Jakarta -
Murid-murid kelas 3 SD Sekolah Global Sevilla unjuk kebolehan dalam pagelaran paduan bunyi pada arena Festival Merah Putih 2026. Langkah ini merupakan bagian dari upaya sekolah mendukung ekspresi dan talenta anak sejak dini.
Festival ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati, Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Jago Anggoro, serta Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif Romy Astuti.
Ketua Yayasan Budi Pekerti Luhur, Andrew J. Jules Soebali mengatakan makna kemerdekaan dalam pendidikan perlu datang dalam pengalaman secara langsung dan dapat dirasakan anak di sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pendidikan mempunyai peran krusial dalam mempersiapkan generasi nan kelak melanjutkan perjalanan Indonesia. Oleh lantaran itu, kemerdekaan dalam pendidikan kudu melangkah seiring dengan kesadaran serta tanggung jawab.
"Dalam konteks pendidikan, kami memaknainya sebagai tanggung jawab untuk memastikan anak dapat merasakan kemerdekaan melalui kesempatan untuk belajar, bertanya, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan potensinya, sekaligus memahami tanggung jawab dari setiap pilihan. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang bagi anak untuk bertumbuh menjadi manusia nan sadar terhadap dirinya, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya," ujar Andrew saat ditemui pada aktivitas Festival Merah Putih di Bimasena The Dharmawangsa Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Kepala Sekolah Global Sevilla, Purborini Sulistiyo, menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam Festival Merah Putih menjadi wadah bagi siswa untuk menerapkan pengetahuan nan mereka pelajari di luar lingkungan kelas (beyond the class).
"Kita juga kadang memberi kesempatan pada mereka untuk tampil di luar. Ini kan juga salah satu kesempatan mereka untuk belajar gimana mereka tampil di muka umum, meskipun orang tuanya juga menonton tapi ada banyak juga orang lain nan mungkin asing buat mereka. Jadi mereka nggak jago kandang, tampilnya hanya di sekolah aja," jelas Rini.
Meski menerapkan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran sehari-hari, siswa-siswi Global Sevilla tetap dibiasakan membawakan lagu-lagu nasional Indonesia dan mengenal permainan tradisional.
Menurut Rini, arena ini juga menjadi sarana melatih metode mindfulness nan diajarkan oleh sekolah, seperti melatih anak untuk datang utuh (be present), menjaga fokus, menyadari perasaan, serta menikmati momen.
"Dalam keseharian mereka, mereka diajar untuk selalu be present, selalu datang utuh di setiap apa nan mereka lakukan, jadi mereka bisa lebih fokus. Mereka mudah untuk diajak kembali lagi, 'Ayo yuk kita tarik napas, kita konsentrasi mengerjakan apa'. Mereka juga enjoy the moment," tambahnya.
Apresiasi dari Orang Tua Murid
Foto: Global Sevilla
Langkah sekolah memadukan aspek akademik, pengembangan karakter, serta keberanian tampil di depan publik mendapat sambutan hangat dari para wali murid. Ibu Lorens, salah satu orang tua siswa, menilai kesempatan tampil di panggung umum ini sangat positif untuk tumbuh kembang anak di luar aspek akademis.
"Saya sebagai orang tua memandang ini sebagai sesuatu nan sangat positif tentunya. Selain hanya konsentrasi dari sisi akademik, sekolah juga menunjukkan adanya konsentrasi nan di luar akademik. Tentunya ini merupakan kesempatan untuk anak-anak mini ini bisa menumbuhkan kepercayaan diri," ungkap Lorens.
Lorens juga menambahkan bahwa penerapan prinsip mindfulness dari sekolah membantu anak-anak mengelola rasa gugup (nervous) saat kudu berhadapan dengan panggung publik. Selain itu, Lorens juga berambisi kesempatan seperti ini bisa terus datang untuk memberikan pengalaman nyata bagi para siswa di luar lingkungan sekolah.
"Biasanya jika nan di luar sekolah ada sedikit nervous-nya. Tapi mungkin itu salah satu gunanya mindfulness juga ya, mereka juga be present. Kalau nervous saya bilang ya nggak apa-apa, nervous itu wajar. nan krusial kan latihan, kelak berikan nan terbaik saja," pungkasnya.
(anl/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·