Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Indonesia untuk mengubah Bandara Internasional Kertajati di Majalengka menjadi pusat perawatan pesawat militer Hercules Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan. Sebelumnya langkah tersebut diambil atas permintaan pemerintah Paman Sam.Laman Singapura, Channel News Asia (CNA) misalnya, membikin tulisan kajian berjudul "Proposed US Hercules repair hub in West Java sparks debate on what Indonesia stands to gain and lose". Dilaporkan gimana rencana ini memicu pertanyaan besar. Banyak pihak mempertanyakan apakah proyek tersebut bakal menarik Indonesia masuk ke dalam arsitektur militer Amerika Serikat di area Indo-Pasifik
"Ketika kita berbincang tentang geopolitik, ini bermasalah lantaran kita belum tahu apa rencananya," tulis laman itu memuat master pertahanan dan hubungan internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani Jawa Barat, Yohanes Sulaiman, dikutip Rabu (10/6/2026).
Dikatakan juga bahwa kejelasan mengenai corak akomodasi tersebut tetap menjadi tanda tanya besar bagi publik. Apakah tempat itu, tulis laman tersebut merujuk sumber sama, nantinya bakal murni menjadi sebuah pusat penghubung alias hanya sekadar akomodasi perawatan kedirgantaraan biasa.
Sebelumnya, rencana besar ini pertama kali diumumkan oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat kerja berbareng personil parlemen di DPR pada akhir Mei lalu. Sjafrie mengungkapkan bahwa tawaran unik tersebut datang langsung dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat mereka berjumpa dalam aktivitas ASEAN Defence Ministers Meeting Plus pada tahun lalu.
"Dia menawarkan: 'Bagaimana jika saya memusatkan perawatan untuk C-130 di seluruh Asia di Indonesia atas biaya kami?' Saya melapor kepada presiden, nan mengatakan: 'Berikan Kertajati'. Kami sedang mengerjakannya," jelas Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin merujuk pada pengarahan dari Presiden Prabowo Subianto.
Sejauh ini pemerintah Indonesia belum membagikan rincian teknis lebih lanjut mengenai skema kerja sama tersebut. Pihak kementerian pertahanan menyatakan bahwa pembahasan kesempatan kerjasama perawatan pesawat Hercules C-130 ini tetap berada dalam tahap awal dan eksplorasi.
Dimuat juga kajian pertahanan dari Marapi Consulting and Advisory, Alman Helvas Ali. Dikatakan bahwa proposal kerja sama ini kemungkinan besar bakal melangkah melalui skema bisnis-ke-bisnis. "Pemerintah Indonesia diproyeksikan hanya bakal bertindak sebagai penyedia dengan menggandeng pabrikan Lockheed Martin sebagai penyedia support teknis bagi mitra lokal," muat laman tersebut.
Namun Ali mengingatkan bahwa masalah utama saat ini adalah minimnya penjelasan nan jelas dari pemerintah kepada masyarakat. Tanpa adanya jawaban transparan mengenai siapa nan mengontrol akses dan apakah ada personel militer AS nan ditempatkan di sana maka rumor ini bakal sangat rentan terhadap paranoia publik.
Langkah memberikan Bandara Kertajati sendiri dinilai sebagai upaya pemerintah untuk mendongkrak performa airport seluas 1.800 hektare tersebut nan selama ini dinilai tidak sukses secara komersial. Sejak dibuka resmi pada tahun 2019 airport ini terus berjuang keras untuk menarik minat penumpang. Data pemerintah menunjukkan Kertajati hanya bisa melayani sekitar 413.000 penumpang alias hanya sekitar 3% dari sasaran 12 juta penumpang mereka pada tahun 2024 nan lalu.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·