Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin mengingatkan calon pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) agar mengutamakan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok. Menurutnya, sikap tersebut menjadi salah satu syarat agar pemimpin bisa menjalankan misi NU.
Hal itu disampaikan Ma’ruf Amin seusai menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8).
Ma’ruf mengatakan pemimpin NU ke depan kudu mempunyai keahlian melakukan al-ishlah wal ishlah. Salah satu bentuknya adalah mendamaikan kelompok-kelompok nan bentrok dan menjaga persatuan di dalam organisasi.
"Ishlah pertama itu mendamaikan semua golongan nan bentrok lantaran tanpa persatuan tidak mungkin. Dan kudu mendahulukan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok. Itu baru misi NU bisa diemban," jelas Ma’ruf.
Menurutnya, kepentingan organisasi kudu menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan kepemimpinan NU. Ia menilai pemimpin nan tidak bisa menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi alias golongan bakal kesulitan membawa NU menjalankan misinya.
Selain itu, Ma’ruf menilai pemimpin NU kudu mendorong peningkatan kualitas dalam kehidupan berorganisasi. Ia meminta keterlibatan penduduk NU dibangun atas dasar pemahaman terhadap nilai, khittah, dan arah perjuangan organisasi.
"Kedua agar ber-NU itu lebih pada kualitas ya, artinya pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan lantaran dorongan. Saya nyebutnya ala bashirah bukan ala bisyarah," ujarnya.
Ma’ruf juga menekankan pentingnya keahlian pemimpin untuk melakukan perbaikan dan mengembalikan NU pada jalur nan sesuai dengan Qanun Asasi.
"Kemudian juga memperbaiki langkah-langkahnya, memperbesar langkah-langkah, keahlian dua perihal itu, Al-ishlah wal ishlah. Kalau tidak, tidak bakal bisa mengembalikan NU kepada khittahnya sesuai dengan Qanun Asasi. Saya kira itu," kata Ma’ruf.
Terkait Muktamar ke-35 NU dan adanya usulan agar calon nan berkonflik tidak maju, Ma’ruf menyerahkan keputusan tersebut kepada forum muktamar. Dia juga tidak menyebut nama calon tertentu nan dinilainya berpotensi memimpin NU. Ia mengatakan kriteria utama pemimpin adalah keahlian melakukan perbaikan dan mendamaikan kekuatan nan ada di dalam organisasi.
"Yang krusial dia punya keahlian melakukan perbaikan, mendamaikan kekuatan, melakukan perbaikan, mengembalikan pada jalur nya. Kalau tidak punya keahlian tidak bakal membawa perbaikan,” ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·