Makam Kucing di Sudut Senayan, Jejak Kepedulian Penyayang Hewan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Pemandangan deretan gundukan tanah mini di sudut taman Jalan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tampak sederhana. Namun bagi sebagian warga, tempat itu menyimpan kisah nan tak biasa, sebuah makam kucing nan dikelola dengan penuh ketulusan.

Nama Teguh kerap disebut sebagai sosok di kembali perawatan makam tersebut. Warga sekitar memanggilnya dengan sapaan akrab, mulai dari "Mas" hingga "Abah".

Ia dikenal sebagai pribadi nan penyayang terhadap hewan, terutama kucing. Baginya, kucing bukan sekadar hewan liar, melainkan makhluk buatan Tuhan nan juga layak diperlakukan dengan baik.

Sehari-hari, Teguh bekerja di sebuah rumah kos nan tak jauh dari letak taman. Di sela aktivitasnya, dia rutin memberi makan kucing-kucing nan berada di sekitar kos tersebut, pagi dan malam hari. Perhatian itu tidak berakhir pada kucing nan tetap hidup, tetapi juga bersambung hingga hewan-hewan itu mati.

Tak ada nan betul-betul tahu sejak kapan makam kucing itu mulai ada. Bagi sebagian warga, keberadaannya terasa sudah sangat lama. Ada nan menyebut baru sekitar separuh tahun, namun tak sedikit pula nan percaya makam itu telah ada sejak puluhan tahun lalu.

Meski waktu pastinya tak jelas, satu perihal nan pasti: makam-makam itu tetap dirawat. Setiap beberapa hari sekali, Teguh datang untuk merapikan dan meninggikan gundukan tanah agar tetap terlihat jelas, terutama setelah diguyur hujan.

Ayub (21), rekan kerja Teguh, mengaku sering diminta membantu pekerjaan tersebut. Baginya, apa nan dilakukan Teguh bukan perihal mudah, apalagi jika kudu dilakukan sendiri.

“Seminggu dua kali ditinggiin, biar kelihatan. Ini lantaran hujan jadi nggak kelihatan. Kadang disuruh bantu ninggiin, lantaran jika beliau sendiri dan tanahnya keras, susah. Dulu sih sempat ada papan-papannya, cuman sekarang udah nggak boleh,” ucapnya saat ditemui Liputan6.com di lokasi, Kamis (8/4/2026).

Namun seiring waktu, ruang di taman itu semakin terbatas. Gundukan-gundukan mini sekarang nyaris memenuhi seluruh area nan tersedia. Bahkan, menurut Ayub, makam tersebut sudah tidak lagi bisa menerima "penghuni" baru.

“Makam sudah penuh, sudah nggak nerima dan jarang juga nan kirim kesini. Terakhir terima sih minggu lalu,” tambahnya.

Makam Kucing Tak Ganggu Warga

Kepedulian Teguh terhadap kucing juga diingat oleh penduduk sekitar. Supandi (66), salah satu warga, menyebut Teguh tak pernah setengah-setengah dalam merawat kucing liar di lingkungan tersebut.

“Mas Teguh mah nggak tanggung-tanggung ngasih makannya. Pakai makanan kucing nan basah, sampai ke pelet-pelet nan kering itu. Kalau ada nan sakit juga langsung dibawa ke sana, diurusin,” ucap Supandi.

Bagi penduduk lain, keberadaan makam kucing ini bukanlah sesuatu nan mengganggu. Justru sebaliknya, ada nan melihatnya sebagai perihal unik di tengah hiruk-pikuk kota.

Nanang Qosim (49), pedagang roti di Jalan Senayan, menilai makam tersebut tidak menimbulkan masalah bagi aktivitas sehari-hari warga.

“Padahal mah kenapa nggak boleh ya? nggak usik aktivitas sama sekali, malah unik jika kata saya mah, soalnya jarang,” ucap Nanang.

Di tengah padatnya kota, makam kucing itu menjadi penanda sederhana tentang kepedulian, bahwa apalagi makhluk mini nan kerap terabaikan pun tetap mempunyai tempat untuk dikenang.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita