Lubang HitamTernyata Bisa Bersendawa setelah Menyantap Bintang

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Lubang HitamTernyata Bisa Bersendawa setelah Menyantap Bintang Ilustrasi lubang hitam(Magnific)

LUBANG hitam supermasif dikenal sebagai objek paling rakus di alam semesta. Ketika sebuah bintang terlalu dekat dengan barang raksasa ini, tarikan gravitasinya nan sangat kuat dapat merobek bintang tersebut menjadi serpihan gas sebelum akhirnya ditelan. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa proses tersebut rupanya tidak selalu berhujung setelah "jamuan makan" selesai.

Mengutip dari laman Space, para astronom menemukan bahwa sebagian lubang hitam supermasif tetap menunjukkan aktivitas kuat berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah menghancurkan sebuah bintang. Aktivitas itu muncul dalam corak semburan gelombang radio nan oleh para intelektual dianalogikan sebagai "sendawa kosmik".

Temuan tersebut dipaparkan oleh astronom dari University of Arizona, Kate Alexander. Hasil penelitian terbaru itu juga telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal.

Bintang Dihancurkan

Fenomena nan diteliti para astronom dikenal sebagai Tidal Disruption Event (TDE). Peristiwa ini terjadi ketika sebuah bintang melintas terlalu dekat dengan lubang hitam supermasif nan berada di pusat galaksi.

Akibat tarikan gravitasi nan ekstrem, bintang tersebut tercabik-cabik menjadi aliran gas panjang menyerupai mi spaghetti dalam proses nan disebut spaghettification. Material bintang nan hancur kemudian membentuk cakram gas di sekitar lubang hitam sebelum sebagian besar akhirnya jatuh dan ditelan.

TDE tergolong kejadian nan sangat langka. Para astronom memperkirakan peristiwa ini hanya terjadi sekitar satu kali dalam 100.000 tahun di sebuah galaksi. Karena itu, para peneliti kudu mengawasi banyak galaksi sekaligus untuk menemukan kejadian tersebut.

Selama bertahun-tahun, pengamatan terhadap TDE biasanya dihentikan andaikan tidak ditemukan sinyal radio dalam satu tahun pertama. Akibatnya, aktivitas jangka panjang setelah peristiwa penghancuran bintang tetap belum banyak dipahami.

Pandangan itu mulai berubah setelah para astronom melakukan pengamatan radio jangka panjang menggunakan teleskop Karl G. Jansky Very Large Array (VLA) di New Mexico, Amerika Serikat.

Selama enam tahun terakhir, para peneliti memantau puluhan TDE di galaksi-galaksi terdekat. Hasil penelitian sebelumnya nan dipublikasikan pada 2024 menunjukkan bahwa sekitar 40 persen TDE rupanya memancarkan gelombang radio beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah peristiwa penghancuran bintang terjadi.

Temuan tersebut mengejutkan para intelektual lantaran emisi radio muncul ketika sinar tampak dari peristiwa itu sudah lama meredup. Dengan kata lain, lubang hitam tetap menunjukkan aktivitas krusial meski tampaknya telah selesai melahap bintang.

Menurut Alexander, para astronom sebelumnya berakhir mengawasi terlalu sigap sehingga melewatkan beragam kejadian menarik nan justru terjadi pada tahap akhir.

Sendawa Kosmik

Untuk memahami penyebab munculnya semburan radio tersebut, tim peneliti menganalisis 91 kandidat TDE nan ditemukan antara tahun 1990 hingga 2019. Dari jumlah tersebut, mereka memilih 31 peristiwa dengan info paling komplit untuk diteliti lebih mendalam.

Para peneliti menggabungkan info radio dari teleskop VLA dengan pengamatan optik, ultraviolet, dan sinar-X. Langkah ini memungkinkan mereka menghitung seberapa sigap lubang hitam mengonsumsi material bintang pada beragam tahap waktu.

Hasilnya menunjukkan bahwa semburan radio terlambat muncul pada dua kondisi nan bertolak belakang. Kondisi pertama terjadi ketika lubang hitam sedang melahap gas dalam jumlah besar dengan sangat cepat. Kondisi kedua terjadi ketika laju konsumsi material sudah melambat drastis. Dalam kedua situasi tersebut, tidak semua material bintang sukses ditelan oleh lubang hitam. Sebagian gas justru terlontar keluar dan berbenturan dengan materi nan berada di sekitarnya. Tabrakan itu menghasilkan gelombang kejut nan mempercepat partikel-partikel berenergi tinggi dan memunculkan emisi radio nan dapat dideteksi teleskop. Fenomena inilah nan kemudian disebut para astronom sebagai "sendawa kosmik" alias corak gangguan pencernaan setelah lubang hitam menyantap bintang. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia