Jakarta -
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengaku butuh 100% support dari Bank Indonesia (BI) untuk ikut menjaga stabilitas rupiah. Diketahui saat ini, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah menyentuh Rp 17.839 pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (2/6/2026).
Perwakilan Himbara sekaligus Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Putrama Wahju Setyawan menjelaskan support penuh terhadap BI dilakukan dalam skema local currency trade (LCT) antara Indonesia dan China. Dalam skema ini, Himbara juga bakal dilibatkan.
Putrama juga mengaku telah menyampaikan permohonan support kepada Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono. Bentuk support nan dibutuhkan Himbara dalam perihal ini berupa likuiditas mata duit lokal untuk perdagangan internasional skema LCT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada sebuah syarat nan saya sampaikan kepada Pak Thomas Djiwandono, ialah bahwa bank di dalam negeri kelak nan bakal terlibat dalam LCT ini, memerlukan 100% support likuiditas CNY alias Yuan dari Bank Indonesia," ungkap Putrama dalam RDPU P2SK berbareng Komisi XI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, skema LCT Indonesia dan China dimungkinkan mengingat transaksi perdagangan kedua negara ini mempunyai nilai nan sangat besar. Putrama mengatakan, pengembangan LCT nantinya bakal melibatkan tiga otoritas moneter ialah BI, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong.
"Kita memahami bahwa beberapa transaksi kita cukup besar katakanlah dengan china cukup besar, sehingga saat ini kami mengembangkan berbareng dengan BI local currency trade. Ini melibatkan, kelak bakal melibatkan tiga otoritas, tiga sentral bank, ialah Bank Indonesia, kemudian Sentral Bank China, dan juga Sentral Bank Hong Kong untuk kita bisa melakukan local currency trade," jelasnya.
Sebagai informasi, Indonesia dan China telah menyepakati penggunaan mata duit lokal namalain LCT dalam dalam perdagangan dan investasi bilateral. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan nilai transaksi LCT Indonesia-China terus meningkat. Tahun lampau nilainya mencapai lebih dari US$ 25 miliar per tahun, sedangkan tahun ini transaksi bulanannya sudah mencapai sekitar US$ 3,7 miliar.
BI juga telah bekerja sama dengan sejumlah bank dan bank sentral China agar transaksi yuan bisa langsung dilakukan di dalam negeri. Perry menyebut masyarakat maupun pelaku upaya sekarang sudah bisa melakukan transaksi yuan di Indonesia, baik spot, swap maupun forward.
(ahi/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·