Usaha barbershop di Cirebon ikut terdampak pemadaman listrik bergilir.(MI/NURUL HIDAYAH)
PEMADAMAN listrik bergilir nan terjadi di Cirebon sejak pekan lalu dikeluhkan pelaku upaya kecil.
Di antara mereka adalah pemilik pangkas rambut The Djawara Barbershop, Kholid Mawardi.
“Pemadaman listrik berulang kali berakibat pada penurunan omset kami,” tutur Kholid, Senin (22/6).
Tak tanggung-tanggung, dia mengaku penurunannya apalagi mencapai 50%.
Durasi meninggal lampu di tiap wilayah berbeda-beda. Namun, ada wilayah nan mengalami pemadaman ekstrem hingga 5,5 jam, tepatnya mulai pukul 13.00 hingga 18.30 WIB.
“Saya punya tiga cabang, dua di Kota Cirebon dan satu di Kabupaten Cirebon. Durasi meninggal lampu berbeda-beda tapi nan ektrem itu hingga 5,5 jam,” tutur Kholid.
Pemadaman listrik bergilir membikin operasional barbershopnya terganggu baik dari teknis maupun kenyamanan. "Mesin cukur kudu di-charge baterainya. Konsumen juga merasa panas saat pemadaman sehingga mereka tidak nyaman," keluhnya.
Listrik nan meninggal membikin ruangan menjadi panas dan gelap. Pelanggan pun enggan menunggu lantaran tidak tahu sampai kapan listrik bakal menyala kembali.
“Mereka memilih pulang dan membatalkan niat untuk pangkas rambut,” tutur Kholid.
Namun dia juga mengaku bahwa ada juga konsumen nan tetap memaksakan pangkas rambut, lantaran baterai di mesin cukur tetap mencukupi. “Namun sepanjang proses mereka mengeluh lantaran gerah, keringatan, dan tidak nyaman," tandasnya.
Kholid berambisi pemerintah dan pihak mengenai bisa segera menyelesaikan persoalan pemadaman listrik bergilir ini. “Kami mau upaya kami tidak terganggu lagi gara-gara pemadaman listrik ini,” harapnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·