Ilustrasi(Magnific.com)
Permasalahan perundungan di bumi pendidikan merupakan kejadian “gunung es” nan kudu ditangani secara komprehensif. Persoalan tersebut menjadi pekerjaan kita berbareng nan belum selesai.
Sosiolog sekaligus Ketua Sosial Research Center UGM (SOREC), Dr. Andreas Budi Widyanta (Abe) mengatakan, setiap anak nan lahir dan berkembang merupakan sebuah bangunan kehidupan sosial di sekitarnya.
"Rasa sakit, kurangnya kasih sayang, serta minimnya perhatian dari lingkungan terdekat dapat menimbulkan luka jiwa nan mendalam," terang dia dalam siaran pers, Selasa (28/7).
Salah satu peristiwa nan menjadi atensi publik adalan peristiwa ledakan peledak di MAN 3 Kota Padang pada Selasa, 14 Juli 2026. Insiden ini kembali membuka ingatan publik terhadap kasus serupa nan pernah terjadi di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025.
Setelah abdi negara mengamankan letak kejadian, terungkap bahwa pelaku utama merupakan seorang siswa madrasah. Ia diduga tidak hanya merakit satu, tetapi tiga peledak rakitan.
Melalui penyelidikan intensif, abdi negara keamanan mengungkap bahwa pelaku mempunyai sejumlah motif nan melatarbelakangi aksinya. Salah satu motif tersebut adalah perundungan ekstrem nan diakuinya telah lama dia alami.
Ketika perundungan turut hadir, Kata Abe, luka tersebut semakin membebani kondisi psikologis anak hingga mengguncang batinnya. “Kemudian digunjang dengan bullying oleh bumi sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Nah situasi itu tentu membikin anak juga memendam rasa kemarahan nan tidak semua orang bisa ketahui,” ungkapnya.
Abe juga mengungkapkan jika terdapat dimensi nan perlu diperhatikan di dalam peristiwa tersebut ialah kemajuan teknologi. Ia beranggapan jika Tripusat pendidikan nan terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat semakin mundur dan terkikis oleh adanya teknologi nan semakin berkembang.
Mudahnya akses ke sosial media, membiarkan anak-anak terpengaruh oleh konten nan tidak layak mulai dari kekerasan hingga pornografi. “Informasi nan serba tidak sehat untuk tumbuh kembang anak itu membikin anak menjadi sebuah perangkat nan mengabsorpsi, dan bisa jadi justru menginspirasi anak-anak kita untuk mengikuti apa nan dilakukan oleh jejak-jejak kekerasan nan ditinggalkan oleh sosial media,” katanya.
Media Sosial
Menurutnya, anak-anak mempunyai keahlian memesis ialah meniru alias merepresentasikan sesuatu, dalam konteks ini merupakan konten media sosial nan sukar untuk dikontrol oleh siapapun termasuk Komdigi.
Menurut Abe, Komdigi juga tetap belum mempunyai kapabilitas untuk menyortir konten-konten membahayakan di sosial media sehingga banyaknya konsep kekerasan nan ditiru oleh anak secara ekstrem. “Kemampuan tiruan nan salah tersebut adalah corak kegagalan bagi bangunan pendidikan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.
Abe juga turut menggambarkan dua kasus ledakan di lingkungan sekolah merupakan hasil dari kegagalan bangunan sosial, ialah ledakan ke dalam melalui self-harm alias menyakiti diri sendiri nan bakal berujung kepada suicide dan ledakan ke luar seperti menyakiti orang-orang di sekitarnya akibat represi psikologis.
Ia meminta masyarakat untuk menyadari, seorang anak nan penuh luka dan tidak mengetahui langkah untuk menyembuhkannya adalah corak dari wake-up call kepada bumi pendidikan. Baginya, masyarakat tidak bisa hanya berpatok pada solusi di permukaan, seperti pengamanan bom, tetapi juga kudu melalui penyelidikan terhadap sistem pendidikan dan memperkuat budaya perbincangan kepada anak.
“Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah nan melakukan ini maka kita perlu menukik ke perihal nan lebih dalam merefleksikan kembali gimana sistem pendidikan kita dan gimana memperkuat budaya perbincangan berbareng anak-anak kita,” kata Abe.
Lebih lanjut, dia menilai budaya perbincangan kepada anak di Indonesia cukup minim. Alih-alih mengajarkan kepada anak untuk mengungkapkan apa nan dirasakan, pendidikan justru hanya berfokus kepada kurikulum nan diwajibkan oleh negara.
Anak-anak dibuat lupa langkah untuk bercerita dan beradab pekerti nan luhur, meskipun pendidikan terintegrasi menjadi dua perihal ialah Knowledge dan Value. Pendidikan Indonesia, nilai dia, condong hanya mengutamakan knowledge dibanding value.
Dikatakan oleh Abe, lingkungan family dan sekolah di Indonesia condong tidak berkesinambungan. Misalnya, seorang anak nan sedang mengalami masalah dan memerlukan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya justru dianggap bukan “tanggung jawab” pembimbing di sekolah, melainkan keluarga.
Sementara, di keluarganya tidak pernah diajarkan untuk mengelola emosi dan bercerita karena kebanyakan orang tua di Indonesia memilih untuk memberikan pidato dan membatasi anaknya kepada perihal nan normatif. “Sejak kecil, kita tidak pernah diajari mengelola emosi itu. Orangtua maunya nan normatif-normatif saja, kotbah-kotbah moral apalagi dengan dalil-dalil keagamaan kita,” ungkap Abe.
Berbalik lagi kepada konsep teknologi dan pendidikan, banyak pembimbing di Indonesia nan memanfaatkan teknologi dengan patokan nan salah. Tak jarang dari mereka hanya memberikan materi nan tersedia di internet alias lebih parahnya lagi meninggalkan semua tanggung jawabnya kepada teknologi.
Pola Asuh
Abe kembali menilai bahwa persoalan perundungan tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, tetapi juga berakar dari pola asuh dan nilai-nilai nan dibangun di dalam keluarga. Menurutnya, family merupakan ruang pertama tempat anak belajar memahami perbedaan. Ketika family kandas menanamkan sikap menghargai keberagaman, benih-benih diskriminasi dapat tumbuh sejak usia awal dan terbawa hingga ke lingkungan sekolah.
Ia meyakini masyarakat Indonesia tetap belum sepenuhnya siap hidup di tengah keberagaman, meskipun menjunjung semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam pandangannya, perundungan bukan sekadar persoalan perseorangan alias perilaku menyimpang, melainkan gambaran dari masyarakat nan belum bisa menerima perbedaan sebagai bagian alami dari kehidupan.
“Saya meyakini bahwa family kita tumbuh di dalam ketidaksiapan bakal keberagaman. Perundungan bukan persoalan nan sederhana, melainkan karikatur corak masyarakat nan tidak siap dengan keberagaman,” ujarnya.
Abe menjelaskan setiap perseorangan lahir dengan latar belakang, karakter, dan langkah pandang nan berbeda. Namun, perbedaan tersebut kerap diperlakukan sebagai dasar untuk membandingkan, menghakimi, apalagi merendahkan orang lain. Kecenderungan untuk merasa lebih unggul dibanding golongan lain, menurutnya, merupakan pola pikir nan tidak sehat dan sering kali dipelajari dari lingkungan keluarga.
Lebih lanjut, dia menyoroti tetap adanya orang tua nan secara tidak sadar menanamkan sikap diskriminatif kepada anak-anaknya. Bentuk diskriminasi tersebut dapat berupa stereotip terhadap golongan tertentu, penolakan terhadap perbedaan, hingga kebiasaan melabeli perseorangan berasas identitasnya.
Nilai-nilai semacam itu, menurut Abe, menjadi bibit awal munculnya perilaku perundungan ketika anak mulai berinteraksi di lingkungan sosial nan lebih luas.
Ia juga mengkritisi praktik-praktik nan menggunakan identitas keagamaan sebagai dasar untuk menghakimi golongan lain. Padahal, menurutnya, kepercayaan merupakan hubungan individual antara manusia dengan Tuhan nan semestinya tidak dijadikan perangkat untuk membenarkan tindakan diskriminatif maupun menginvasi ruang hidup orang lain.
“Agama merupakan urusan privasi antara manusia dengan Tuhan, semestinya jangan dijadikan perangkat untuk menginvasi pihak nan berbeda,” katanya.
Oleh lantaran itu, Abe menekankan pentingnya pendidikan mengenai keberagaman sejak usia dini. Ia beranggapan bahwa family dan sekolah perlu membangun kesadaran bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan keniscayaan nan kudu diterima dan dihargai. Menurutnya, keahlian hidup berdampingan dengan beragam latar belakang merupakan fondasi utama untuk mencegah lahirnya budaya perundungan.
Sistem Pendidikan
Abe menegaskan bahwa pembenahan sistem pendidikan tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Upaya tersebut kudu melibatkan tripusat pendidikan, ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta didukung oleh pemerintah melalui kebijakan nan memungkinkan penerapan pendekatan cura personalis.
Menurutnya, setiap anak mempunyai karakter, pengalaman, dan kebutuhan nan berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan dengan pendekatan nan seragam.
Menurut dia, pekerjaan untuk memulihkan sistem pendidikan nan sudah bobrok ini memang sangat berat andaikan tidak didukung solusi dari beragam arah. Tantangannya adalah gimana tripusat pendidikan dan pemerintah dapat membangun sistem nan lebih cura personalis.
"Tidak ada treatment nan general dalam pendidikan. Kalau ada penyeragaman, berfaedah itu corak kekerasan,” tutup dia.(H-20
English (US) ·
Indonesian (ID) ·