Jakarta, CNBC Indonesia - Kunjungan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi ke Indonesia menjadi perhatian media China. Lawatan ini dinilai membawa misi strategis Tokyo dalam memperkuat kerja sama pertahanan di Asia Tenggara di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP), Koizumi tiba di Jakarta untuk menandatangani pakta kerja sama pertahanan dengan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin.
Kesepakatan tersebut mencakup support kemanusiaan, penanggulangan bencana, latihan militer bersama, hingga kerja sama maritim. Ia kemudian dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Filipina, di mana Jepang juga meningkatkan keterlibatan militernya.
Langkah ini tidak lepas dari kebijakan baru Jepang nan mencabut larangan ekspor senjata mematikan, membuka kesempatan transfer alutsista ke 17 mitra pertahanan, termasuk Indonesia.
Para analis menilai agenda kunjungan tersebut secara tidak langsung mengarah pada upaya memperkuat posisi negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi tekanan maritim dari China.
"Memberdayakan negara-negara Asia Tenggara bakal meningkatkan daya tawar diplomatik mereka terhadap China dalam sengketa maritim," ujar Yoichiro Sato, guru besar studi keamanan di Jepang.
Kerja sama ini juga berpotensi bersambung ke proyek pengadaan alutsista berbobot besar. Indonesia disebut tengah mempertimbangkan pembelian hingga delapan fregat kelas Mogami dengan nilai sekitar US$2,2 miliar alias setara Rp37,4 triliun.
Selain itu, opsi akuisisi kapal selam jejak Jepang juga tetap dalam tahap negosiasi. Juru bicara Kementerian Pertahanan RI Rico Ricardo Sirait menyatakan bahwa kesepakatan ini membuka kesempatan kerja sama lebih luas dalam peralatan dan teknologi pertahanan.
Di tengah rivalitas antara Amerika Serikat dan China, Jepang dinilai berupaya memposisikan diri sebagai pengganti bagi negara-negara Asia Tenggara nan mau menjaga keseimbangan geopolitik.
"Asia Tenggara sedang mencari mitra nan dapat diandalkan," kata Alfin Febrian Basundoro, pengajar hubungan internasional di Universitas Airlangga Indonesia. Ia menilai Jepang mau menjadi penyedia keamanan pengganti tanpa memaksa negara area mengambil posisi ekstrem.
Meski demikian, kerja sama ini tetap berpotensi memicu respons dari Beijing. Alfin memperkirakan reaksi China terhadap Indonesia bakal condong terukur dan lebih banyak disalurkan melalui jalur diplomatik, sejalan dengan posisi non-blok Indonesia. Namun situasi berbeda berpotensi terjadi di Filipina nan mempunyai sengketa langsung dengan China di Laut China Selatan.
Analis pertahanan V.K. Parada menilai transfer kapal militer Jepang ke Filipina dapat menjadi "polis asuransi terhadap agresi China". Ia menambahkan, kerja sama pertahanan antara negara-negara nan mempunyai sengketa dengan China secara alami bakal memicu kritik dari Beijing.
Kunjungan Koizumi ini sekaligus menandai pergeseran kebijakan Jepang nan semakin aktif dalam sektor pertahanan, serta menegaskan posisi Asia Tenggara sebagai area kunci dalam dinamika persaingan kekuatan besar global.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·