Sleman, CNN Indonesia --
Sejumlah master nan tergabung dalam tim campuran lintas disiplin pengetahuan di Fakultas Teknologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan petugas dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) hingga BPBD setempat dikejutkan teriakan dari dalam rumah nan mereka datangi di Sleman, DI Yogyakarta, Senin (1/6).
"Njedul meneh iki (apinya muncul lagi)!" seru seorang ibu di dalam rumah di Seyegan, Sleman itu.
Para petugas nan sejak pagi berada di rumah milik Mutfiana alias Fia itu pun beranjak dari ruang depan tersebut menuju ke sumber suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benar saja, saat tim master menyusul ke arah sumber suara, api telah menyulut sebuah kaos nan digantung di dalam sebuah bilik gelap. Semburan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) tak berselang lama sukses mematikan titik api dalam bilik itu.
Namun, hanya berselang sekitar 24 menit, tim master UGM kembali beramai-ramai ke bagian belakang rumah. Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, kaos hitam nan tadi telah tersulut api di kamar, lagi-lagi mengeluarkan asap.
Kepulan asap semakin menebal dan tim master meyakini jika kondisi ini dibiarkan, api lama-lama bakal muncul. Setelah perangkat detektor gas dikerahkan, info terkumpul dan asap pun dipadamkan dengan langkah diinjak-injak.
Api misterius di kediaman Fia itu masih terus bermunculan berkali-kali sejak kejadian pertama sembilan hari lalu. Senin kemarin, sejak pagi, tim master dari UGM hingga BPPTKG kembali mendatangi rumah tersebut melanjutkan penyelidikan mereka.
Kediaman Fia kehadiran tim master dari UGM dan penyelidik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Fia menerangkan dengan dua kejadian pada Senin siang itu, maka total sudah 73 kali api misterius ini muncul dan membakar barang-barang di rumahnya. Sembilan hari ini, dia sekeluarga memetakan setidaknya 65 titik api.
"Memang (kejadian terakhir) terjadi dan ruangan itu sebenarnya kosong waktu tadi, waktu terjadinya api. Ibu masuk baru terlihat nih apinya udah gede, mau salat masuk kok sudah apinya udah gede, begitu," kata Fia di lokasi.
Padahal, kata Fia, para peneliti sebelumnya telah memancing kemunculan titik api di ruangan tersebut. Namun, Jago Merah nan misterius itu justru muncul saat semua tak memerhatikan.
Dia menjelaskan intensitas kemunculan api selama sembilan hari ini juga tak surut.
"Stabil malah," sambungnya, ialah antara 7-9 kejadian sehari.
Akibat kemunculan api misterius nan berkali-kali di sejumlah titik di rumah itu, mau tak mau. Fia sekeluarga mengevakuasi diri dan tinggal di gedung utara kediamannya.
Sebagian besar peralatan di rumah telah diungsikan.
Karpet, tikar, sarung bantal, kardus, jaket dan tetap banyak lagi peralatan nan tak utuh gara-gara kena api. "Rata-rata kain, ya nan mudah kebakar lah," sambungnya.
Tim master mengawasi kaos nan terbakar api misterius di kediaman Mutfiana namalain Fia, Seyegan, Sleman, DIY, Senin (1/6). (CNN Indonesia/Tunggul)
Kedatangan tim mahir campuran untuk melakukan investigasi sejak pekan lalu, paling tidak telah membikin Fia sedikit merasa lega. Dengan temuan-temuan sementara, gambaran hal-hal misterius sebagai pemicu api otomatis sirna.
Kendati, tetap saja Fia sekeluarga kudu tetap waspada. Mereka jelas tak bisa lengah sedikit saja jika tak mau api nan muncul dari barang membesar dan melalap rumah.
"Karena ini belum berakhir, kita kudu berjaga terus. Ada nan jaga setiap hari setiap waktu," katanya.
Agus, ayah Fia juga mengaku selalu pasang mata meski dirinya terlihat cukup santuy mengawasi kemunculan api. Dia berkelakar celana nan dia kenakan sekarang adalah satu-satunya nan tersisa. Lainnya lenyap dilalap api.
"Katok telu gari siji (celana tiga tinggal satu)," katanya sembari bercanda.
Fenomena pembakaran spontan
Sementara itu, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM nan datang ke rumah itu pada Senin lalu, terus mengambil sampel.
Tim PKPE FT UGM melalui analisanya akhir pekan lampau sempat menduga bahwa kejadian di rumah Fia dipicu gas metana (CH4). Hanya saja, temuan gas hidrogen (H2) pada Senin lampau membuka kemungkinan lain.
Ketua tim PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi menuturkan, timnya mendeteksi senyawa H2 ini pada kaos hitam nan terbakar dua kali pada siang ini.
Level gas hidrogen di ruangan kaos tersebut pertama kali tersulut api juga tergolong tinggi.
"Khusus di ruangan tadi (lokasi kaos hitam terbakar pertama), ruangan nan tengah tadi, di bilik itu nan nampaknya konsentrasinya tinggi," tutur Alva.
Analisa timnya, api misterius di rumah Fia adalah kejadian auto ignition alias spontaneous ignition namalain pembakaran spontan. Kondisi ini bisa terjadi saat suatu bahan memicu panasnya sendiri tanpa sumber api dari luar.
Guru Besar bagian Ilmu Vulkanologi pada Fakultas Teknik UGM, Agung Harijoko, menyebut gas hidrogen sebagai 'suspect' alias pemicu utama dalam kejadian ini. Dia mengatakan beberapa petunjuk nan ditemukan pihaknya mengarah ke senyawa tersebut sebagai biang kemunculan api misterius secara berkali-kali di rumah tersebut.
Selanjutnya, pertanyaan bagi tim PKPE adalah 'bagaimana senyawa itu bisa terbentuk di letak tersebut?'
Sampel air dari beberapa titik di kediaman Fia telah diambil untuk ditelaah.
"Kami kudu memikirkan lagi adalah sumbernya dari mana? Mekanismenya. Mekanisme pembentukan gas hidrogen ini nan perlu kami telaah lagi," ucapnya.
Tim PKPE juga menyertakan Iswandi dari Teknik Elektro UGM guna memastikan kejadian di rumah Fia tak ada kaitannya dengan unsur kelistrikan. Iswandi telah mengawasi untuk aspek pengaruh dari medan elektromagnetik di sekitar. Ia menyatakan, tidak ada sumber besar, baik itu tower alias tegangan tinggi di sekeliling area kediaman Fia.
Iswandi menegaskan, ketidakstabilan aliran listrik di rumah Fia juga tidak memicu kejadian ini. Alasannya, titik api muncul secara sporadis namalain random dan menyebar.
"Bahwa nan terbakar itu kan satu gas ya, dan prosesnya tadi ada kemungkinan itu bisa muncul lantaran tidak perlu pemantik. Dan di sini memang jika kelistrikan itu memang cenderungnya sebagai pemantik saja ya, tapi jika memang itu prosesnya gasnya itu tidak perlu pemantik saya kira tidak ada hubungannya dengan listrik ya," paparnya.
(kum/kid)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·