Memaknai Allahu Akbar: Mengapa Kemahabesaran Allah bukan Ukuran Fisik?

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
 Mengapa Kemahabesaran Allah bukan Ukuran Fisik? Ilustrasi.(Youtube Yans Tutorial)

SELURUH kaum Muslimin sepakat bahwa Allah Mahabesar. Kalimat Allahu Akbar diucapkan acapkali dalam sehari sebagai corak janji bahwa tidak ada nan lebih besar dari Allah SWT.

Namun, bagaimanakah kemahabesaran ini kudu dimaknai secara betul menurut iktikad Islam? Berikut pemaparan Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember.

Larangan Menyamakan Allah dengan Materi (Jism)

Salah satu norma mendasar dalam membahas sifat Allah adalah larangan menyerupakan-Nya dengan materi (jism). Kemahabesaran Allah adalah sifat absolut nan tidak bisa diukur dengan komparasi rasio makhluk mana pun. Allah telah Mahabesar sebelum waktu melangkah dan sebelum alam tercipta, tetap Mahabesar saat makhluk ada, dan tetap Mahabesar hingga kapan pun.

Penting untuk dicatat bahwa kemahabesaran Allah tidak boleh dimaknai sebagai ukuran bentuk alias volume. Dalam bumi materi, sesuatu dikatakan besar jika menghabiskan lebih banyak ruang dibandingkan materi lain. Kita bisa membandingkan rasio besar manusia dengan bumi, alias bumi dengan galaksi. Namun, semua itu hanyalah perspektif ukuran fisikal nan mempunyai batasan.

Poin Esensial: Besar secara bentuk hanyalah soal volume tanpa ada kemuliaan di dalamnya. Jika sesuatu disembah hanya lantaran ukuran fisiknya, maka manusia bakal menyembah mentari alias bintang. Al-Qur'an dan Hadits tegas melarang penyembahan terhadap entitas bentuk lantaran setiap materi pasti terbatas dan mempunyai ujung.

Konsep Batasan Fisik (Hadd) dalam Pandangan Ulama

Ibnu Mandhur dalam kitab Lisân al-‘Arab menjelaskan bahwa hadd (batasan) adalah ujung dari segala sesuatu. Jika kita menyematkan batas bentuk pada Tuhan, secara logika kita mempertanyakan siapa nan merancang alias membatasi ukuran tersebut. Hal ini mustahil bagi Allah.

Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) sepakat bahwa Allah tidak mempunyai batas fisik. Berikut penegasan para pemimpin besar:

  • Imam Ahmad bin Hanbal: Menegaskan bahwa Allah tidak mengalami perubahan dan tidak mempunyai batas fisik, baik sebelum maupun sesudah pembuatan Arasy.
  • Imam at-Thahawi: Dalam Matn al-‘Aqîdah at-Thahâwiyah, beliau menyatakan bahwa Allah Maha Suci dari batasan, ujung, unsur, personil badan, maupun arah.

Memaknai Al-Kabir Menurut Imam al-Ghazali

Jika bukan ukuran fisik, lampau apa maknanya? Imam al-Ghazali dalam al-Maqshad al-Asnâ menjelaskan bahwa Al-Kabîr (Mahabesar) adalah pemilik keagungan (kibriya'), nan berfaedah kesempurnaan Dzat alias kesempurnaan eksistensi.

Kesempurnaan eksistensi ini mencakup dua pengertian utama:

Dimensi Makna Penjelasan
Kesempurnaan Wujud (Al-Awwal) Allah adalah nan paling lama ada. Keberadaan-Nya tidak mempunyai awal mula, mendahului seluruh makhluk nan ada di jagat raya.
Kesempurnaan Sifat (Al-Hehebatan) Istilah besar merujuk pada kehebatan ilmu, kekuasaan, dan akal. Allah adalah nan paling agung dan paling berkuasa atas segala sesuatu.

Dengan demikian, kemahabesaran Allah dalam perspektif Aswaja adalah tentang keagungan eksistensi dan kekuasaan nan tak terbatas, bukan tentang volume ruang. Pemaknaan ini selaras dengan nash (teks agama), norma bahasa, maupun logika logika sehat. Wallahu a’lam.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia