Manfaat Tes Kemampuan Akademik bagi Guru

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Manfaat Tes Kemampuan Akademik bagi Guru (MI/Seno)

KEBIJAKAN baru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) atas keberadaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) menuai ragam tanggapan beragam kalangan. Keberadaan TKA dilatarbelakangi kebutuhan pelaporan atas capaian akademik perseorangan siswa dari penilaian nan terstandar. Ketika tidak tersedia laporan capaian akademik perseorangan dari penilaian terstandar pada beberapa tahun terakhir, timbul beberapa persoalan secara internal nan butuh solusi konkret.

Keberadaan TKA tidak hanya berfaedah bagi siswa, tapi juga bagi guru. Bagi siswa, hasil TKA menunjukkan profil akademik nan terstandar dari setiap anak. Hasil akhir TKA tidak hanya berupa nilai, tetapi gambaran atas proses pembelajaran, termasuk kekuatan dan kelemahan siswa sendiri. Ada siswa nan lemah literasi dan numerasi, tapi rupanya siswa tersebut justru kuat pada kecakapan lain. Pada titik ini, hasil TKA menjadi bahan refleksi secara pribadi siswa, apakah strategi belajarnya efektif alias belum, maupun menjawab persoalan perlu perbaikan lain alias tidak.

SEBAGAI ALAT REFLEKSI

Bagi guru, hasil TKA nan dilakukan siswa mempunyai banyak kemanfaatan, bukan hanya mengetahui capaian pembelajaran siswa, tetapi juga bisa sebagai dasar pengambilan keputusan pembelajaran secara lebih tepat dan efektif.

Dalam pandangan penulis, ada beberapa faedah nan dapat diuraikan dari hasil TKA kepada pembimbing nan ada di Tanah Air. Pertama, hasil TKA dapat dimanfaatkan memetakan keahlian awal siswa. Hasil TKA membantu pembimbing mengetahui tingkat penguasaan kompetensi siswa baik saat sebelum maupun selama proses pembelajaran berlangsung. Guru bisa mengidentifikasi siswa berkekuatan tinggi, sedang, alias rendah. Guru pun bisa mengetahui kesiapan belajar siswa setelah mendapat hasil TKA saat memetakan keahlian awal siswa. Bahkan, dari hasil TKA pembimbing bisa petakan keahlian awal siswa serta menentukan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan kelas. Misalnya, seorang pembimbing sejarah bisa mengetahui apakah siswa betul-betul mempunyai pemahaman dasar tentang kronologi dan konsep sejarah sebelum memulai materi nan lebih kompleks.

Kedua, hasil TKA bisa menjadi dasar perencanaan pembelajaran nan terdeferensiasi. Artinya, bahwa info TKA bagi pembimbing bisa dimanfaatkan guna menyusun pembelajaran nan memperhatikan keragaman keahlian siswa. Dengan demikian, pembimbing bisa manfaatkan hasil tersebut untuk menentukan pembagian golongan belajar nan kolaboratif dan variatif, menyesuaikan tingkat kesulitan tugas sesuai keahlian siswa nan sudah teridentifikasi, memberikan pengayaan bagi siswa nan berprestasi tinggi, sekaligus memberikan pendampingan dan penguatan bagi siswa nan memerlukan bantuan. Hasil TKA nan dapat dijadikan dasar perencanaan pembelajaran nan diferensiatif bakal membikin pembelajaran menjadi lebih inklusif dan berpusat pada siswa.

Ketiga, hasil TKA dapat mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan siswa serta bisa menunjukkan kompetensi nan telah dikuasai maupun nan tetap perlu diperkuat. Mengingat info hasil TKA nan ada, maka pembimbing bisa konsentrasi pada materi nan belum dikuasai, melakukan pendalaman nan kontekstual beserta contoh kasus kehidupan sehari-hari, serta melakukan pendampingan secara inklusif. Pada akhirnya, pembimbing bisa membantu dalam penyusunan program tindak lanjut pembelajaran.

Keempat, info TKA dapat meningkatkan efektivitas asesmen formatif. Guru dapat menggunakan hasil TKA sebagai info awal untuk membandingkan perkembangan belajar siswa dari waktu ke waktu. Oleh lantaran itu, hasil TKA bisa berfaedah bagi pembimbing guna memantau kemajuan belajar. Lalu, pembimbing dapat pula mengukur efektivitas strategi pembelajaran nan selama ini digunakan. Akhirnya, pembimbing bisa menentukan intervensi nan diperlukan setelah mendapat injakan efektivitas asesmen formatif dari info hasil TKA.

Kelima, hasil TKA dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan atas kualitas pembelajaran. Apabila sebagian besar siswa memperoleh hasil rendah pada parameter tertentu, pembimbing dapat melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran. Hasil TKA bisa dijadikan injakan oleh pembimbing dalam mengevaluasi pendekatan, strategi, dan metode mengajarnya, serta meninjau kembali penggunaan media dan sumber belajar. Di sini, pembimbing dapat memperbaiki strategi pembelajaran pada pertemuan berikutnya, sehingga hasil TKA tidak hanya mengukur capaian belajar siswa, tapi juga menjadi perangkat refleksi ahli bagi pembimbing ke depannya.

Keenam, hasil TKA mendukung penyusunan program remedial dan pengayaan. Kalau mau dicermati lagi, sesungguhnya hasil TKA sangat membantu pembimbing menentukan mana siswa nan memerlukan remedial (perbaikan pembelajaran) dan pengayaan (enrichment). Berdasarkan hasil TKA nan telah diperoleh, maka program nan diberikan menjadi lebih tepat sasaran lantaran didasarkan pada info objektif.

PENGEMBANGAN PROFESIONAL

Ketujuh, komunikasi atas perkembangan hasil belajar siswa sering terlupakan. Hasil TKA siswa dapat dimanfaatkan pembimbing untuk memperkuat komunikasi dengan orangtua siswa. Guru bisa memanfaatkan info TKA sebagai bahan obrolan berbareng orangtua mengenai perkembangan akademik siswa. Bagi guru, info TKA berfaedah dalam memberikan info nan objektif terhadap perkembangan siswa. Guru juga dapat menjelaskan kebutuhan belajar siswa dari info hasil TKA. Bahkan, pembimbing mempunyai kesempatan membangun kerjasama sekolah dan family demi mendukung keberhasilan belajar dengan berpijak dari info hasil TKA.

Kedelapan, info hasil TKA bisa digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan akademik siswa. Guru dapat menggunakan info hasil TKA sebagai salah satu dasar penempatan siswa dalam program tertentu. Guru juga dapat memberi rekomendasi atas aktivitas akademik bagi siswa dan pembinaan bagi siswa nan berbakat. Bahkan, pembimbing dapat menjadi pendamping siswa nan mengalami kesulitan belajar dengan injakan info hasil TKA nan mungkin hasilnya lebih terfokus.

Kesembilan, hasil TKA menjadi info untuk perbaikan kurikulum dan pembelajaran. Rata-rata nasional hasil TKA bisa memberi gambaran mengenai efektivitas terhadap penerapan kurikulum. Sisi kemanfaatan bagi pembimbing adalah mengidentifikasi materi nan paling susah dipahami siswa sehingga bisa menentukan prioritas pengembangan pembelajaran. Bahkan, info hasil TKA juga bisa dimanfaatkan pembimbing sebagai bahan pertimbangan sekolah dan satuan pendidikan dalam perbaikan kurikulum maupun pembelajaran.

Kesepuluh, info hasil TKA mendorong pengembangan keprofesionalan berkepanjangan pembimbing nan berbasis data. Guru dapat menggunakan hasil dari TKA sebagai bagian dari praktik data driven decision making (pengambilan keputusan berbasis data). Guru semakin leluasa dalam memanfaatkan info hasil TKA untuk meningkatkan kompetensi pedagogis. Data hasil TKA juga berfaedah dalam mengembangkan budaya refleksi bagi guru. Lebih dari itu, info TKA bisa mendukung pembelajaran lebih akuntabel dan berbobot dalam mendorong pengembangan ahli pembimbing berbasis pada data.

Dengan demikian, bagi guru, memandang info hasil TKA sesungguhnya bukan sekadar nomor alias skor, melainkan sumber info krusial sebagaimana uraian di atas. Melalui pemanfaatan info hasil TKA secara optimal, para pembimbing dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga setiap siswa memperoleh jasa pendidikan nan sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. Pemanfaatan TKA secara maksimal sebetulnya berkapak pada aspek peningkatan kompetensi para pembimbing secara maksimal pula.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia