Megawati Kenang Sukarno: Kita Harus Berani Lihat Sejarah dengan Kejujuran

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, pada Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih Dalam Rangka Peringatan Peringatan HUT ke-81 RI oleh PDIP, Jakarta, Senin (17/8/2026). Foto: Dok. PDIP

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengenang perjalanan ayahnya nan juga Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno, selama masa perjuangan hingga akhir kekuasaannya.

Hal itu disampaikan Megawati saat memimpin upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di laman Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Senin (17/8).

Megawati mengatakan, Bung Karno sepanjang perjalanan politiknya menghabiskan waktu sekitar 12 tahun di penjara dan pengasingan pada masa kolonial Belanda. Kemudian 2 tahun diasingkan pada masa revolusi bentuk dan sekitar 4 tahun menjalani tahanan rumah tanpa proses pengadilan pada masa Orde Baru.

"Coba Anda bayangkan, Bung Karno itu proklamator, terus tiba-tiba pada era Orde Baru, ketika era Pak Harto itu, beliau lantaran Pak Harto mau menjadi presiden, maka Bung Karno itu dilakukan suatu penahanan," kata Megawati.

"Saya pun tidak tahu namanya apa. Hanya ditaruh permulaan di Istana Bogor, setelah itu di Batu Tulis, setelah itu lampau di Wisma Yaso. Tanpa sebuah proses pengadilan," tambahnya.

Menurutnya, tidak ada arsip nan diberikan kepada family mengenai status norma Bung Karno saat itu.

"Karena tidak ada selembar kertas pun nan diberikan kepada family Bung Karno, status Bung Karno pada waktu itu sebenarnya menjadi apa," ujar dia.

Megawati mengatakan jika seluruh masa penjara, pengasingan, dan tahanan rumah tersebut dihitung, sekitar 18 tahun kehidupan politik Bung Karno dijalani dalam kondisi tersebut.

Namun, menurut Megawati, Bung Karno memandang pengalaman tersebut bukan sebagai penderitaan, melainkan pengorbanan untuk mencapai cita-cita Indonesia nan merdeka dan berdaulat.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, pada Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih Dalam Rangka Peringatan Peringatan HUT ke-81 RI oleh PDIP, Jakarta, Senin (17/8/2026). Foto: Dok. PDIP

Karena itu, Megawati meminta generasi muda memahami sejarah perjuangan Bung Karno dan tidak hanya mengingatnya sebagai proklamator dan presiden pertama RI.

"Kita juga kudu mengingat nilai nan telah beliau bayar agar Indonesia betul-betul merdeka, berdaulat, dan bisa berdiri di atas kaki sendiri," ujar Megawati.

Megawati kemudian menyinggung pencabutan Ketetapan MPRS Nomor 33/MPRS/1967 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno. Dia mengatakan pencabutan ketetapan tersebut tidak membikin persoalan sejarah selesai.

"Meskipun Ketetapan MPRS Nomor 33 MPRS Tahun '67 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno telah dicabut, namun bagi saya persoalan sejarah tidak berakhir pada pencabutan sebuah ketetapan," ujar Megawati.

Dia menegaskan upaya mengingat kembali sejarah Bung Karno bukan untuk membangkitkan kebencian alias membuka luka lama, melainkan untuk menegakkan keadilan sejarah.

"Kita kudu berani memandang persoalan sejarah itu dengan kejujuran. Bukan untuk membuka luka lama, bukan untuk membangkitkan kebencian, tetapi untuk menegakkan keadilan sejarah. Sejarah nan betul kudu terus ditegakkan," tegasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan