Libanon Jadi Titik Panas yang Memecah Trump dan Netanyahu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Libanon Jadi Titik Panas nan Memecah Trump dan Netanyahu Benjamin Netanyahu dan Donald Trump(White House)

HUBUNGAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan kembali memanas. Hal itu menyusul perbedaan pandangan mengenai operasi militer Israel di Libanon nan dinilai berpotensi mengganggu proses negosiasi antara Washington dan Teheran.

Menurut laporan Axios nan mengutip dua pejabat Amerika Serikat dan satu sumber lain nan mengetahui isi pembicaraan tersebut, Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu dalam percakapan telepon nan berjalan pada Senin (1/6).

Dalam percakapan itu, Trump disebut memperingatkan Netanyahu bahwa ancaman Israel untuk memperluas serangan hingga ke Beirut dapat memperburuk posisi Israel di mata bumi internasional.

Dua sumber nan mengetahui isi pembicaraan tersebut mengatakan Trump apalagi mengingatkan Netanyahu mengenai support nan selama ini diberikan Washington, termasuk saat pemimpin Israel itu menghadapi proses norma mengenai dugaan kasus korupsi di negaranya.

"Anda betul-betul gila. Anda sudah dipenjara jika bukan lantaran saya. Saya sedang menyelamatkan anda. Sekarang semua orang membenci anda. Semua orang membenci Israel lantaran ini," kata Trump kepada Netanyahu nan terdengar oleh pejabat AS itu.

Sumber lain nan mengetahui percakapan tersebut mengatakan Trump menunjukkan kemarahan nan luar biasa selama pembicaraan berlangsung.

Trump sangat marah dan pada satu titik berteriak kepada Netanyahu, "Apa nan kau lakukan, brengsek?"

Menurut para pejabat AS, Trump memahami bahwa Hizbullah terus melancarkan serangan terhadap Israel dan mengakui kewenangan Israel untuk mempertahankan diri. Namun, dalam pandangannya, respons militer nan dilakukan Israel dalam beberapa hari terakhir dinilai tidak proporsional.

Selain ancaman serangan terhadap Beirut, Israel juga memperluas operasi darat di wilayah Libanon Selatan nan menjadi pedoman utama Hizbullah.

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan Trump cemas terhadap meningkatnya jumlah korban sipil di Libanon. Ia juga disebut tidak setuju dengan tindakan militer nan menghancurkan gedung dalam skala besar hanya untuk menargetkan seorang komandan Hizbullah.

Meski beberapa kali terlibat perbedaan pandangan, terutama mengenai perang dengan Iran, Trump dan Netanyahu selama ini tetap menjaga koordinasi nan erat dalam beragam rumor strategis.

Namun, salah seorang pejabat AS menggambarkan percakapan terbaru tersebut sebagai salah satu komunikasi paling tegang antara kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden.

Usai percakapan itu, Trump menulis di platform Truth Social bahwa proses negosiasi dengan Iran tetap berjalan dan menunjukkan perkembangan nan cepat.

Sementara itu, seorang pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa negaranya saat ini tidak berencana menyerang sasaran Hizbullah di Beirut.

Meski demikian, Netanyahu secara terpisah merilis pernyataan nan menegaskan bahwa dirinya telah memberi tahu Trump mengenai sikap Israel terhadap Libanon.

Menurut Netanyahu, Israel bakal menyerang sasaran di Beirut andaikan Hizbullah tidak menghentikan serangannya terhadap wilayah Israel. Di saat nan sama, operasi militer di Libanon Selatan bakal tetap berlanjut. "Posisi kami tetap sama," tulis Netanyahu.

Di sisi lain, pejabat AS kedua nan mengetahui percakapan tersebut menilai Trump sukses memberikan tekanan besar kepada Netanyahu selama pembicaraan berlangsung. "Bibi mengatakan, Oke, oke, pastikan semuanya dibereskan," kata pejabat itu.

Hingga kini, instansi Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan nan dipublikasikan Axios tersebut.

Sumber nan sama juga mengungkapkan bahwa memorandum nan sedang dirundingkan antara Amerika Serikat dan Iran mencakup penghentian bentrok di Libanon. Isu inilah nan disebut menjadi salah satu sumber ketegangan utama dalam percakapan Trump dan Netanyahu.

Di tengah proses diplomasi nan tetap berlangsung, Iran tetap bersikeras agar gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah menjadi bagian dari kesepakatan nan lebih luas untuk mengakhiri bentrok regional.

Bahkan pada Senin (1/6), Teheran menakut-nakuti bakal meninggalkan meja perundingan andaikan operasi militer Israel di Libanon terus bersambung dan tidak ada langkah nyata menuju penghentian pertempuran. (Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia