Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Suci Makkah dan Jeddah, kota terbesar kedua di negara tersebut pada Selasa (15/9/2026). Peringatan itu muncul setelah serangkaian serangan nan dilakukan kelompok-kelompok nan berkawan dengan Iran dan membikin Riyadh makin terseret ke dalam perang di Timur Tengah.
Peringatan keamanan tersebut kemudian dicabut dalam waktu singkat. Hingga kini, otoritas Saudi belum menyampaikan apakah ada proyektil nan sukses mencapai wilayah negara itu. Tidak ada pula golongan nan langsung mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Meski berjalan singkat, peringatan itu mencakup wilayah nan lebih luas dibandingkan peringatan sebelumnya sejak bentrok meningkat pada pekan lalu. Alarm di Makkah juga menjadi nan pertama kali terdengar selama perang berjalan di kota nan menjadi letak sejumlah tempat suci bagi umat Islam.
Kelompok Houthi nan berkawan dengan Iran dalam beberapa hari terakhir menguasai sejumlah bagian pesisir Laut Merah di Yaman. Wilayah tersebut menghadap ke Bab el-Mandeb, salah satu selat pelayaran terpenting di dunia, sehingga menimbulkan ancaman baru terhadap ekspor minyak Arab Saudi nan dialihkan dari Selat Hormuz.
Ketika pertempuran meluas ke wilayah-wilayah baru di Timur Tengah, posisi Iran dalam perang melawan Amerika Serikat nan telah berjalan selama tujuh bulan turut menguat. Konflik tersebut sebelumnya telah membikin lampau lintas kapal di Selat Hormuz menyusut drastis, sehingga pasokan minyak dunia semakin terancam.
Dalam sepekan terakhir, Houthi mengumumkan sejumlah serangan besar terhadap Arab Saudi. Salah satunya adalah serangan ke pangkalan udara pada Senin nan disebut sebagai tindakan jawaban atas serangan udara terhadap wilayah Yaman.
Arab Saudi juga menuduh golongan pro-Iran lain nan berbasis di Irak berada di kembali serangan pada Jumat. Serangan tersebut melumpuhkan salah satu jalur utama pengangkutan minyak Saudi, ialah Pipa East-West nan membentang melintasi gurun Arab.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa aliran minyak mentah melalui pipa tersebut diperkirakan dapat kembali melangkah dalam beberapa hari.
Serangan Kilat
Koalisi militer ketua Arab Saudi nan memerangi Houthi di Yaman menyatakan bahwa serangan Houthi terhadap Saudi pada Senin melukai 13 penduduk sipil.
Houthi melancarkan serangan sigap di sepanjang pesisir barat Yaman pada pekan lalu. Operasi tersebut berujung pada pengambilalihan sebuah pulau nan berada di mulut Laut Merah.
Pejabat dari pemerintahan Yaman nan didukung Arab Saudi, nan berbasis di bagian selatan negara itu dan menentang Houthi, mengatakan angkatan udara Saudi dan Yaman merespons kemajuan golongan tersebut dengan meningkatkan serangan udara terhadap target-target Houthi.
Serangan itu termasuk dilakukan di sekitar pelabuhan berhistoris Mocha di Laut Merah, nan direbut Houthi pada pekan lalu. Namun, para pejabat Yaman mengakui bahwa Houthi sekarang secara efektif menguasai nyaris seluruh garis pantai barat negara tersebut di sepanjang Laut Merah.
Pipa East-West milik Arab Saudi mempunyai panjang sekitar 1.200 kilometer dan menghubungkan ladang-ladang minyak di area Teluk dengan Laut Merah. Selama pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang nan berjalan selama enam bulan, pipa tersebut menjadi jalur ekspor utama Saudi.
Sejak pipa ditutup menyusul serangan pada Jumat, para pedagang minyak memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan dapat memangkas pasokan minyak dunia hingga 4%.
Riyadh belum mengungkapkan kapan operasi pipa bakal kembali normal. Namun, Wright mengatakan di sela-sela pertemuan daya G20 di Houston bahwa pemulihan tersebut kemungkinan "akan dihitung dalam hitungan hari".
Ia juga menyebut Arab Saudi sedang mengambil langkah untuk mengalihkan lebih banyak minyak keluar dari Selat Hormuz dengan support militer AS.
Harga Minyak Mendidih
Kehadiran baru Houthi di Bab el-Mandeb, nan berfaedah "Gerbang Air Mata", dapat makin membahayakan jalur ekspor krusial tersebut. Selat nan berada di mulut Laut Merah itu menjadi penghubung strategis antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Harga minyak telah naik sejak pekan lampau ke level tertinggi sejak Mei. Kontrak berjangka minyak mentah Brent menembus US$108 per barel pada Selasa. Sementara itu, nilai rata-rata ritel solar di Amerika Serikat, nan sensitif terhadap perkembangan politik, mencapai rekor tertinggi baru, ialah nyaris US$6,27 per galon.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa membahas memburuknya krisis di sekitar Bab el-Mandeb.
Wakil Duta Besar AS untuk PBB Jennifer Locetta mengatakan kemajuan Houthi di dekat selat tersebut menakut-nakuti keamanan daya global. Ia juga menyebut serangan maritim golongan itu telah menewaskan pelaut dan membahayakan perdagangan internasional.
Locetta mendesak Dewan Keamanan menghentikan pengiriman senjata dan support finansial dari Iran kepada Houthi, nan menurutnya melanggar embargo senjata PBB.
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil menuduh milisi Houthi sedang "memiliterisasi selat-selat internasional untuk memeras ekonomi global".
Arab Saudi telah memimpin koalisi nan memerangi Houthi sejak 2015. Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir setelah diberlakukannya gencatan senjata. Namun, pertempuran kembali pecah bulan ini ketika Houthi mendorong mundur pasukan nan berkawan dengan pemerintahan Yaman nan diakui secara internasional.
Dilema AS
Sementara itu, AS, nan membombardir Houthi selama dua bulan pada tahun lalu, sekarang menghadapi dilema. Washington kudu memilih antara membiarkan ancaman baru terhadap ekonomi dunia berkembang alias memberikan support militer kepada Saudi dengan akibat terseret ke medan perang lain nan mahal.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berjumpa dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Kairo pada Selasa. Dalam pernyataan setelah pertemuan, kepresidenan Mesir menyebut kedua pemimpin menekankan pentingnya menjamin kebebasan dan keamanan navigasi di Bab el-Mandeb serta Laut Merah.
Sehari sebelumnya, Putra Mahkota Mohammed berjumpa dengan komandan militer regional AS, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah. Ia juga menelepon Presiden Donald Trump pada pekan lampau untuk meminta support militer. Namun, support AS sejauh ini tetap terbatas pada support intelijen.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·