KPK memeriksa mantan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Hilman Latief. Hilman diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi kuota haji.
“Benar. Hari ini, interogator menjadwalkan pemeriksaan terhadap saksi Saudara HL selaku Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah,” ujar ahli bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (24/6).
Budi lebih lanjut mengatakan bahwa Hilman telah tiba di Gedung Merah Putih KPK sejak pagi hari untuk melakukan pemeriksaan.
“Yang berkepentingan sudah tiba di Merah Putih sekitar pukul 09.00. Saat ini interogator tetap melakukan pemeriksaan,” lanjut Budi.
Budi menjelaskan, pemeriksaan Hilman hari ini mengenai kapasitasnya sebagai Dirjen PHU. Keterangan Hilman dibutuhkan untuk melengkapi berkas investigasi mengenai empat tersangka nan telah ditetapkan dalam kasus ini.
“Dalam kapasitasnya sebagai Dirjen PHU, interogator tentunya memerlukan keterangannya untuk melengkapi berkas investigasi atas empat tersangka dalam perkara mengenai pengelolaan kuota haji unik ini,” kata Budi.
Belum ada keterangan dari Hilman Latief mengenai pemeriksaannya tersebut.
Kasus pengaturan kuota haji ini terjadi pada 2023 dan 2024. Kuota haji diduga diatur sedemikian rupa dengan hadiah fee.
Praktik permintaan duit diduga dilakukan kepada Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) namalain biro travel haji. Kemudian biaya itu dibebankan para PIHK kepada jemaah calon haji unik di dalam nilai paket.
Dalam perkembangan penanganan kasus ini, KPK telah resmi menetapkan dan menahan empat orang tersangka nan dibagi ke dalam dua klaster. Dari klaster penyelenggara negara, tersangka terdiri atas mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan mantan Staf Khusus Menteri Agama Ishfah Abidal Aziz namalain Gus Alex nan diduga menerima aliran suap.
Sementara dari klaster swasta selaku pemberi suap, KPK menetapkan Direktur Operasional PT Makassar Toraja (Maktour Travel) Ismail Adham serta Komisaris PT Raudah Eksati Utama sekaligus Ketua Umum Asosiasi Kesthuri Asrul Azis Taba.
Gus Yaqut dan Gus Alex diduga berkedudukan besar dalam pengaturan kuota haji tersebut. KPK menyebut ada sejumlah fee nan mengalir pada keduanya.
Diduga, atas pengaturan kuota haji unik tambahan tersebut ada pemberian uang. KPK menyebut Ismail Adham diduga memberikan USD 30 ribu kepada Gus Alex serta ke Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, USD 5.000 dan SAR 16.000.
Selain itu, KPK menyebut Asrul diduga memberikan duit kepada Gus Alex sebesar USD 406.000. Atas pemberian itu, KPK menyebut 8 Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) nan terafiliasi dengan Asrul Azis Taba juga memperoleh untung tidak sah pada tahun 2024 dengan total sebesar Rp 40,8 miliar.
Gus Yaqut membantah soal adanya aliran duit kepadanya sebesar USD 30 ribu. Hal itu disampaikan Gus Yaqut usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Selasa (31/3).
"Enggak ada," kata Gus Yaqut.
Sementara, Gus Alex juga mengaku telah menyampaikan banyak perihal ke penyidik. Hal tersebut diharapkannya bisa mengungkap kebenaran. Gus Alex juga menegaskan tak ada perintah nan didapatnya dari Gus Yaqut dalam dugaan rasuah ini.
Belum ada keterangan dari Ismail Adham dan Asrul Azis Taba mengenai penetapan tersangka ini. Hilman Latief pun belum berkomentar soal penyebutan KPK mengenai aliran duit tersebut.
PT Maktour pun belum berkomentar mengenai penyebutan soal untung terlarangan tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·