Membaca Peringatan Dini Lembaga-Lembaga Internasional

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Membaca Peringatan Dini Lembaga-Lembaga Internasional (MI/Seno)

SEJALAN dengan hiruk pikuk di ruang diskursus publik saat ini mengenai dengan keahlian perekonomian nasional nan dikaitkan dengan gelombang protes kalangan mahasiswa, ada baiknya kita semua--termasuk para pengambil kebijakan di pemerintahan--untuk membaca dan merenungkan dengan kepala dingin catatan editorial dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) jenis Juni 2026.

Dengan titel Prospek Ekonomi OECD: Di Bawah Tekanan, lembaga ini mengawali editorialnya dengan isu-isu mengenai perang Iran. Menurut OECD, bentrok di Timur Tengah telah menjadi aspek dominan nan membentuk prospek ekonomi global. Aktivitas ekonomi menunjukkan ketahanan cukup besar, ditopang investasi kuat dalam kepintaran buatan, kondisi finansial mendukung, dan meredanya ketegangan perdagangan. Prospek pertumbuhan dunia tampaknya siap untuk revisi ke atas nan signifikan.

Namun, ekonomi dunia sekarang kembali berada di bawah tekanan. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, berbareng dengan kerusakan prasarana energi, telah memicu kenaikan tajam nilai daya dan meningkatkan biaya pupuk dan input industri krusial lainnya. Biaya lebih tinggi memicu tekanan inflasi, melemahkan kepercayaan, dan membebani permintaan rumah tangga dan aktivitas bisnis.

SUMBER MASALAH PADA KONFLIK TIMUR TENGAH

Evolusi bentrok Timur Tengah tetap belum pasti, tetapi akibat ekonominya mungkin dirasakan beberapa waktu ke depan, apalagi setelah penyelesaiannya. Menyadari ketidakpastian ini, OECD membingkai proyeksi dunia melalui pendekatan berbasis skenario. Analisis OECD mempertimbangkan dua kemungkinan, ialah skenario gangguan terbatas waktu dan berumur relatif pendek serta skenario gangguan berkepanjangan dengan akibat negatif lebih luas dan lebih lama.

Penyelesaian tenteram nan segera bakal membawa kelegaan bagi orang-orang di area Teluk, juga meletakkan dasar untuk resolusi atas gangguan nan ditimbulkannya pada ekonomi global. Dengan dugaan nilai daya secara berjenjang turun mulai pertengahan 2026 dan seterusnya, secara luas sejalan dengan ekspektasi pasar saat ini, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat dari 3,4% pada 2025 menjadi 2,8% pada 2026 sebelum pulih menjadi 3,1% pada 2027.

OECD juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,7% pada 2026 alias revisi ke bawah dari proyeksi sebelumnya akibat tekanan ekonomi global, seperti lonjakan biaya daya dan ketidakpastian kebijakan mengenai bentrok di Timur Tengah.

Inflasi nilai konsumen (IHK) tahunan di negara-negara G-20 diperkirakan naik menjadi 4,0% pada 2026 dari 3,4% pada 2025, sebelum mereda menjadi 3,1% pada 2027 lantaran tekanan nilai daya dan pangan memudar.

Beberapa kepala negara dan/atau pemerintahan telah bergerak sigap untuk memberikan support kepada rumah tangga dan perusahaan dari nilai daya dunia nan tinggi--sebagian besar melalui langkah-langkah berbasis luas melalui kesiapan anggaran subsidi dalam fiskalnya. Maklum, ruang fiskal makin terbatas lantaran kenaikan anggaran subsidi, program support sosial dan tingginya utang publik. Dengan demikian, pengelolaan anggaran secara efisien, efektif, dan andal menjadi absolut dilakukan, terutama jika tekanan eksternal berlarut-larut.

Menurut OECD, jika pertumbuhan melemah secara substansial, beban untuk meredam aktivitas sebagian besar bakal jatuh pada kebijakan fiskal, mengingat terbatasnya ruang bagi kebijakan moneter untuk bertindak. Pada saat nan sama, pilihan kebijakan perlu dikalibrasi dengan hati-hati untuk menghindari tekanan di pasar energi, menambah tekanan inflasi, dan mendistorsi keberlanjutan fiskal.

SENADA DENGAN FITCH RATINGS

Catatan OECD tersebut senada dengan laporan Fitch Ratings dengan titel Prospek Ekonomi Global – Juni 2026. Disebutkan, perang antara Israel-AS dan Iran serta guncangan nilai minyak bumi telah menyeret pertumbuhan dunia dan mendorong inflasi.

Prospek pertumbuhan bumi telah dirugikan oleh krisis minyak, dipicu oleh bentrok di Iran. Pertumbuhan dunia pada 2026 telah direvisi turun sebesar 0,2 poin persentase (pp) menjadi 2,4%, terutama sebagai respons terhadap nilai minyak nan lebih tinggi. Pemotongan perkiraan telah tersebar luas lantaran inflasi lebih tinggi menekan bayaran riil, meredam konsumsi, dan meningkatkan biaya input perusahaan.

Namun, akibat guncangan nilai minyak pada aktivitas dunia didukung momentum lebih kuat daripada perkiraan investasi di bagian AI dan mikrocip (bahan semikonduktor), sehingga setidaknya mendukung perdagangan bumi dan ekspor area Asia. Fitch telah meningkatkan perkiraan pertumbuhan Tiongkok dan Korea Selatan menyusul info nan sangat baik pada kuartal I 2026 dan peningkatan prospek ekspor dari ledakan teknologi.

Pertumbuhan AS pada 2026 telah direvisi turun sebesar 0,3pp dari Global Economic Outlook (GEO) Maret lampau menjadi 1,9% dan pertumbuhan Zona Euro telah dipangkas sebesar 0,4pp menjadi 0,9%. Pertumbuhan di negara berkembang (EM) --tidak termasuk Tiongkok--pun telah dipangkas sebesar 0,2pp menjadi 3,2%, tetapi perkiraan untuk Tiongkok sendiri telah dinaikkan sebesar 0,3pp menjadi 4,6%.

Dampak inflasi dari guncangan nilai minyak mengubah stance kebijakan moneter dunia nan condong ketat (hawkish). Bank-bank sentral cemas guncangan nilai dapat menyebabkan akibat persisten pada inflasi. Suku kembang kebijakan diperkirakan bergerak naik di saat kebijakan fiskal lebih tidak ekspansif. The Fed dan Bank of England (BoE) diperkirakan mempertahankan suku kembang referensi tahun ini, tetapi bakal melanjutkan pemotongan pada 2027.

Bank Sentral Eropa (ECB) telah meningkatkan suku kembang referensi sebesar 25 pedoman poin (bp) pada Juni lalu, tetapi diperkirakan berbalik arah di tahun depan sekiranya ekspektasi inflasi melandai. Bank sentral Jepang (BOJ) pekan ini sudah meningkatkan suku kembang referensi sebesar 25 bps dari 0,75% menjadi 1,0% nan merupakan level tertinggi dalam tiga dasawarsa terakhir.

Pertumbuhan Zona Euro diperkirakan melambat menjadi 0,9% tahun ini dari 1,4% pada 2025. Untuk empat besar Zona Euro, ialah Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol, pertumbuhan diperkirakan stabil di 0,8% tahun ini dibandingkan dengan 0,9% tahun lalu.

Di Asia, Tiongkok diperkirakan melambat menjadi 4,6% di 2026 ini dari 5,0% pada 2025 lantaran pertumbuhan konsumsi terus melemah di tengah keruntuhan pasar properti multi-tahun nan sedang berlangsung. Ironisnya, perlambatan terjadi kendati ada pemulihan investasi dan ekspor nan luar biasa baru-baru ini.

Untuk perekonomian Indonesia, Fitch Ratings memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 5,0% pada 2026. Prospek ini dinilai solid dan tetap berada di atas rata-rata negara berkembang lainnya nan berada pada ranking angsuran setara BBB.

PANDANGAN SENADA BANK DUNIA

Setali tiga duit dengan pandangan OECD dan Fitch Ratings, Bank Dunia juga telah menurunkan perkiraan pertumbuhan globalnya menjadi 2,5% untuk 2026, turun dari 2,9% pada 2025, menandai tingkat terendah sejak akhir 2019.

Laporan Prospek Ekonomi Global (PEG) jenis Juni 2026 mengutip nilai daya nan lebih tinggi, inflasi lebih curam, dan peningkatan biaya pinjaman di tengah bentrok Timur Tengah menjadi dasar pemangkasan prospek pertumbuhan. Risiko penurunan pertumbuhan sangat signifikan, menurut laporan Bank Dunia.

Pertumbuhan dunia dapat melambat lebih lanjut menjadi 2,1% jika gangguan daya berjalan lebih lama dan nilai minyak rata-rata US$115 per barel tahun ini, mendorong inflasi menjadi 4,4%; alias apalagi perekonomian dunia bakal memburuk menjadi 1,3% jika guncangan daya berakibat pada pasar keuangan.

Laporan tersebut juga menurunkan perkiraan pertumbuhan untuk dua pertiga negara jika dibandingkan dengan laporan Januari tahun ini, dengan negara-negara di area Teluk mengambil pemotongan terbesar dari 3,9% pada 2025 menjadi mendekati nol pada 2026. Untuk subkawasan Asia Selatan diperkirakan mempunyai pertumbuhan terkuat dari wilayah mana pun sebesar 6,3% pada 2026, meskipun melambat dari 7% pada 2025.

Menariknya, laporan tersebut tetap mempertahankan perkiraan pertumbuhan sebesar 2,2% untuk AS pada 2026, meskipun proyeksi ini bisa turun menjadi 2,1% pada 2027 dan 2,0% pada 2028 jika eskalasi perang Teluk bersambung dan polemik perang tarif resiprokalitas tidak mencapai kesepakatan.

Perekonomian di area euro diperkirakan tumbuh 0,8% pada 2026, turun dari 1,4% pada 2025. PDB Jepang diperkirakan tumbuh 0,7% pada 2026, turun dari 1,1% pada 2025.

Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,0% pada 2026, nan mengindikasikan sedikit perlambatan daripada capaian tahun-tahun sebelumnya, nan dipengaruhi oleh beragam tantangan ekonomi global.

CATATAN PENUTUP

Laporan Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan dunia membaik menjadi 2,8% pada 2027, tetapi bakal tetap 0,4 pp di bawah rata-rata pada dasawarsa 2010-an. Sementara akibat tetap condong ke sisi negatif di tengah meningkatnya bentrok (risiko geopolitik), gangguan pasar komoditas lebih lanjut, dan ketegangan geopolitik tambahan, Bank Dunia beranggapan bahwa tindakan kebijakan secara nyata menjadi sangat penting.

Secara global, Bank Dunia mendesak negara-negara mengenai untuk menjaga ketahanan daya dan pangan serta memajukan transisi energi. Para pengambil kebijakan di beragam pemerintahan didesak untuk mengendalikan inflasi, memperkuat keberlanjutan fiskal, dan mendukung pembuatan lapangan kerja.

Diingatkan juga bahwa biaya impor daya nan lebih tinggi dapat memperlebar defisit eksternal di negara-negara berkembang nan mengimpor komoditas, memberikan tekanan pada persediaan dan kondisi pembiayaan eksternal.

Perubahan lebih lanjut pada tingkat tarif AS dapat meningkatkan alias menurunkan perdagangan, ketidakpastian kebijakan dan pertumbuhan. Karena itu, diperlukan kebijakan nan elastis dan gesit untuk memastikan stabilitas makroekonomi. Kebijakan juga perlu konsentrasi pada tantangan jangka menengah, termasuk kebutuhan untuk menetapkan jalur fiskal nan andal untuk keberlanjutan utang, meningkatkan ketahanan energi, mengamankan penurunan ketegangan perdagangan, serta memperkuat prospek pertumbuhan berkepanjangan dan tangguh.

Bank-bank sentral perlu tetap waspada dan memperhatikan pergeseran keseimbangan akibat seputar perkembangan ekonomi dan finansial untuk memastikan bahwa tekanan inflasi nan mendasarinya dapat dikendalikan secara presisi dan permanen.

Komunikasi nan jelas juga diperlukan untuk memastikan bahwa faktor-faktor di kembali keputusan kebijakan nan seimbang dapat dipahami dengan baik oleh semua pemangku kepentingan. Ini kaitannya dengan langkah-langkah pemerintah untuk meredam akibat dari nilai daya nan lebih tinggi, baik pada rumah tangga maupun bumi upaya nan paling membutuhkan, sembari mempertahankan insentif untuk mengurangi penggunaan daya dan mendiversifikasi sumber energi.

Jika pertumbuhan melemah secara substansial, seperti dalam skenario disrupsi nan berkepanjangan, kebijakan fiskal perlu memberikan stimulus nan diperlukan untuk meredam output, mengingat terbatasnya ruang lingkup kebijakan moneter untuk melakukannya.

Ruang lingkup untuk bertindak mungkin bervariasi di setiap negara sesuai dengan posisi anggaran mereka saat ini, dengan banyak negara berkembang nan sangat terbatas.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia