Melihat Sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin, Objek Wisata Sejarah Gratis

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung, Jawa Barat (Jabar) berstatus cagar budaya jenis A lantaran keaslian bangunannya sejak era kolonial. Selain bentuk bangunannya, sel 233 Blok Timur lapas ini juga menyimpan cerita sejarah.

"Terkait dengan masalah gedung ini, kebetulan kami (Sukamiskin) ditetapkan heritage jenis A nan memang di 2010. Kemudian ketika ada perubahan-perubahan esensial mengenai gedung itu memang kudu ada izin dari tim mahir cagar budaya Dinas Periwisata Kota Bandung," jelas Kasubbag Kepegawaian, Jajang Sulton, kepada detikcom di Lapas Kelas I Sukamiskin, pada Selasa (2/9/2026).

Sel 233 mempunyai nilai sejarah lantaran pernah ditempati Presiden ke-1 RI Sukarno atau Bung Karno. Diketahui sebelum era kemerdekaan, Bung Karno sempat dipenjara di Sukamiskin lantaran dianggap melawan Pemerintah Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk berjamu ke bilik Bung Karno, izinnya bersurat dulu ke Kanwil Ditjenpas Jawa Barat. Jika kanwil sudah beri izin, maka informasinya diteruskan ke kami. Proses izinnya sebentar, jika ditunggu juga kadang bisa, sehari pun bisa," kata Jajang.

Dia menyebut Lapas Sukamiskin merupakan lapas pariwisata pertama di Tanah Air. Sejauh ini visitor lapas berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.

"Kita menjadi lapas pariwisata pertama. nan berjamu ke sini kebanyakan ya mahasiswa, murid-murid SMP, SMA," ucap Jajang.

Penjara Soekarno di Lapas SukamiskinSel Sukarno di Lapas Sukamiskin Foto: (Audrey/detikcom)

Meski dibuka untuk pariwisata, sisi pengamanan dan sterilisasi lapas dari bumi luar kudu dijaga. Wisatawan, terang Jajang, tak diperkenankan menjelajah ke seluruh perspektif lapas.

"Di sini terbuka untuk pariwisata, tapi ada ketentuan alias SOP tertentu di lapas, nan mana demi pertimbangan keamanan dan sterilisasi. Jadi visitor hanya diizinkan ke bilik Bung Karno di Blok Timur Kamar 233," ujar Jajang.

Jajang menegaskan pihak lapas tak memungut biaya masuk pada wisatawan. Hal ini dikarenakan Lapas Sukamiskin berstatus area integritas.

"Nggak ada tiket masuk, gratis, terutama bagi mahasiswa nan PKL alias penelitian, dipersilakan. Kita tidak pungut biaya visitor lantaran kita terbentur dengan wilayah area integritas. Menuju WBK itu kan semua kudu free, termasuk makanya parkir di depan tidak berbayar," terang Jajang.

Mekanisme Kunjungan

Pihak lapas membatasi jumlah visitor nan masuk ke sel, demi kenyamanan dan keleluasaan ialah hanya lima orang. Pasalnya luasan sel Bung Karno hanya sekitar 3 x 2 meter persegi.

"Kuota visitor nan masuk, lantaran bilik tidak terlalu luas, paling nyaman per lima orang nan masuk. Contoh ada 30 dalam satu rombongan, nah masuknya ganti-gantian lima orang. Waktu berjamu elastis saja, tidak dibatasi berapa lamanya di dalam bilik Bung Karno," kata Jajang.

Jajang menyebut pihak lapas tak mengubah apapun di dalam sel Bung Karno. Hanya meletakkan wewangian dan sejumlah kitab mengenai Bung Karno.

"Kalau untuk kondisi bilik Bung Karno memang disterilkan dari era dulu kondisinya begitu, dijaga keasliannya. Paling ada kami tambahkan buku-buku tentang Bung Karno di meja. Ada pewangi ruangan agar nan masuk pun nyaman," ujar Jajang.

Jajang menuturkan semua petugas jaga dan keamanan lapas telah dibekali wawasan dan pengetahuan seputar keberadaan Bung Karno di Lapas Sukamiskin kala menjadi tahanan politik Belanda. Sehingga petugas jaga dapat memandu wisatawan.

"Nanti nan jadi tour guidenya dari bagian umum. Kalau memang pas di hari libur alias kami sudah pulang, paling ada dari petugas pengamanan nan menemani. Pegawai-pegawai kami sudah kami beri wawasan, sudah membaca silabusnya lah mengenai bilik Bung Karno," pungkas Jajang.

Bung Karno sebelum dibui di Lapas Sukamiskin, terlebih dulu ditahan di Penjara Banceuy akibat aktivitas politiknya berbareng Partai Nasional Indonesia (PNI). Belanda kala itu merasa terancam.

Di sel 233, nan saat ini dikenal sebagai Kamar Nomor 1 Blok Timur Atas, Bung Karno menuangkan pemikiran dan perjuangannya melalui tulisan, termasuk menyusun dan menyempurnakan pembelaannya nan kemudian dikenal dengan titel 'Indonesia Menggugat'.

Baik Dinas Pariwisata Bandung maupun Lapas Sukamiskin memelihara keaslian sel Bung Karno sebagai bagian dari ruang museum sejarah dan napak tilas untuk mengenang perjuangan Sang Proklamator.

Saksikan Live DetikSore:

(aud/knv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News