Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah Bank Indonesia pada Selasa meningkatkan BI Rate menjadi 5,5% rupanya menjadi pemberitaan media asing. Sejumlah instansi buletin bumi mencermati manuver nan dilakukan bank sentral Indonesia ini.
CNBC International dalam tulisan berjudul "Indonesia raises rates in surprise move as rupiah lingers near record lows" melaporkan bahwa keputusan darurat ini sukses membawa tingkat suku kembang referensi BI Rate naik sebesar 25 pedoman poin dari level 5,25%. Kebijakan ini, tulisnya, tergolong sangat mengejutkan bagi pasar finansial dunia lantaran para ahli ekonomi nan berperan-serta dalam jajak pendapat sebelumnya memperkirakan Indonesia bakal tetap menahan suku kembang mereka.
Dilaporkan juga poin krusial lain mengenai pelarian modal besar-besaran nan sedang melanda pasar saham dalam negeri saat ini. Kondisi jelek tersebut terjadi berbarengan dengan melemahnya nilai tukar rupiah secara drastis terhadap mata duit dolar Amerika Serikat.
Untuk menahan kejatuhan nan lebih parah pihak Jakarta dilaporkan telah menguras persediaan devisa negara hingga merosot ke tingkat paling rendah dalam kurun waktu nyaris dua tahun terakhir. Langkah intervensi pasar nan sangat masif tersebut terpaksa dilakukan demi menopang stabilitas mata duit Garuda dari guncangan ekonomi.
"Kenaikan suku kembang mengejutkan ini membawa suku kembang reverse repo 7 hari menjadi 5,5% dari 5,25%," tulis jurnalis Lim Hui Jie dalam laporan terbarunya mengenai perubahan mendadak kebijakan moneter di Indonesia tersebut, dikutip Rabu (10/6/2026).
Sementara itu, media asal Inggris, Reuters, melalui pemberitaan berjudul "Indonesia hikes rates in surprise off-cycle move to prop up sinking rupiah" menyoroti langkah langka di luar agenda rutin nan baru pertama kali terjadi lagi dalam delapan tahun terakhir ini. Penyesuaian ini dinilai sangat mendesak lantaran nilai tukar rupiah melemah jauh lebih dalam daripada perkiraan awal sejak pertemuan resmi pada Mei lalu.
"Kenaikan suku kembang ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap akibat volatilitas dunia nan tinggi akibat perang di Timur Tengah dan langkah preemptive untuk menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran sasaran," tegas pihak Bank Indonesia dalam keterangan tertulisnya kepada Reuters.
Reuters juga menambahkan laporan bahwa intervensi nan garang di pasar mata duit telah menguras persediaan devisa Indonesia. Penurunan ini tetap terjadi meskipun pemerintah telah melakukan penjualan obligasi berdenominasi dolar AS dan euro senilai US$ 3,5 miliar (Rp 63 triliun) pada bulan lalu.
Di sisi lain, media asing asal Singapura, Channel News Asia, menerbitkan laporan berjudul "Indonesia raises rates in surprise move to prop up sinking rupiah" nan mengulas kekhawatiran para penanammodal dunia terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. Rupiah terus dihantam tekanan berat akibat kekhawatiran pasar terhadap rencana pengeluaran jumbo dalam anggaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta pembengkakan anggaran subsidi bahan bakar minyak pasca meletusnya perang Iran.
"Untuk perihal ini, mungkin kita memang kudu lebih garang lantaran jika kita memandang tingkat SRBI, itu sudah berada di 7,25% nan apalagi lebih tinggi," papar Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual kepada laman itu mengenai tingkat daya saing pasar modal dalam negeri.
Meskipun demikian, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa persediaan devisa Indonesia saat ini tetap lebih dari cukup untuk melanjutkan stabilisasi rupiah. Warjiyo memproyeksikan nilai tukar rupiah bakal bergerak di kisaran 16.800 hingga 17.500 per dolar AS pada tahun 2027 dengan stabilitas nan terus dijaga ketat melalui intervensi pasar kurs asing.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·