proses belajar. Ruang kelas, kurikulum, kompetensi guru, dan capaian akademik sering kali menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan. Berbagai upaya perbaikan pun terus dilakukan untuk memperkuat aspek-aspek tersebut sebagai bagian dari ikhtiar membangun sumber daya manusia nan lebih berkualitas.

Namun, gambaran itu menjadi berbeda ketika kita menoleh ke wilayah-wilayah nan jauh dari pusat kota, di mana akses terhadap teknologi, kitab bacaan, apalagi sekolah nan stabil tetap terbatas. Di beberapa kampung, anak-anak justru pertama kali mengenal huruf bukan dari bangku sekolah, melainkan dari bunyi ibu mereka sendiri nan perlahan mengeja huruf demi huruf di rumah sembari menemani aktivitas sehari-hari. Di ruang-ruang sederhana itulah, sebelum papan tulis dan kurikulum hadir, bahasa dan makna mulai diperkenalkan secara paling dasar.

Namun, di kembali kekuasaan langkah pandang tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar nan kerap luput dari perhatian: dari mana sebenarnya pendidikan dimulai? Apakah proses belajar seorang anak betul-betul berasal ketika dia memasuki ruang kelas, alias justru jauh sebelumnya, ketika dia mulai berinteraksi dengan bahasa, mendengar cerita, dan membentuk langkah berpikir melalui lingkungan terdekatnya?

Dalam kenyataannya, proses belajar telah berjalan jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah. Percakapan di rumah, kebiasaan mendengar cerita, hubungan sehari-hari, hingga respons orang dewasa terhadap rasa mau tahu anak membentuk fondasi awal literasi secara perlahan tapi konsisten. Di titik ini, literasi tidak datang sebagai capaian akademik, tetapi sebagai pengalaman hidup nan membentuk langkah anak memahami bumi dan menafsirkan makna.

KRISIS LITERASI DAN KETERBATASAN PENDEKATAN SEKOLAH-SENTRIS

Dalam praktik kebijakan pendidikan di Indonesia, literasi tetap condong dipahami sebagai capaian nan bertumpu pada ruang sekolah. Intervensi negara lebih banyak diarahkan pada penguatan kurikulum, proses pembelajaran di kelas, serta instrumen pertimbangan akademik. Cara pandang ini membikin literasi sering direduksi menjadi hasil akhir pendidikan formal, bukan sebagai proses sosial nan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari anak.

Pendekatan ini melahirkan implikasi struktural nan serius: sekolah menjadi pusat tunggal produksi literasi, sementara family diposisikan sebagai ruang pendukung nan tidak strategis. Padahal, secara sosiologis, anak pertama kali mengenal bahasa, simbol, dan pola berpikir justru di luar lembaga formal.

Jika kita terus menganggap sekolah sebagai pusat literasi tunggal, anak-anak di pinggiran negeri bakal tertinggal jauh. Misalnya, di beberapa sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), meski gedung bentuk sudah ada, anak-anak tetap kesulitan membaca lantaran pembimbing kudu membagi waktu mengajar puluhan siswa sekaligus, dan tidak ada pendampingan literasi di rumah. Akibatnya, keahlian membaca anak-anak ini jauh di bawah standar nasional, meski sekolah secara umum sudah 'berfungsi'.

Kesenjangan ini terlihat dari tetap terbatasnya integrasi family dalam kreasi kebijakan literasi nasional. Kebiasaan membaca, keahlian berbahasa, dan langkah anak memahami bumi tidak hanya dibentuk di sekolah, tetapi juga melalui hubungan sehari-hari di rumah. Ketika kebijakan terlalu bertumpu pada lembaga formal, ruang domestik nan justru menjadi titik awal pembentukan literasi tidak memperoleh perhatian nan memadai.

Faktanya, tanpa support aktif keluarga, program literasi di sekolah sering berakhir pada aktivitas membaca di kelas, tanpa bersambung di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan literasi anak tidak bisa hanya diukur dari jumlah kitab di perpustakaan alias jam belajar di kelas. Akibatnya, persoalan literasi tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperkuat sekolah. Tanpa penguatan ekosistem keluarga, upaya peningkatan kualitas pendidikan bakal terus menghadapi pemisah struktural nan sama.

RUMAH SEBAGAI FONDASI LITERASI

Jika rumah dipahami sebagai fondasi awal literasi, terdapat satu simpul krusial nan selama ini kurang mendapatkan perhatian dalam kreasi kebijakan pendidikan: wanita dalam ruang domestik. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan, terutama ibu, mempunyai posisi sentral dalam pembentukan keahlian berkata dan berpikir anak. Melalui hubungan nan berjalan secara berulang, mereka memperkenalkan bahasa, membangun komunikasi, serta membentuk kebiasaan kognitif nan menjadi dasar literasi awal.

Sejumlah kajian empiris menunjukkan bahwa pendidikan ibu berkorelasi dengan perkembangan literasi anak. Namun, hubungan ini tidak berkarakter langsung alias mekanistik. Pengaruhnya bekerja melalui kualitas lingkungan rumah sebagai ruang belajar awal, nan ditentukan oleh gimana pengetahuan dan pengalaman ibu diterjemahkan dalam praktik pengasuhan sehari-hari.

Indikator mikro dalam family seperti intensitas percakapan, kebiasaan membaca bersama, respons terhadap pertanyaan anak, serta kesiapan bahan referensi di rumah menjadi aspek kunci nan menjembatani hubungan tersebut. Misalnya, seorang ibu nan secara rutin membacakan kitab cerita kepada anaknya, menanyakan isi cerita, dan membujuk anak menulis kata-kata baru, secara tidak langsung menyiapkan keahlian membaca dan berpikir kritis anak jauh sebelum mereka memasuki sekolah formal. Dengan demikian, rumah berfaedah sebagai ruang produksi literasi awal nan bekerja jauh sebelum anak memasuki pendidikan formal.

Kenyataannya, literasi anak di sekolah tidak selalu mencerminkan keahlian dasar nan memadai. Masih banyak siswa SMP apalagi SMA nan terbata-bata membaca teks sederhana, menunjukkan bahwa literasi bukan hanya soal ‘bisa membaca’, tetapi juga berangkaian dengan kebiasaan membaca nan terbentuk sejak di rumah dan lingkungan terdekat. Anak nan tumbuh dalam family nan aktif membaca dan berbincang umumnya mempunyai kesiapan nan lebih baik dalam memahami pelajaran, membangun karakter, dan menumbuhkan kepercayaan diri.

Dalam beragam diskursus kebijakan pendidikan, peran family dan wanita dalam ekosistem literasi mulai mendapatkan perhatian nan lebih besar. Hal ini juga tecermin dalam beragam ruang perbincangan kebijakan, termasuk dalam gelar wicara berjudul Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi, nan diselenggarakan Kemendikdasmen pada 21 April 2026 di Jakarta, di mana ditekankan bahwa penguatan literasi tidak dapat dilepaskan dari peran family sebagai ruang pendidikan awal. Literasi tidak lagi semata dipahami sebagai tanggung jawab sekolah, melainkan sebagai kerja berbareng antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.

Meskipun demikian, penguatan peran tersebut tetap belum sepenuhnya terintegrasi dalam kreasi kebijakan pendidikan nan operasional. Akibatnya, terdapat kesenjangan antara pengakuan terhadap pentingnya literasi family dan implementasinya di lapangan. Padahal, kesenjangan ini menjadi semakin nyata jika dilihat dari konteks wilayah-wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan, di mana peran family justru semakin menentukan kuat alias rapuhnya fondasi literasi anak sebelum memasuki pendidikan formal.

MEMPERKUAT LITERASI DARI PINGGIRAN

Di banyak konteks sosial, rumah justru menjadi satu-satunya ruang pendidikan nan stabil bagi anak, terutama di wilayah 3T. Ketika akses ke sekolah terbatas, jarak jauh, alias akomodasi sekolah belum optimal, lingkungan family tidak sekadar mendukung, tetapi mengambil peran utama dalam membentuk pengalaman belajar awal anak.

Interaksi sederhana—membaca bersama, bercerita, menulis catatan harian—bukan hanya aktivitas rutin, melainkan fondasi literasi nan menentukan keahlian membaca, menulis, dan berpikir kritis anak sejak dini. Tanpa fondasi ini, sekolah terbaik sekalipun bakal kehilangan maknanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kemendikdasmen memang telah mengambil langkah konkret di wilayah 3T, termasuk Papua Barat dan Papua Barat Daya. Perbaikan ruang kelas, pembangunan perpustakaan, laboratorium, dan akomodasi sanitasi memang meningkatkan kenyamanan belajar. Di Pulau Arar, Kabupaten Sorong, dan Manokwari, pemerintah memperluas akses pendidikan melalui support sekolah dan pembangunan satuan pendidikan baru. Langkah-langkah ini jelas menunjukkan komitmen untuk menjangkau wilayah pinggiran. Namun, jika hanya berakhir pada perihal itu, upaya ini tetap belum menyentuh akar masalah literasi di 3T. Persoalan literasi di wilayah 3T tidak bisa disederhanakan sebagai masalah prasarana sekolah semata. nan lebih mendasar adalah rapuhnya ekosistem literasi di rumah dan lingkungan sekitar.

Fakta menunjukkan bahwa meski gedung sekolah tersedia, banyak siswa menengah belum bisa membaca lancar alias memahami teks sederhana secara utuh. Masalahnya bukan soal akses, melainkan absennya budaya membaca dan praktik literasi nan berkepanjangan di rumah. Tanpa ekosistem ini, setiap jam pelajaran di kelas menjadi terputus, dan anak kembali ke rumah tanpa kesempatan untuk memperkuat apa nan telah dipelajari.

Inilah pemisah dari pendekatan sekolah-sentris nan selama ini dominan. Sekolah bekerja dalam keterbatasan waktu, ruang, dan jumlah guru, sementara rumah kerap tidak dimanfaatkan sebagai ruang belajar nan efektif. Akibatnya, literasi berakhir pada aktivitas teknis ‘membaca di sekolah’, bukan menjadi kebiasaan kognitif nan hidup dalam keseharian anak. Jika pola ini dibiarkan, kesenjangan literasi di wilayah 3T bakal terus berulang, meskipun akses sekolah semakin diperluas.

Karena itu, penguatan literasi di pinggiran tidak cukup hanya dengan membangun sekolah. Fokus kudu diperluas hingga rumah menjadi ruang belajar pertama nan sesungguhnya. Kebijakan pendidikan nasional perlu menegaskan bahwa literasi family adalah bagian strategis dari pembangunan sumber daya manusia. Sekolah dan family kudu melangkah seiring; tanpa rumah nan aktif mendorong anak membaca, menulis, dan berpikir kritis, setiap upaya memperbaiki sekolah hanya bakal menjadi formalitas.

Dengan demikian, pembangunan pendidikan di wilayah 3T bisa dilihat dari sejauh mana ekosistem literasi di rumah sukses diperkuat, dan sejauh mana family menjadi mitra aktif dalam pendidikan anak.

Penguatan literasi di rumah bukan sekadar strategi, melainkan keharusan absolut untuk memastikan setiap anak Indonesia, terutama nan tinggal di pinggiran, mempunyai fondasi belajar nan kokoh sebelum memasuki pendidikan formal.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia