MBG Distop, Omset Pedagang Sayuran dan Daging Ayam di Lembang Menurun

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
MBG Distop, Omset Pedagang Sayuran dan Daging Ayam di Lembang Menurun Aktivitas perdagangan di Pasar Panorama, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.(MI/DEPI GUNAWAN)

TERHENTINYA program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah berakibat pada pedagang sayuran di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Pedagang merasa selama program MBG berjalan, permintaan beragam komoditas sayuran mengalami peningkatan sehingga turut mendongkrak nilai jual di tingkat petani maupun pedagang.

Namun, sejak program tersebut dihentikan sementara, para pedagang dan petani mulai merasakan penurunan omset hingga 50% lantaran tidak adanya permintaan dari dapur SPPG.

"Pengaruhnya besar sekali. Sejak MBG ditutup, omzet dan daya jual menurun. Penurunannya sekitar 50% sampai 60%," kata Atep, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Lembang, Senin (22/6).

Dia mengaku selama MBG berjalan, kebutuhan pasokan sayuran bisa mencapai satu ton per hari. Namun setelah program tersebut berhenti, kebutuhan pasokan turun drastis menjadi sekitar 3-4 kuintal per hari.

Disinggung mengenai harga, dia mengakui, beberapa komoditas nan mengalami kenaikan di antaranya buncis, wortel, kubis dan timun. Harga timun nan sebelumnya sekitar Rp5.000 per kilogram sekarang mencapai Rp10.000 hingga Rp14.000 per kilogram.

"Harga wortel dan buncis nan sebelumnya berada di kisaran Rp6.000 per kilogram sekarang meningkat menjadi Rp12.000 hingga Rp14.000 per kilogram," ungkapnya.

Tak hanya sayuran, sejumlah ramuan dapur seperti jahe, kunyit, bawang merah, dan bawang putih juga mengalami kenaikan harga.

Harga bawang merah naik dari Rp30.000 menjadi Rp40.000 per kilogram, begitu pula bawang putih nan meningkat dari Rp30.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.

"Kenaikan nilai dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar, baik dari kebutuhan program MBG maupun restoran," ucapnya.


Turun 70%


Pemasok ayam pangkas di Lembang, Totoh juga mengeluhkan penghentian sementara operasional MBG. Pasalnya, penjualan ayam pangkas ke pasar tradisional menurun hingga 70%.

Menurutnya, sebelum masa libur sekolah, kebutuhan ayam di pasar mencapai sekitar 25 ton per hari. Namun saat ini permintaan turun drastis menjadi hanya sekitar 9 ton per hari.

Keberadaan program MBG selama ini, ungkapnya, memberikan akibat ekonomi nan cukup besar. Selain membantu pemenuhan gizi siswa, program tersebut juga menggerakkan beragam sektor upaya dari hulu hingga hilir.

Penurunan permintaan juga berakibat pada pedagang pasar tradisional. Selain berakibat pada penjualan, kondisi tersebut memaksa pihaknya mengurangi operasional pengedaran dan merumahkan sebagian pekerja.

"Biasanya kami mengoperasikan delapan mobil pengangkut. Sekarang hanya tiga mobil nan berjalan. Artinya ada lima mobil nan berakhir beroperasi, termasuk lima pengemudi dan lima kernet nan sementara diliburkan," jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia