Jakarta -
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan berbareng personil DEN Chatib Basri, Septian Hario Seto, dan Firman Hidayat menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta. Luhut mengungkapkan isi pembahasan pertemuan tersebut.
Adapun Luhut dkk menyambangi Istana pada pukul 15.35 WIB. Luhut mengatakan pertemuan itu membahas sejumlah rumor ekonomi, termasuk pembenahan tata kelola MBG dan optimasi digitalisasi pelayanan publik oleh pemerintah alias government technology (govtech).
"Setelah kami dipanggil oleh Presiden, saya kira penjelasan pertama adalah hasil survei nan dilakukan oleh Dewan Ekonomi mengenai penyelenggaraan makan bergizi nan kita lakukan di 800 titik, jadi betul-betul dengan profesional. Jadi kita harus, kami di DEN menjaga betul kredibilitas kami dan itu kami laporkan ke Presiden detail," kata Luhut usai pertemuan, Selasa (9/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luhut menyampaikan pihaknya membicarakan mengenai optimasi govtech berbasis AI. Menurutnya, info nan dimiliki.
"Tadi kami laporkan mengenai government technology lantaran sudah 80% government technology ini terkoneksi dan pertama kali juga 8 kementerian/lembaga sepanjang Republik sekarang mereka datanya jadi satu, tanggal 1 Juni kemarin. Jadi sebenarnya tanggal 1 Juni kemarin itu ada peristiwa besar jika menurut kami lantaran datanya menjadi satu berbasis AI," kata Luhut.
"Jadi pemerintahan Presiden Prabowo ini kelak govtech ini bakal menjadi satu bagian nan paling penting. Kenapa, lantaran semua info kelak bakal terkumpul dengan baik dan kita tidak ada nan bisa lari dari situ," sambungnya.
Anggota DEN Septian Hario Seto mengatakan pihaknya telah melakukan survei independen terhadap penyelenggaraan MBG secara random sampling. Survei itu untuk mendalami ekosistem rantai pasok.
"Jadi satu perihal tadi nan kami laporkan kepada Bapak Presiden adalah hasil dari survei MBG nan kami lakukan secara independen. Kami biayai sendiri mengenai dengan terutama kami mau memandang apakah ada ekosistem supply chain baru nan terbentuk ketika MBG program ini dijalankan," ujarnya.
Seto menjelaskan hasil survei menunjukkan 86,9% dari SPPG nan ada mempunyai satu pemasok kecil.
"Jadi ini bisa digambarkan, merepresentasikan dari total keseluruhan populasi SPPG nan ada. Hasil pertama nan kami memandang positif adalah bahwa ada 86,9% dari SPPG nan ada saat ini itu paling tidak mempunyai satu supplier kecil. Jadi ini adalah UMKM nan memang ada di dekat letak dari SPPG tersebut," ujar Seto.
"Kalau dihitung secara rata-rata ada 3 UMKM nan digandeng oleh SPPG ini. Jadi ini membuktikan bahwa program MBG ini selain tadi mencapai tujuan Bapak Presiden untuk perbaikan gizi dari anak-anak Indonesia, ini juga menciptakan ekosistem supply chain nan baru. Nah, nan lebih menarik ada sekitar 64-65% sektor UMKM-nya ini berada di dalam satu kabupaten di mana SPPG itu berada," imbuhnya.
(fca/lir)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·