Memahami Chairil Anwar dan Menyelami Ilusi Keabadian

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Monolog metafiksi "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

"Kalau kekal berfaedah kehilangan arti, lebih baik saya lenyap berbareng kata-kataku.”

Chairil Anwar tak pernah beriktikad menjadi penyair nan namanya melambung, lampau lenyap ditelan zaman. Si Binatang Jalang ini punya satu obsesi besar: "mengalahkan" kematian.

Larik "Aku mau hidup seribu tahun lagi" bukan sekadar jerit kesombongan semata. Ini adalah corak pertaruhan eksistensial, setelah menyadari sungguh fana dan ringkihnya manusia. Ia mencoba meretas pemisah fisik, dan meniupkan roh ke dalam kata-kata nan menolak tunduk pada gilasan waktu.

Sialnya, takdir Chairil tak sejalan dengan angan keabadiannya. Ia wafat di usia 27 tahun. Gaya hidup bohemian nan liar di tanah rantau, membikin tubuhnya rentan digerogoti penyakit.

Dibayangi hantu kematian sejak usia muda, membikin Chairil justru terus berupaya "menantang maut" itu sendiri. Bukan lewat eksistensi fisik, melainkan karya sastra nan merombak total struktur bahasa puisi Indonesia modern.

"Sekali berarti, sudah itu mati."

Monolog "Chairil Anwar: Umbra et Anima" nan digelar di Galeri Indonesia Kaya, Minggu, 16 Agustus 2026. Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

Ambisi keabadian itulah nan ditangkap oleh Iswadi Pratama, seorang penyair, penulis, aktor, dan sutradara teater di kembali "Chairil Anwar: Umbra et Anima". Chairil Anwar, bayangan, dan jiwa.

"Aku mencoba memandang Chairil Anwar dari perspektif nan bukan biografis ya, tetapi dari pergulatan eksistensial dia, nan saya mencatat bahwa ada satu tema nan cukup krusial dan besar dalam puisi-puisinya, ialah kehendak untuk abadi," kata Iswadi.

Kehendak ini, lanjutnya, salah satunya tertuang dalam puisi Chairil nan paling terkenal: "Aku". Bagi Iswadi, larik "aku mau hidup seribu tahun lagi" bukan sekadar pernyataan puitis saja tetapi pernyataan eksistensial.

Pada dasarnya manusia punya obsesi mau abadi. Itulah kenapa manusia suka menyimpan kenangan, mau berpasangan, punya anak, berkarya. Sejatinya, menurut Iswadi, itulah upaya manusia untuk melawan keterbatasan dan kefanaannya; untuk mengekalkan dirinya.

Obsesi ini mengingatkan Iswadi pada naskah "Dr. Faust" yang ditulis oleh Johann Wolfgang von Goethe dari Jerman. Dalam naskah ini dikisahkan gimana Dr. Faust menggadaikan jiwanya kepada iblis, Mephistopheles, demi mendapatkan pengetahuan tanpa pemisah dan kesenangan duniawi.

Iswadi Pratama, penulis naskah dan sutradara "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

"Dua narasi besar ini kemudian saya coba pertemukan antara Mephistopheles nan sudah menjebak Dr. Faust sehingga dia menderita dan kehilangan semuanya dengan Chairil nan punya obsesi untuk abadi," tutur Iswadi.

Tetapi dalam naskah ini, Chairil digambarkan tidak begitu saja percaya dan bisa diperdaya. Ia mempertanyakan, untuk apa menjadi kekal jika kehilangan makna? Inilah nan Iswadi coba tuangkan dalam naskah monolognya.

Naskah ini, kemudian dibawakan dengan begitu apik oleh Haikal Mubarok, salah satu tokoh utama di golongan Teater Satu Lampung nan didirikan Iswadi. Dalam gelaran ini, Haikal tak hanya kudu berkedudukan sebagai Chairil nan tengah bergulat dengan ajal, tetapi juga Mephistopheles dan Dr. Faust.

"Yang paling menantang adalah gimana menyelami sisi jiwa seorang Chairil Anwar," ungkap Haikal.

Memerankan Chairil secara biografis jelas bakal lebih mudah daripada mencoba menghadirkannya dalam naskah metafiksi. nan kudu dipahami bukan hanya kisah hidupnya, tetapi juga apa nan terjadi saat puisi-puisi itu lahir di periode kematian Chairil dan gimana pergolakan batinnya kala itu.

Haikal Mubarok, orasi di "Chairil Anwar: Umbra et Anima" Foto: Ochi Amanaturrosyidah/kumparan

Tak cukup di situ, Haikal kudu membawakan tokoh-tokoh berbeda dalam satu monolog. Mephistopheles, digambarkan bukan sebagai setan dengan bentuk tunggal. Ia adalah setan nan punya beragam corak dengan satu tujuan.

"Entah itu dalam suara, bentuk-bentuk nan saya hadirkan di panggung entah itu binatang, anak-anak, alias ya apa pun segala kemungkinan corak entitas nan bisa datang oleh mephistopheles itu," jelasnya.

Karya ini dihadirkan dalam waktu sekitar 60 menit saja—yang betul-betul tak terasa lantaran pergantian antar-babak begitu rapat, cepat, terstruktur. Tetapi persiapannya sungguh panjang, sekitar dua tahun lamanya.

Haikal mengungkapkan, penampilannya ini hanya sekitar 70 persen dari isi naskah nan ada. Saat ini mereka tengah mempersiapkan penampilan penuh naskah tersebut. Waktunya, belum diumumkan.

instagram embed

Pada akhirnya, naskah "Chairil Anwar: Umbra et Anima" tak hanya menampilkan penggalan-penggalan karya ikonik Sang Pujangga. Naskah ini membujuk kita untuk menyelami pergulatan jiwa Chairil Anwar dan ilusi dari sebuah keabadian.

Sama seperti konsep sein zum tode—ada, menuju, kematian—yang digagas filsuf Jerman, Martin Heidegger. Kematian bukan akhir hidup, itu adalah kodrat manusia nan hidupnya memang terus melangkah menuju kematian, tak bisa diwakilkan, tak bisa digantikan.

Kematian bukanlah musuh. Ia adalah perangkat nan membikin manusia lepas dari hidup nan dangkal tanpa makna. Heidegger percaya, kesadaran bakal waktu nan terbatas bakal mendorong manusia untuk memakai sisa hidupnya dengan jujur, nyata, dan penuh arti.

Dan Chairil Anwar adalah buktinya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan