Jakarta, CNBC Indonesia - Pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo dari kedudukan Gubernur Bank Indonesia (BI) dua tahun sebelum masa jabatannya berhujung menjadi sorotan media asing.
Media asing Channel News Asia (CNA) dalam tulisan berjudul "Indonesia faces crucial choice after central bank chief's surprise resignation" menilai Indonesia sekarang menghadapi momen krusial setelah mundurnya Perry. Menurut CNA, pemerintah kudu memastikan proses transisi kepemimpinan bank sentral melangkah mulus demi menjaga stabilitas kebijakan moneter, meski gejolak pasar nan muncul setelah berita tersebut relatif singkat.
CNA melaporkan pasar sempat bereaksi negatif sesaat setelah berita pengunduran diri Perry mencuat pada Senin (27/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 32 poin alias 0,5% ke level 6.153 sebelum kembali menguat dan ditutup di sekitar 6.175.
Sementara itu, rupiah melemah dari Rp17.935 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya menjadi Rp17.972 per dolar AS saat pembukaan, apalagi sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di Rp18.009 per dolar AS.
Meski demikian, CNA menilai gejolak pasar dapat diredam berkah penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur BI. Analis Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan penunjukan Destry menjadi sinyal positif bagi investor.
"Destry mempunyai pengalaman luas dalam merumuskan kebijakan moneter dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Penunjukannya juga mengirimkan sinyal positif bahwa kesinambungan kebijakan bakal tetap terjaga," ujar Yusuf kepada CNA, dikutip Selasa (28/7/2026).
Namun, stabilitas ke depan dinilai bakal sangat berjuntai pada sosok nan dipilih Presiden Prabowo Subianto sebagai gubernur BI definitif. Ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta Achmad Nur Hidayat mengingatkan proses transisi kudu menghasilkan pemimpin profesional.
"Jika transisi ini menghasilkan sosok ahli nan bisa menjamin keberlanjutan kebijakan, volatilitas pasar bakal dapat dikendalikan. Namun, jika transisi ini dipandang sebagai upaya politis untuk melemahkan independensi Bank Indonesia, dampaknya bisa meluas hingga memengaruhi anggaran negara, sektor perbankan, bumi usaha, dan rumah tangga," ujarnya.
Pemerintah menyatakan Perry mengundurkan diri lantaran argumen pribadi. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo telah menerima surat pengunduran diri tersebut dan menyampaikan apresiasi atas dedikasi Perry selama memimpin BI selama tujuh tahun. Ia juga menegaskan Perry tidak mengundurkan diri lantaran argumen kesehatan. Hingga kini, Presiden Prabowo belum memutuskan siapa nan bakal diajukan sebagai gubernur BI definitif.
Dalam laporannya, CNA menyebut sejumlah nama berkesempatan menggantikan Perry, mulai dari Destry Damayanti, Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono, hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa nan disebut-sebut masuk dalam bursa calon. Di sisi lain, ahli ekonomi menilai BI kudu tetap dipimpin sosok nan bisa menjaga independensi bank sentral dari intervensi politik.
CNA menilai gubernur BI berikutnya bakal langsung menghadapi tantangan besar. Selain kudu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Indonesia juga diperkirakan menghadapi defisit fiskal sebesar Rp734 triliun alias sekitar US$40 miliar, di tengah meningkatnya subsidi daya dan beragam program prioritas pemerintah.
Media tersebut juga menyoroti perubahan mandat BI nan baru disahkan parlemen lantaran dinilai menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional dan berpotensi memengaruhi persepsi penanammodal terhadap independensi bank sentral. Karena itu, proses penunjukan gubernur BI berikutnya dinilai bakal menjadi aspek krusial dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan kepercayaan pasar.
(tfa/tfa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
16 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·