Lewat ATENSI Kemensos, Penyandang Disabilitas Psikososial Hasilkan Karya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Penyandang disabilitas psikososial di Jombang menghasilkan karya nan berbobot ekonomi, setelah menjalani pembinaan melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) nan digagas Kementerian Sosial.

Aroma gurih telur asin nan baru matang menyeruak dari perspektif ruang pemberdayaan Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Tak jauh dari sana, jemari beberapa penyandang disabilitas tampak lincah menganyam tas, sementara nan lain sibuk mengolah serabut kelapa menjadi sapu siap jual.

​Produk-produk ini bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa lewat kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan, keterbatasan bisa menjelma menjadi karya nan berbobot ekonomi.

​Pemandangan penuh semangat ini disaksikan langsung oleh Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf. Hadir dalam agenda hormat sosial DWP Kemensos berbareng Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta, Fatma menyambangi setiap meja produksi, menyapa para penerima manfaat, dan menyuntikkan motivasi kepada family pendamping.

​Salah satu titik nan dikunjungi Fatma adalah Pos Kesehatan Jiwa (Poskeswa) Mergo Waras, bimbingan Puskesmas Dukuhklopo. Bersama Poskeswa Mantap Jiwa di Kecamatan Sumobito, wadah ini menjadi ruang inklusif bagi penyandang disabilitas psikososial.

Para Tersayang

Di sini, para penyandang disabilitas psikososial mendapatkan rehabilitasi sosial, terapi, training keterampilan, hingga pendampingan upaya mandiri.Menariknya, di tempat ini mereka tidak lagi disebut dengan label klinis nan kaku, melainkan disapa hangat sebagai “para tersayang”—sebuah akronim dari Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang.

​“Bagi saya, julukan itu mengingatkan kita semua bahwa setiap orang memerlukan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika sedang menghadapi masa-masa susah dalam hidupnya,” tutur Fatma penuh empati.

Fatma menegaskan bahwa maknanya tidak boleh berakhir sebatas julukan. Istilah ini kudu menjadi pengingat bagi publik, bahwa tidak boleh ada lagi penduduk nan terabaikan hanya lantaran kondisi kesehatan jiwa alias disabilitasnya.

“Mereka adalah bagian utuh dari masyarakat nan mempunyai kewenangan setara untuk bekerja, belajar, berkarya, dan hidup bermartabat,” tambahnya.

​

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑