Malaysia Selangkah Lagi Jadi Negara Maju

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta -

Pemerintah Malaysia menyatakan negaranya tinggal selangkah lagi menyandang status negara berpendapatan tinggi alias negara maju menurut Bank Dunia. Saat ini, pendapatan nasional Malaysia hanya terpaut 7,1% dari periode pemisah nan ditetapkan Bank Dunia.

Mengutip Bernama, Rabu (29/7/2026), Menteri Ekonomi Akmal Nasrullah Mohd Nasir mengatakan capaian ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% pada kuartal II 2026. Di saat nan sama, inflasi tetap terkendali di level 1,9% dan tingkat pengangguran berada di nomor 3%.

Ia mengatakan momentum ini bakal dijaga dan ditingkatkan untuk menjadi produktivitas nan lebih tinggi, lapangan kerja berkualitas, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Angka-angka ini menggembirakan, tetapi melampaui periode pemisah itu bukanlah tujuan akhir. nan krusial adalah apakah pertumbuhan menghasilkan bayaran nan lebih baik, lebih banyak pekerjaan berkualitas, dan daya beli nan lebih kuat bagi masyarakat Malaysia," katanya dalam pidatonya pada peluncuran Survei Ekonomi OECD: Malaysia 2026.

Berdasarkan info pemerintah, pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita Malaysia pada 2025 mencapai RM 57.200 alias sekitar US$ 13.351. Angka tersebut tetap berada di bawah periode pemisah negara berpendapatan tinggi menurut Bank Dunia nan sebesar US$ 14.375.

Ia mengatakan pemerintah bakal mempertahankan sasaran pertumbuhan tahunan antara 4 dan 5% untuk tahun 2026 nan didukung oleh permintaan domestik, investasi swasta, ekspor, dan sektor-sektor intensif teknologi, termasuk semikonduktor dan pusat data.

Di sisi lain, Akmal mengatakan bahwa Berdasarkan Survei Ekonomi OECD: Malaysia 2026 tetap ada tantangan struktural nan tetap dihadapi Malaysia. Di mana sebanyak 35,6% pekerja berilmu tinggi tetap bekerja pada pekerjaan nan tidak sesuai dengan tingkat keterampilannya alias mengalami skills mismatch

Ia mengatakan bahwa di bawah Rencana Pembangunan Jangka Menengah ke-13 (13MP), pemerintah bakal memperkuat penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan memperluas pendidikan dan training kejuruan dan teknik (TVET), Akademi di Industri (AII), dan program peningkatan keahlian di bagian semikonduktor, kepintaran buatan, dan ekonomi digital.

"Ketika 35,6% pekerja berilmu tinggi tetap berada di pekerjaan di bawah tingkat skill mereka, kita tidak dapat mengukur keberhasilan hanya dengan jumlah lulusan saja. Pendidikan dan training kudu mengarah pada pekerjaan berbobot tinggi, produktivitas nan lebih kuat, dan bayaran nan mencerminkan keahlian pekerja," katanya.

Sementara itu, defisit fiskal federal menyempit dari 5,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2022 menjadi 3,7% pada tahun 2025.

Pemerintah tetap berkomitmen untuk mengurangi defisit menjadi tiga persen alias lebih rendah pada tahun 2030 melalui support nan lebih tepat sasaran dan pengurangan kebocoran, sembari melindungi golongan rentan.

"Kami telah mengurangi defisit dari 5,5% menjadi 3,7% dan menargetkan 3% alias lebih rendah pada tahun 2030. Konsolidasi fiskal bukan tentang menarik support dari rakyat; ini tentang memastikan bahwa setiap ringgit digunakan secara lebih efektif untuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan infrastruktur," kata menteri tersebut.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance